Mahasiswa
1 week ago · 180 view · 3 menit baca · Pendidikan 26035_72636.jpg
Sumber : pixabay.com

Kematian Sekolah Kita
Inspirasi dari buku Sekolah itu Candu

Sekolah dalam bahasa asli (Latin) yaitu skhole, scola, scolae, atau schola yang berarti waktu luang atau waktu senggang. Pada zaman Yunani kuno konon anak-anak dalam kesehariannya adalah permainan mereka kadang-kadang kala meluangkan waktu untuk persetujuan dan pengetahuan atau cerita dari seseorang yang memiliki wawasan luas. Orang itu adalah orang tua.

Zaman ilmu pengetahuan baru sampai selesai.

Seiring berjalannya waktu, orang tua yang semakin sibuk bekerja menitipkan demi orang lain yang dipercayai untuk menimba ilmu.

Lama kelamaan atas campur tangan penguasa lokal, didirikanlah sebuah lembaga formal yang didirikan bertemu anak-anak yang sedang mencari pengetahuan. Lembaga itu pun memiliki bangunan khusus dan peraturan khusus. Semenjak itu istilah sekolah berganti menjadi bangunan yang ada di sana adalah siswa yang belajar. Dan mulai saat berbicara tentang sekolah formal. Itulah sekilas pengetahuan tentang sejarah sekolah.

Pendidikan menyenangkan sekolah, bukan latihan, bukan kursus, bukan membaca, bukan menulis dan berpikir, tetapi sebaliknya. Proses berpikir, sekolah, latihan-latihan, kursus-kursus, membaca dan menulis termasuk dari pendidikan.

Pendidikan diselesaikan semuanya dan berawal dari lahir sampai meninggal dunia. Kosep pendidikan ini adalah konsep pendidikan sepanjang hayat.

Jadi, pendidikan layak sekolah. Pendidikan tanpa sekolah adalah wajar karena sejarah sekolah hanya untuk mengisi waktu luang anak-anak. Namun, karena sekolah dalam perkembangannya menjadi sebuah kebutuhan yang diwajibkan oleh sistem pemerintahan untuk kepentingan negara, maka sekolah menjadi sebuah candu dan salah kaprah bagi pendidikan sekolah.

Sekolah dalam sejarah Indonesia dimulai pada era kolonial berkuasa. Para penguasa di era kolonial mengatur sekolah untuk mendidik pribumi menjadi pegawai pemerintahan saat itu. Siswa dididik menjadi alat pemerintahan, hingga saat ini.

Budaya pendidikan di Indonesia saat ini seperti tempat untuk membeli tenaga kerja. Memilih orang-orang yang memilih sekolah jurusan menentukan apa yang berhasil kerja kedepan.

Sekolah pun sudah gagal fungsinya dalam mewujudkan tujuan pendidikan, yaitu pengetahuan, keterampilan, dan budi pekerti yang merupakan ciri pembeda manusia dengan berbagai makhluk lain. Saat ini banyak sekali kenakalan-kenakalan remaja yang masih sekolah. Keterampilan yang tidak memenuhi, sehingga siswa perlu melakukan kursus-kursus khusus untuk mendapatkan keterampilan bekerja.

Sebenarnya, pengetahuan tentang siswa yang sedang belajar sedang belajar di tempat-tempat les. Membuktikan Everett Reimer melalui penelitiannya mengatakan bahwa sekolah sudah mati (sekolah sudah mati). Mati berarti tidak digunakan lagi sebagaimana mestinya. Lalu, bagaimana cara memulai kembali sekolah?

Transformasi sosial tidak akan terjadi tanpa transformasi pendidikan. Dan transformasi pendidikan tidak akan terjadi tanpa transformasi sosial. Terkait saling memperhatikan dan memahami. Memajukan pendidikan berarti harus memajukan tatanan sosial dan juga sebaliknya, harus berjalan berbarengan. Pendidikan sebagai transformasi sosial merupakan pemikiran dari Friere, seorang tokoh pendidikan yang kontroversial.

Dalam hal ini sekolah sebagai sarana pendidikan dan juga membahas tentang sarana untuk mengubah sosial telah dimulai untuk dihidupkan kembali. Dengan memperbaiki sistem pendidikan kita saat ini belum sesuai dengan tujuan dari pendidikan itu sendiri. Perbaikan ini bisa dimulai dari penyelenggaraan pendidikan (yaitu sekolah-sekolah) yang masih membuat sekolah sebagai pabrik atau kerajinan.

Di Indonesia, sekolah-sekolah saling berlomba-lomba mencari siswa yang kemudian saling berebut akreditasi agar banyak siswa yang tertarik masuk ke sekolah itu. Namun, kompilasi sekolah sudah menjadi favorit oleh para siswa dan orang tua menentang sekolah itu menjadi mahal. Atas dasar fasilitas yang semakin memadai sehingga menjadi mahal. Maka tak heran jika di negara kita banyak orang yang memuji karena biaya sekolah yang mahal.

Pendidikan kita memang sudah menjadi komoditas melalui sekolah -sekolah. Padahal sistem pendidikan kita ini belumlah baik. Menurut saya, pendidikan yang baik adalah pendidikan yang kontekstual. Kita belajar di sekolah sesuai dengan apa yang kita jalani di kehidupan nyata. 

Selama sekolah mengajarkan kita untuk memahami banyak hal namun tidak memahami satu hal yang berguna untuk kehidupan. Misalkan, saya belajar trigonometri selama 5 tahun di SLTP dan SLTA. Kemudian setelah saya tamat SLTA, saya bekerja sebagai penjaga di toko. 

Pertanyaannya, untuk apa saya belajar trigonometri selama 5 tahun jika saya akan bekerja sebagai penjaga di toko? Jadi, selanjutnya untuk memperbaiki sistem pendidikan kita adalah dengan mengubah kurikulum pendidikan nasional menjadi kurikulum yang didasarkan pada kehidupan.

Perbaikan pendidikan tanpa perbaikan sosial tidak akan terjadi. Pendidikan sangat menentukan terhadap kehidupan sosial dan kemajuan kehidupan sosial sangat menentukan terhadap kemajuan pendidikan. Dua hal tersebut menjadi fokus pembangunan di negara kita. 

Pembangunan Fisik memang penting. Lebih penting lagi pembangunan psikis yang menjadi esensi dari fisik tersebut. Esensi dari kemajuan negara dapat dilihat dari kesejahteraan sosialnya dan kemajuan pendidikan. Saya berharap kepada pemerintah agar lebih memperhatikan kedua hal tersebut.