Friedrich Wilhelm Nietzsche atau yang sering dikenal dengan nama Nietsche saja adalah seorang filsuf jerman. Lahir pada masa revolusi proletarian. Filsuf yang satu ini booming karena keberanianya dalam menyatakan keberatan akan keputusan-keputusan dari gereja Kristen pada waktu itu.  Salah satu quote nya yang paling terkenal adalah “Tuhan telah mati”. Kebanyakan dari umat beragama saat ini mencap Nietsche dengan sebutan “Atheis sejati” karena quote yang hanya satu kata itu.

Dalam bukunya yang berjudul “the gay science” (ilmu kebahagiaan) Nietzche bercerita mengenai orang gila yang berteriak-teriak dalam kerumunan mengenai kematian Tuhan,

Tidakkah kamu telah mendengar seorang gila yang menyalakan lentera di pagi hari yang cerah, berlari menuju tempat kerumunan, dan terus-menerus berteriak: “ Aku mencari Tuhan! Aku mencari Tuhan!” – Ketika banyak orang yang tidak percaya pada Tuhan berdiri di sekelilingnya kemudian, dia mengundang gelak tawa. Apakah dia orang yang hilang? Tanya seseorang. 

Apakah dia telah tersesat seperti anak kecil? Tanya yang lainnya. Atau dia sedang bersembunyi? Apakah dia takut pada kita? Apakah dia orang yang baru saja mengadakan pelayaran? Seorang perantau? — Maka mereka saling bertanya sinis dan tertawa.

Orang gila itu melompat ke tengah kerumunan dan menatap mereka dengan mata tajam. “Ke mana Tuhan?” dia berteriak: “Aku akan menceritakan pada kalian, Kita telah MembunhNya — Kalian dan aku. Kita semua adalah pembunuhnya… Tuhan sudah mati. Tuhan terus mati…”

Selama ini kita hanya memahami Tuhan telah mati tanpa mengetahui siapa yang telah membunuh-Nya. Dalam cerita diatas, disebutkan bahwa yang membunuh Tuhan adalah kita sebagai umat manusia. Bagaimana mungkin manusia dengan segala kelemahanya bisa membunuh Tuhan dengan segala kekuatan-Nya. Nietzsche tidak membentuk sebuah proyek untuk membunuh Tuhan. Ia menemukan Tuhan telah mati dalam jiwa orang-orang yang hidup pada zamanya.

Agama Kristen yang menjadi kepercayaanya selama bertahun-tahun ternyata telah mengecewakanya. Perjanjian baru sudah dikompromikan dan sejak dari zaman Paulus sampai ke Councils (Dewan), bersikap tunduk dan patuh pada kesetiaan yang cenderung pengabaian perbuatan.

Gereja pada masa itu cenderung berpihak pada hal-hal yang bersifat duniawi. Bahkan gereja menggunakan segala cara (termasuk perang) untuk memaksakan agamanya terhadap penganut kepercayaan lain. Sebut saja penjelajahan tantara-tentara Belanda, Inggris dan Portugis ke Benua Asia dengan menjunjung slogan Gold, Glory and Gospel.

Entah tujuan utamanya menyebarkan agama, atau agama hanya sebagai kedok untuk merampas kekayaan Bangsa Asia. Hal ini sangat jauh dari kesan moralitas apalagi humanisme. “Setiap gereja adalah batu yang digelindingkan ke kuburan Tuhan-manusia (man-god), ia mencoba menghalangi kebangkitan dengan kebenaran” kata Nietzsche. Disini Nietszche berkesimpulan bahwa Tuhan telah dibunuh oleh agama Kristen, bahwa agama Kristen telah mensekularisasikan hal-hal yang suci.

Dunia science (ilmu pengetahuan) seakan terpasung, tidak ada kemajuan yang berarti semua produk science yang bertentangan dengan geraja akan dihanguskan tanpa sisa. Bagi Nietszche, kebudayaan atau agama yang baik adalah yang membuat manusia-manusianya maju, menjadi manusia yang unggul (ubermensch).

Sedangkan kebudayaan yang menganjurkan sikap tengah atau manut sendiko dawuh hanya akan menghilangkan bakat-bakat individu dan menjadikanya kerumunan masa. Sayangnya kerumunan masa ini sering dimanfaatkan oleh manusia unggul untuk mencapai suatu tujuan entah itu kepentingan kelompok maupun kepentingan pribadi seperti halnya politik.  

Bagaimana dengan nasib Tuhan pada masa sekarang ini? Terlebih dinegara Indonesia tercinta.

Indonesia adalah negara yang menganut paham demokrasi dan mengakui 6 agama yang dianut oleh masyarakatnya (termasuk agama Kong hu chu). Islam sebagai agama mayoritas penduduk Indonesia. Mungkinkah Tuhan dalam kepercayaan Islam terbunuh, seperti halnya agama Kristen pada masa Nietszche yang telah dibunuh oleh oknum gereja? Naudzubillah min dzalik.

Namun sayangnya melihat kejadian akhir-akhir ini yang menimpa umat islam di Indonesia, sepertinya banyak yang meragukan umur Tuhan. Agama mulai dijadikan landasan utama sebuah partai politik, untuk mencapai tujuan duniawi, mungkin tidak lama lagi agama akan dijadikan alasan untuk menjajah negara lain, merampas hartanya dan membumihanguskan bangunanya, seperti pada masa Nietszche. Agama dijadikan alasan seseorang untuk menyakiti orang lain, mengejek orang lain, merendahkan orang lain atau mungkin mem-budak-an orang lain. Bahkan dalam lingkup satu agama pun bisa terjadi pertentangan hanya Karena perbedaan pendapat keagamaan. Satu organisasi mengakui islam miliknya sendiri, yang lainya mem-fatwa-kan organisasi lainya kafir.

Bahkan Al-Qur’an sebagai kitab suci umat Islam seakan menjadi ambigu. Perbedaan dalam penafsiran ayat Al-Qur’an banyak terjadi dan seringkali menimbulkan masalah antar penganut suatu organisasi. Begitulah ketika budaya mengajarkan manusia untuk selalu manut dan sendiko dawuh, maka yang tercipta adalah kawanan masa yang bisa dengan mudah dikendalikan dan dibentur-benturkan oleh manusia unggul demi mencapai tujuan mereka. Hal semacam ini terasa begitu horror, entah siapa yang akan membunuh Tuhanya terlebih dahulu.