Frederick Wilfrid Lancaster sempat membuat sebuah tulisan dengan judul Toward Paperless Information Systems (1979), pada tulisan tersebut ia meramalkan kondisi masyarakat yang hidup tanpa kertas. Lengkapnya, Lancester menyebutkan kelak masyarakat tidak lagi menggunakan kertas sebagai medium tulis menulis, membaca, dan pertukaran informasi.

Ramalan Guru Besar di Universitas Ilinois sekilas seperti sebuah lelucon, jika kita membaca tulisan tersebut tepat pada saat pertama kali diterbitkan. Sebab pada tahun tersebut, internet belum banyak digunakan oleh banyak orang. Ditambah pada tahun tersebut, merupakan era mesin fotokopi keluar dan kertas menjadi barang sangat penting di masyarakat. 

Jadi, bagaimana mungkin sesuatu yang penting seperti kertas, justru akan leyap begitu saja ? Kemudian proses peradaban manusia mengalami peningkatan yang begitu pesat setelah manusia mengenal dunia tulis menulis dan kertas menjadi medianya.

Namun di era digital sekarang, kita bisa melihat, apa yang diramalkan oleh sang guru Besar Universitas Ilionis tersebut nampaknya benar. Kertas perlahan sudah tidak menjadi media yang digunakan manusia untuk mencari informasi, namun yang digunakan adalah media digital, seperti gawai di tangan kita maupun komputer atau laptop. Perilaku tersebut dimulai oleh para generasi muda atau biasa dikenal dengan generasi milenial.

Sebenarnya terdapat beberapa faktor yang menyebabkan “kematian” kertas sebagai media informasi. Faktor pertama, semakin menguatnya era digital. Seperti yang sudah diketahui oleh para pembaca, saat ini sudah tiba suatu masa yang menempatkan proses digitalisasi hampir di setiap segmen. Salah satu yang terkena dampak adalah media informasi.

Menurut hasil riset yang dilakukan oleh Pew Research Center yang dikutip oleh Kompas.com  menyatakan bahwa pertumbuhan internet yang masif berdampak pada literasi informasi masyarakat. 

Pada hasil riset tersebut, pada tahun 2016, televisi mendapatkan poling sebesar 57 persen sebagai media informasi yang paling digemari oleh warga Amerika. Kemudian media lain seperti news website hanya sebesar 28 persen, radio sebesar 25 persen, disusul sosial media dan koran cetak masing-masing mendapatkan 18 persen dan 20 persen.

Namun pada tahun 2018, dari 5 (lima) sumber berita tersebut, televisi dan koran mengalami tren penurunan, dari 57 persen menjadi 49 persen untuk televisi, dan 20 persen menjadi 16 persen untuk koran cetak. Sementara untuk news website dan sosial media mengalami peningkatan menjadi 33 persen untuk news website, dan 18 persen untuk sosial media. Untuk radio sendiri, masih tetap pada angka 25 persen.

Baca Juga: Kematian Papyrus

Faktor lain yang mendukung “kematian” kertas sebagai media informasi adalah harga kertas dan biaya produksi yang mahal. Menurut  Dahlan Iskan, selaku Ketua Umum Serikat Penerbit Suratkabar (SPS) menyampaikan saat Seminar Nasional bertajuk “Menggagas Model Bisnis Media Cetak Zaman Now” bahwa terjadinya kelangkaan kertas koran berdampak pada naiknya harga kerta. 

Kemudian Dahlan juga menambahkan, biaya distribusi yang meningkat menyebabkan biaya produksi mengalami peningkatan. Ditambah menurunnya oplah yang diperoleh tiap tahunnya.

Menurut data Serikat Penerbit Suratkabar (SPS), pertumbuhan oplah koran melambat sejak 2011. Pada tahun tersebut, pertumbuhan oplah harian hanya 5,85 persen. Pada tahun berikutnya, pertumbuhan mengalami hal sama disertai penurunan hanya menjadi 2,69 persen. Kemudian pada 2013 perlambatan menjadi 0,98 persen dan terus mengalami penurunan menjadi 0,55 persen di tahun berikutnya.

Selanjutnya, fakor yang tidak kalah penting adalah keinginan dari para generasi milenial maupun masyarakat pada umumnya, untuk memperoleh informasi secara cepat, efektif, dan efisien. 

Dengan keinginan tersebut, membuat informasi menjadi lebih simpel dan instan, dalam bentuk digital. Cukup dengan sekali klik di gawai, semua informasi yang dibutuhkan akan muncul. Apapun bisa dicari dalam waktu yang cepat dan instan dengan menggunakan alat pencari seperti mbah google maupun alat pencari lainnya di tangan kita sendiri.

Hal ini dapat dilihat berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Pew Research Center yang dipublikasi pada tahun 2018 dan dikutip pada laman Kompas.com. Menurut penelitian tersebut, masyarakat di Amerika yang berusia 18-29 tahun lebih sering mengakses berita melalui sosial media mereka ketimbang masyarakat yang berusia di atasnya. 

Sementara untuk masyarakat yang berusia 30-49 lebih sering mengakses berita melalui news website. Kemudian untuk masyarakat yang berusia 50 tahun dan seterusnya lebih sering mengakses berita melalui televisi.

Di Indonesia sendiri, menurut riset yang dilakukan oleh Tirto.id mengenai perilaku generasi Z mengakses informasi dan berita, manyatakan bahwa sebanyak 14,4 persen yang menjawab televisi sebagai sumber akses utama. Sedangkan 83,6 persen memperoleh informasi dari internet dan hanya 1,7 persen yang membaca koran. 

Akses terhadap internet yang besar itu terbagi lagi, menjadi 35,2 persen mengakses berita dari media sosial, 26,1 persen dari browser, dan 8,2 persen lewat Youtube atau web streaming.

Menurut riset yang sama, apabila diklasifikasikan berdasarkan tingkat pendidikan, porsinya tampak berbeda. Generasi Z yang masih duduk di sekolah dasar lebih sering mengakses berita dari televisi. Kemudian untuk Generasi Z yang berusia sekolah menengah atas, lebih sering mengakses berita dari media sosial. Sedangkan mereka yang kuliah, mengakses berita lewat media sosial dan browser dengan porsi yang tidak jauh berbeda. Hanya 5 persen dari usia kuliah yang mengakses berita lewat televisi.

Kemudian jika dihitung terus hingga 5 bahkan sepuluh tahun dari sekarang, Generasi Z mulai memasuki dunia pekerjaan dan menempatkan posisi-posisi penting di tempat mereka. 

Menurut riset tersebut menemukan kemungkinan bahwa semakin dewasa generasi ini, semakin besar kemungkinan mereka meninggalkan koran, yang merupakan media informasi berbahan kertas, dan televisi sebagai sumber mengakses berita, digantikan oleh berbagai media yang berbentuk digital.

Berdasarkan pemaparan tersebut, apa yang sudah diramalkan oleh Frederick Wilfrid Lancaster pada tahun 1979 besar kemungkinannya akan terjadi. Kertas sudah tidak menjadi pilihan utama sebagai media penyampai berita dan digantikan oleh “kertas tak berbentuk”. Saat ini, kertas tengah mengalami tantangan yang sangat besar, dan besar kemungkinannya kertas akan kalah.

Meskipun kertas seperti mengalami “kekalahan” oleh kondisi zaman, bukan berarti tidak memiliki peran. Internet dengan segala kelebihan yang diagungkan oleh sebagian besar masyarakat tetap memiliki kelemahan, seperti ketika munculnya serangan siber skala besar yang menyebarkan virus pada komputer ataupun gawai kita sehingga berdampak pada hilangnya jutaan data penting sehingga berdampak juga pada sistem pelayanan publik yang lumpuh. Membuat kita harus kembali melakukan dengan cara manual, menulis di kertas.

Melihat dari kejadian tersebut, membuat kita sadar bahwa kertas tetap memiliki peran di kehidupan dan peradaban manusia. Harus diakui, penemuan kertas merupakan penemuan yang paling mengagumkan dalam peradaban manusia. Berkat kertas, kita dapat mengetahui dan mempelajari penemuan manusia sebelum era sekarang. Kertas juga yang membantu pesan perdamaian dan kemerdekaan tersebar begitu luas, sebelum adanya internet.

Saat ini, kertas tetap ada dalam kehidupan sehari-hari. Stiker yang sering kita tempel dan dus box yang sering digunakan untuk membungkus adalah salah satu bentuk lain dari kertas. Selain kedua barang tersebut, ada juga tisu yang sering kita gunakan sebagai pembersih.

Jadi sebenarnya, pada “pertempuran” antara kertas dan kondisi zaman tidak ada yang saling dikalahkan. Kertas tetap memiliki ruang dalam kehidupan, begitu juga dengan kemajuan teknologi. Guna bertahan dari gempuran zaman, kertas perlu berkompromi dengan kemajuan teknologi. Selain itu, kertas juga harus bersahabat dengan baik dengan lingkungan sekitar yang mengedepankan prinsip ramah lingkungan demi kenyamanan dan keseimbangan kehidupan.