Freelancer
3 bulan lalu · 3656 view · 3 menit baca · Puisi 16575_21034.jpg

Kematian Filsuf

Hidupmu sudah kepalang susah
Tak usah kau bebani dengan banyak mimpi
Kemiskinan, keadilan, kesetaraan yang terlanjur dibuang ke tempat sampah
Tak perlu kau pungut lagi

Pada sebatang rokok dan secangkir kopi pagi
Kau boleh titipkan khayalmu tentang sejuta kata resah
Pada setiap nasib yang tergolek pasrah
Pikiranmu boleh abadi
Semakin dalam kau hisap rokokmu
Matahari semakin tinggi
Bising celoteh istrimu

Tentang perut yang belum terisi

Jika keringat buruh lebih manis dibeli
Apalah arti filsuf? tanya anakmu

Di dunia penuh angka ini
Siapakah yang mampu bertahan, filsuf?
Kaum buruh yang menjual murah keringat mereka sendiri
Atau kau yang mengganjal otakmu dengan teori dan kata resah?

Istirahatlah
Biar mimpi sekadar mimpi
Pada tunas hijau yang baru tumbuh
Mimpimu mungkin abadi

Penyair bedebah!!!
Haruskah kematianku kau antar dengan puisi
Tak cukupkah kenyataan saja yang membuatku pasrah?

----------

Sajak Setengah Jalan

Penyair, akan seperti apa sajakmu kelak?
Jika setiap huruf berserakan pada setiap jalan yang kau lewati
Anak-anak dari rahim kenyataan tak dapat lagi mengejanya
Sebab ia terlampau jauh kau tinggalkan

Penyair, berhentilah bersajak tentang bulan sepenggal
Anak-anak itu tak lagi peduli pada penggalan bulan lain
Bersajaklah tentang kenyataan
Tentang angka di kepala si miskin
Tentang seragam busuk maling terpelajar
Tentang anak-anak kenyataan itu sendiri yang tak lagi punya kehidupan

Berhenti meletakkan bunga dibawah kaki dewi kesenian
Sebab bunga hanya bagi mereka yang telah mati
Letakkanlah api dan pedang
Agar yang tak punya kehidupan tak buta melihat kenyataan
Agar anak-anak kenyataan bisa memenggal kepala keserakahan

Penyair, jalan masih panjang
Pungut kembali huruf-huruf yang kau tinggalkan!!!
Ajari anak-anak yang lahir dari rahim kenyataan membaca sajak-sajakmu dengan lantang
Biar mampus menikam serakah melumat angka

----------

Cerita kepada Kawan

Aku memang ingin bercerita 
Tapi tenang, ini bukan cerita haru penuh derama

Ini hanya tentang kanvas putih yang kutunjukan dulu
Kau tau, dunia yang katamu suram ternyata punya begitu banyak warna
Tak melulu hitam bahkan abu-abu
Karenanya kanvas itu tak kubiarkan berwarna putih
Mulanya aku gores dengan warna hijau
Tapi waktu membuatnya pudar dan menua
Tentu kau masih ingat matahari tengik yang membakar kepala kita?
Ya, matahari itu
Aku taruh ia ditengah warna hijau yang sudah tua
Terik memang karenanya kukelilingi ia dengan awan sendu
Ah, seperti katamu aku memang tak pandai melukis
Kanvas itu jadi tak berupa lukisan
Sebelum ahirnya kau caci
Aku ambil seember awan putih yang masih mengantung
Pasrah aku lempar pada kanvas yang tak berwujud itu
Putihlah ia
Kaupun akan nyengir melihatnya tetap putih

----------

Tan dan Undang Pikirmu

Tan, apa mungkin masih akan kau kata tanah ini layak ditukar nyawa?
Jika nyatanya undang pikirmu tak pernah benar diresapnya
Tunas-tunas yang tumbuh dari tanah ini sesekali tak pernah peduli akan hakekat undang pikirmu
Tanah surga
Lama nian kembaramu
Tanah ini masih melimpah untuk membangun Negeri antah berantah
Beruntunglah tak kau saksikan setiap butirnya lenyap di depan matamu
Setiap sari tanah
Untuk setiap yang tumbuh diatasnya
Kau akan dikenang sebagai Tan
Pria dengan sejuta luka
Dan tanah ini
Betapapun lama kembaramu
Tetap dikenang sebagai tanah para dungu
Dari tanah ini Negeri antah berantah hidup
Undang pikirmu
Negeri tanah ini
Bagian tanah manakah yang dapat menyerapnya?
Di tanah diammu semogakanlah
Bersama tanah ini tak habis undang pikirmu

----------

Sepotong Hati

Mulanya hanya ketiadaan
Adam menjelma
Tertengun menatap sepi
Sepotong
Dari ketiadaan
Sepotong hati berdetak lirih
Sepotong
Hanya sepotong rusuk patah
Hawa telaga rindu mewujud
Sepotong
Tetap sepotong hati
Patahan rusuk berdetak lirih
Tuhan Maha bertahta
Menitah sepotong untuk sepotong hati
Detak setelah detak
Lirih setelah lirih
Lebur dalam ketiadaan

----------

Marsinah

apa kabarmu Marsinah?
Dewi lacur si burung merak
Masihkah kau dekap mimpi si buyung
Ataukah seperti yang lain
Terbuai dalam syahwat kenikmatan

Marsinah, sajakmu menjelma lagu
Tentang kau yang menantang lagit
Serapah caci pada bumi

Marsinah, aku lihat begitu banyak penyair bersimpuh di kakimu
Seperti kau adalah amor di tengah para serigala
Sajak-sajak mereka
Berbicara tengtang nasibmu di taring para serigala
Dengan lendir-lendir yang mengikat tubuhmu
Dan kemungkinan-kemungkinan
Yang tak juga lagit berikan padamu

O, Marsinah!!!
Masihkah kau tetap Marsinah dengan jurang keterpaksaan
Ataukah kini kau sekedar cawan kerelaan
Yang menerima nikmat atas segala syahwat

Marsinah…
Jika iya kau bukan lagi marsinah
Jangan lagi kau angkat kutangmu
Jangan lagi sajak kau pangku
Biarlah kau sekedar lacur
Perangmu atas langit
Bumi muara caci

----------

Papuan Tanah Duka

Semanis apapun tulisanmu
Papua tetap tanah duka

Anak-anak rimba raya selalu kalian anggap setengah manusia

Kalian mempersoalkan tentang pembangunan
Menyuguhkan gedung sebagai ganti rimba

Orang-orang terpelajar seperti kalian tak pernah berpikir
Mereka tak butuh jalan mewah tak butuh gedung bertingkat
Agamawan seperti kalian tak juga berpikir
Mereka tak butuh hutbah tentang langit
Mereka hanya butuh hutan mereka tak kalian rusak
Mereka hanya butuh alam mereka kalian kembalikan
Tapi kalian lebih senang menganggap mereka setengah manusia
Dan seenak dengkul kalian merampas alam mereka

Dengan dalih pembangunan kalian rusak rimba raya mereka
Lalu ketika mereka mengangkat senjata
Meminta kebebasan menentukan nasib
Kalian anggap mereka sebagai penjahat

Siapakah yang lebih jahat, tuan
Orang-orang terpelajar dan agamawan seperti kalian
Yang tanpa hati merusak alam mereka
Berlagak menjadi tuhan mengatur nasib mereka
Atau mereka yang tanpa daya
Mempertahankan alam mereka agar tak kalian rusak?

Aku muak mendengar kalian berbicara tentang papua
Tak satupun dari mulut kalian yang jujur mengatakan
Papua tanah duka

Darah yang tumpah di setiap jalan yang kalian bangun
Tak pernah kalian anggap sebagai kenyataan

Setiap butir emas yang kalian ambil
Setiap batang pohon yang kalian tebang
Hanya untuk kesenangan kalian sendiri

Teriakan anak-anak rimba raya di papua
Tentang mereka yang ingin menentukan nasib mereka sendiri
Tentang alam yang luluh lantah kalian rusak
Tak pernah terdengar
Sebab bagi kalian mereka hanya setengah manusia

Jangan lagi ada tulisan manis tentang papua
Sebab papua adalah tanah duka