Off-liven atau sterben, kematian haruslah disambut, dan bila kamu bertanya peran kertas dalam peradaban modern saat sekarang, maka akan kujawab dengan mengisahkan papyrusku.

“Mengapa begitu sulit” gumamku berkali pada diri sendiri di depan papyrus (nama seseorang yang kukenali sebagai perempuan inspirasi perjalananku sebagai mahasiswa, sebagai lelaki dan yang lain tentu hanyalah sebatas kertas putih), pucatnya belum juga menemui kalimat pembuka dan tanda baca, tak berkarakter.

Terasa sulit menulis kata-kata apalagi jika itu adalah kejujuran yang memenjara selama ini. Bisa jadi tidak sesulit face to face meski di benua berbeda lalu calling by video dan melihatnya seolah di depan, di kamar, lalu menyampaikan kata hati secara verbal,

“Dik, aku menyukaimu, dan ingin jadi kekasihmu”.

Aku tak harus cemas dengan tinta berwarna hitam atau biru, romantis atau tidak, kertas ungu atau putih saja, kemudian terjebak pada basa basi salam pembuka. Tak perlu separuh rim kertas habis hanya untuk menjelaskan perasaan dan menyatakan bahwa kaulah Papyrusku. Seperti sekarang, tak terasa, jarum jam sepakat menunjuk angka sama, tujuh pagi dan aku nyaris lupa bahwa semalam aku membuat kopi dan belum juga kuseduh

Bukan anti modernitas tapi aku melihat teknologi seolah gambaran pembangkangan. Teknologi penting tapi lihatlah manusia, melawan malam dibuatlah lampu, melawan usia dibuatlah salon, melawan kebenaran dibuatlah hoax.

Teknologi seperti manifestasi ambisi imajinatif, acak dan cenderung tak terkendali. Cukuplah perasaanku sembunyi selama ini, dan itu pembangkangan terakhirku. Lebih dari itu, tentu saja, karena kaulah si kertas, dan tak salah jika kusampaikan pula isi hatiku melalui lembaran-lembaran kata.

Pagi ini tak biasa, kamarku seperti genangan, ubin hingga kaki-kaki meja dan kursi hanyut dalam bola-bola remasan kertas. Sejak semalam memang aku sibuk di atas meja yang setia menemaniku menjelajah dunia kata, “duhai pemilik senyum indah bolehkah aku memiliki”.

Ah, rasanya mengungkap realitas diri dengan kebenaran selalu sulit hingga dinding ruang indekos dua kali empat semakin sempit, terdesak oleh timbunan teori hingga falsafah, bagaimana agar papyrus mahfum?

Kopi dingin belum juga menyentuh tengah gelas, duduk sebaris dengan kamus bahasa, biograpi para linguis dunia dan buku lain yang tidak kalah tebal. Aku masih bersemangat meski sejak semalam berkutat dengan kening berkerut, sangat menyiksa, surat kepadamu masih pucat, kosong. Papyrus untuk Papyrus, sebuah penyatuan atau hanyalah penegasan lain bahwa aku telah takluk terlalu lama.

Kamarku lebih mirip tempat sampah, dimana-mana nampak bola-bola kasti terbuat dari kertas. Padahal belum ada satu kalimat utuhpun yang bisa kuselesaikan selain kalimat assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatu pun jika itu adalah sebuah kalimat. Selebihnya hanya kata aku dengan huruf besar, aku dengan huruf kecil, aku dengan huruf besar di awal.

Siklus itu berulang entah keberapa hingga buntu, kuatir yang berlebihan hingga sempurnalah kehampaan. Aku percaya konsep kepribadian tercermin melalui pilihan-pilihan kata dan aku harus hati-hati untuk seseorang yang akan ku rencana menjadi Ibu untuk anak-anakku kelak.

Aku lelah menyembunyikan kebenaran perasaanku kepada papyrus. Tetapi teknologi hanya akan menjadi pembingkai, penjara baru. Alih-alih menyingkap, justru menyembunyikan hakikat diriku sebenarnya. Aku tidak ingin kau melihatku dengan iphone baru, dan itu bisa dihitung jari di kampus.

Atau kalimat aku mencintaimu, tanpa melihat mimik, raut wajahku ketika menyampaikan surat ini kepadamu, beban psikologi saat menyerahkannya, atau di saat kau menerima pesanku di messenger box, kau tak perlu tahu dengan siapa aku saat itu. Perasaanku murni tertawan olehmu dan aku tidak ingin teknologi juga melakukan hal sama, aku tidak ingin menduamu, Papyrus.

Dan tekadku bulat mengungkap perasaan terpenjara melalui sepucuk kertas, papyrus menyingkap kekaguman dan cinta. Toh, coretan-coretan rasa terpendam ini tidak bermaksud jahat. Aku hanya ingin membuat kisahku utuh dan bukan sebatas kenangan seperti epos La Galigo atau kisah Majapahit yang kini hanya sebatas kumpulan emosi kultural.

Walau Gadamer mungkin benar tentang metodelah yang merintangi kebenaran itu sendiri, gumamku sambil meremas kertas lalu melemparnya ke belakang, berusaha melempar jauh beban di kepala, sekali lagi.

Sebagai mahasiswa di salah satu perguruan tinggi swasta di Kota kelahiran Eyang Habibie, Parepare, aku termasuk aktif dan  bisa dibilang tipe akademis yang dikenal satu kampus sejak tahun pertama, sebagai pemilik empat belas cita-cita.

Ketika masa orientasi (OSPEK) ditanya cita-cita, aku malah bicara tentang mengumrohkan kedua orangtua, menghadiahi rumah; ingin menyekolahkan dan membiayai kuliah adik-adik; berharap membantu tiga paman yang masih bekerja serabutan; membuat koperasi sastra, membangun taman baca yang bisa digunakan anak-anak se-RT belajar menulis, bertemu dengan Pak Dhe Jokowi, mendirikan penerbit, menulis buku, hingga menjadi pengusaha yang akan keliling Asia. Termasuk menemukan sosok senyum paling indah di kampus dan menjadikannya ibu untuk ketiga anak-anakku kelak.

“Bodoh, bodoh, bodoh” gumamku kepada diri sendiri sambil menggaruk pelan kepala yang tidak gatal sama sekali. Lalu meremas kertas, seperti sebelumnya, melempar sembarang ke arah belakang sebelum akhirnya memantul acak. Bagaimana bisa Tsai Lun disebut penemu kertas jika Eropalah yang melakukan revolusi percetakan di abad ke-15, bagaimana aku disebut cinta sedang menyatakannya saja belum pernah.

Namamu Andi Paramita Ros, teman kuliah yang punya senyum khas gadis Bugis, menawan hati dan sejak pertama pesonanya membius. Gadis asal Malimpung, sebuah desa di kecamatan Patampanua Kabupaten Pinrang Sulawesi Selatan. Desa yang konon memiliki sejarah panjang sebagai benteng pertahanan kerajaan Sawitto yang berjuang mengusir penjajah bersama lima kerajaan lainnya di Ajatappareng. Bercita-cita sejak kecil menjadi guru SD, oleh sahabatmu, kau biasa disapa mita, olehku, kupanggil kau, Papyrus.

Papirus atau Cyperus papyrus adalah sejenis tanaman air yang dikenal sebagai bahan untuk membuat kertas pada zaman kuno. Pada masa Mesir kuno, tanaman ini memiliki kegunaan beragam dari sebagai sumber makanan, obat-obatan dan parfum, untuk bahan baku pembuatan keranjang, mebel, bahkan perahu. Akar dan batangnya bisa dimakan layaknya sayuran, sedang batangnya bisa digunakan untuk membangun rumah, dan itu rumah tangga kita kelak.

“Mengapa kakak memanggilku begitu?” tanyanmu di ruang kuliah ketika itu.

Kau tahu, Papyrus menandai revolusi baru dunia tulis menulis. Sebelum itu, bangsa-bangsa terdahulu menggunakan loh dari lempung yang dibakar. Itu bisa dijumpai dari peradaban bangsa Sumeria, Prasasti dari batu, kayu, bambu, kulit atau tulang binatang, sutra, bahkan lontaraq yang dirangkai seperti dijumpai pada naskah La Galigo atau.

“Tapi itu tidak menjelaskan apapun” cegatmu serius.

Aku jatuh cinta dengan dunia tulis menulis, sambil kupandangi lembut wajahmu. Kertas adalah bagian terpenting tulis menulis setelah pena. Kau tahu, kertas Ponorogo adalah kertas pertama yang digunakan untuk menulis kitab suci Al-Quran di Indonesia dan itu di pesantren Tegalsari yang diasuh oleh Pak Yai yang bernama Hasan.

“Ah, Kak Hasan bisa saja” sambungmu sambil tersenyum sipu.

Aku masih ingat betul pertama kali bertemu denganmu, berusaha berbincang di tengah antrian mahasiswa baru yang hendak mendaftar ulang di hari terakhir. Dan aku ingat persis, kata-kata sakti yang mengawali kaku percakapan denganmu. Setelah empat jam menimbang, memerhatikan, dan akhirnya memutuskan tuk menyapa.

“Daftar ulang juga ya?”

Aku masih bisa menerangkan secara detil alasan mengapa mengagumimu. Senyuman hipnotis, mata hingga jilbab yang terurai, santun memikat, prestasi menyemburu, gagasan tajam, dan satu lagi, aku sangat suka ketika kau diam, entah apa yang ada dibenakmu, lalu sejurus kemudian, kau memainkan jari jemari dan pulpen biru, menari ke kiri ke kanan. Aduhai.

Kuseruput kopiku, dingin tidak merubah pekatnya, sengaja kubuat begitu. Kuremas, kulempar, lagi, kuambil yang baru, lalu lekat kuperhatikan kertas dihadapanku, seperti bercermin.

Bagaimana mungkin aku melakukan ini, mengungkapkan prolog surat cintaku, kekagumanku. Tidakkah itu akan membuatmu tersinggung, marah, dan pergi, menjauh, sebab aku tahu persis, tidaklah sopan memerhatikan detil seorang perempuan tanpa izin. Celakanya lagi jika membandingkanmu dengan perempuan lain. Yup, kau memang mirip pemeran film syurga yang tak dirindukan, Mbak Bella.

“Apa iya, aku harus mengganti warna” gumamku pada diri sendiri di hadapan kertas pucat tanpa tulisan, masih dengan sikap bercermin. Jarum jam dinding hadiah kompetisi catur tingkat Fakultas tahun lalu menunjuk angka sebelas dan sepuluh. Tidak terasa, ego pagi mulai menenggelamkan fajar yang gerimis. 

Aku masih duduk di kursi tanpa sandaran, kualihkan pandanganku lurus menembus jendela dan pekarangan hingga menemui pohon mangga rindang yang tumbuh di seberang jalan. Aneh, mengapa jeda menunggu jadwal konsultasi skripsi, harus disiksa perasaan sama sejak pertama melihat senyumanmu, papyrus.

Pandanganku tidak beranjak, menerobos batang pohon yang dua kali tiang listrik itu, menelisik ke dalam kulit-kulit hingga ke rongga-rongga. “aku tidak takut kepada kertas, bukan itu, hanya saja jika kekagumanku akan merubahmu, maka tumpukan gagasan-gagasan jujur inilah yang salah sebab walau dapat menyentuh plavon kamar tapi tak dapat menghentikan khayalku, kagumku, kepadamu papyrus.

Kertas masih juga kosong lalu kugenggam erat. Belum lagi akan kulempar, syahdu terdengar seirama gerimis berwarna cerah, lantunan ringtone spesial di handphoneku berbunyi, kau mengirimi pesan, sejurus aku meraih telepon dan membaca teks,

Salam Kak, ini puisi untuk kak Hasan yang istimewa, Ingin kugenggam tanganmu rindu, Hingga kenanganpun cemburu, Inginku rindu menggenggam tangan, Sejak cemburu pada kenangan, Yang mencintai rindu dan cemburu. Semoga berkenan Kak, sampai ketemu di Kampus Kak. 

 Aku membuka kertas yang kuremas digenggaman, memandang dan merapikannya, seketika air mataku menetes. Peradaban berubah, modernitas seakan menelan waktu hingga menemui kematian, secara perlahan namun pasti. Begitu juga papyrus yang tak kuasa menahan laju canggih teknologi. Kupandangi lagi emoticon merah sebanyak tiga buah yang menjadikannya semakin indah. Ah, Papyrus.