3 tahun lalu · 438 view · 2 min baca · Hukum 100_3034.jpg

Kematian yang Adil

Freddy mati beberapa hari lalu. Keadilan menuntutnya meregang nyawa. Ia bukan yang terakhir. Pembunuhan-pembunuhan adil yang lain masih akan terjadi. “Tidak dibatalkan, hanya ditunda,” kata seorang yang punya kuasa dalam perkara ini. Dengan ringan.

Freddy telah banyak melakukan ketidakadilan. Namun adilkah kematiannya?

Tuntutan pertanyaan itu semakin gawat ketika Haris Azhar angkat bicara, mengungkap bau busuk dalam tubuh mereka yang merasa diri suci. Serentak barisan bersenjata menuduhnya melakukan “pencemaran nama baik.”

Kita tertegun mendengar semua itu. Debat memang panas, namun terasa hampa. Orang dapat mudah mengelak, seraya menghunus pasal hukum dengan begitu gesit. Seperti itukah rupa keadilan, yang telah meminta Freddy meregang nyawa?

Nurani mestinya berontak. Hidup seorang pendosa pun tak pantas dipertaruhkan dalam sistem hukum yang masih terlalu mudah bercela dan bercelah. Tak perlu seorang Koordinator Kontras untuk mengungkapnya. Kita orang biasa pun mengerti, seorang aparat dapat dengan mudah menukar ganja dengan rumput kering pada malam sebelum barang bukti itu musnah, dan darinya ia meraup rupiah.

Betapa ringkihnya keadilan. Pilar-pilarnya yang kokoh seringkali hanya dalih bagi fondasinya yang rapuh. Kita semakin ragu. Sungguhkah keadilan, salah satu sifat insani sekaligus ilahi itu, pernah minta supaya hidup, sesal, dan harapan manusia berakhir di hadapan regu tembak?

“Saya percaya pada keadilan,” kata Albert Camus, “tetapi saya akan membela ibu saya di hadapan keadilan.” Keadilan akan terus tampak mempesona dan heroik sampai tiba-tiba ia minta supaya orang tercinta disingkirkan. Tetapi Camus sesungguhnya tak hanya sedang bicara tentang ibunya.

Kalimat yang diucapkannya dalam hiruk-pikuk revolusi Aljazair itu mengena pada jantung perkara: mana yang sejatinya pantas kita bela, prinsip abstrak atau hidup manusia berdarah dan berdaging? Saat itulah kita baru sanggup mengerti, keadilan bukanlah sesuatu yang diraih dengan menumpahkan darah. Darah siapapun.

Keadilan positif, keadilan dalam artinya yang tepat dan baku, ini atau itu, nyaris tak ada. Suatu rancangan yang sangat masuk akal dalam kitab filsafat politik atau di meja diskusi para negarawan bisa menjadi sangat tidak masuk akal ketika diterapkan benar-benar. Merancang cetak-biru keadilan, lalu mentah-mentah menerapkannya, kerap berujung pada totalitarianisme, kanan maupun kiri, keras maupun lunak.

Sisi-sisi gelap itulah yang barangkali membuat Dewi Keadilan tak pernah membuka penutup matanya. Mata yang tertutup itu bisa berarti keteguhan tekad, sikap tak pilih kasih, namun bisa juga berarti keraguan: Sang Dewi tak mau terlihat meneteskan air mata, sebab ia pun tak pernah tahu, kepada siapa pedang dan timbangannya memihak.

Terkutuklah kita karena tak pernah tahu apa itu keadilan! Namun dalam kutukan ini pun kita masih punya harapan untuk memerangi ketidakadilan. Sementara keadilan tetap samar, dan akan selalu begitu, ketidakadilan selalu terang-benderang, menggoncang nurani.

Freddy mungkin memang terlalu berbahaya, tetapi bukan pertama-tama bagi generasi muda Indonesia. Ia berbahaya justru bagi para mafia penegak hukum yang selama ini turut diuntungkan oleh bisnis narkoba. Mungkin itu sebabnya kematiannya begitu rapi. Dan tampak adil.

Artikel Terkait