“Kau akan mati di hari Jumat,” kata Ayah.

Semenjak kecil, saya sudah dipaksa oleh Ayah agar percaya bahwa kematian akan menjemput saya di hari Jumat.

Mula-mula saya menolak memercayainya, sebab guru agama di sekolah pernah menjelaskan bahwa perkara maut itu mutlak menjadi hak prerogatif Sang Maha Kuasa, tanpa bisa diganggu gugat segala yang bergelar hamba. Tak ada satu manusia pun yang menggenggam ketepatan pasti mengenai hari, tanggal, bulan, dan tahun tibanya. Sungguh, perkara mati itu adalah perkara gaib. Tak bisa diprediksi manusia, sehebat apa pun dirinya.

Lalu, rasa tak percaya saya perlahan mengabur, saat Kakek meninggal di hari Rabu. Sebelumnya Ayah pernah bilang jika Kakek akan meninggal pada hari Rabu. Jadi sekarang, sedikit banyak saya mulai terpengaruh dengan perkataan Ayah.

Ayah juga pernah menyatakan akan menemui akhir umurnya pada hari Senin. Hingga di setiap hari itu, ia lebih khusyuk menggulung waktu dengan beribadah. Tak hanya salat wajib lima waktu tujuh belas rakaat, salat sunah rawatib pun dipenuhi dengan sempurna. Tak lupa duha dan tahajud melengkapi rukuk-sujudnya. Seolah-olah hari Senin itulah hari terakhirnya di dunia ini.

“Dari mana Ayah tahu kalau ia akan mati di hari Senin?” Saya bertanya pada Ibu, saat Ibu sedang sibuk mengasapi dapur untuk menyambut lelaki separuh jantungnya itu pulang dari sawah.

“Tanya pada Ayahmu. Bukankah dia yang bilang kalau dirinya akan mati di hari Senin,” kata Ibu.

“Apa Ibu percaya?”

“Jelas percaya. Ayahmu itu bukan pembohong.“

“Tapi, mengapa Ayah tidak tahu hari apa Ibu akan mati?” Saya bertanya lagi.

Sebetulnya, pertanyaan soal hari apa Ibu akan mati ini pernah saya sampaikan pada Ayah, tapi Ayah tidak memberikan jawabannya.

“Kalau Ayah tidak menjawabnya, tak perlu Kau tanyakan lagi perihal itu pada Ibu.”

Terkadang, saya merasa bingung melihat bagaimana Ibu bisa memercayai setiap perkataan Ayah. Tak terkecuali soal kematian. Baginya, semua perkataan Ayah adalah kebenaran yang wajib ia terima.

Meski sudah terbukti kebenaran perkataan Ayah soal hari terakhir hidup Kakek, tapi bukankah tak menutup kemungkinan jika perkiraannya soal hari kematiannya dan kematian saya, bisa saja luput. Atau jangan-jangan Ayah pernah mendapat wangsit soal berita kematian Kakek, Ayah, dan saya.

“Kakek mati di hari Rabu, Ayah akan menemui maut di hari Senin, dan hidupmu akan berakhir pada hari Jumat.”

Perkataan serupa pernyataan itu, tambah menunjukkan kebenaran yang susah saya sangkal tatkala masa bergulir ke suatu sore di hari Senin.

Kala itu, Ayah tengah duduk-duduk di serambi belakang rumah kami yang menghadap sungai. Riuh bocah-bocah bermain air dan mandi-mandi di tepi sungai meningkahi suasana. Ayah duduk bersila di atas hamparan tikar purun yang menutupi lantai kayu ulin yang dipasang renggang. 

Ia ditemani secangkir besar kopi hitam pahit dan pisang talas yang digoreng dengan lapisan tepung beras putih, kesukaannya. Tak lupa, sebuah kitab tua tipis berwarna cokelat muda, berukuran panjang, diletakkan terbuka di pangkuannya. Konon, dari kitab warisan Kakek itulah Ayah mengetahui perihal hari kematian Kakek, hari kematiannya, dan hari kematian saya.

Sebenarnya, Ayah pernah meminjamkan kitab tua itu pada saya. Tapi, saat menyusuri rentetan huruf Arab Melayu yang saling bertautan membentuk kata-kata, yang jika dieja akan jadi lafal berbahasa daerah Banjar itu, selalu saja menciptakan rasa mual di liang perut saya. Bau tanah juga menyeruak memenuhi penciuman.  Hal ini membuat saya buru-buru mengembalikannya pada Ayah.

Ayah juga pernah membujuk saya agar mendengarkan saja saat ia membaca kitab itu, tapi dengan halus saya tolak. Bagaimana mungkin saya terima tawarannya, jika melihat luarnya saja, saya sudah merasa pusing, apalagi mendengarkan isinya. Sungguh, saya tidak mengada-ada soal pengalaman saya mengenai kitab tua itu.

“Cukup untuk Ayah saja.”

Ayah pun tak pernah memaksakannya.

Tapi, di sore itu, apa hendak dikata, raut di balik lipatan kerut milik Ayah tampak sendu.

Iya, wajah Ayah memang telah dipenuhi keriput, meski usianya masih setengah abad lebih dua tahun. Tak berbanding lurus dengan penglihatan dan pendengarannya yang masih normal.

“Hari ini hari Senin,” gumam Ayah. Hampir tak terdengar jelas karena ditingkahi pula oleh suara arus sungai yang cukup deras.

“Mungkin saja hari ini adalah hari kematianku,” lanjutnya.

Saya yang berdiri menyandari tiang pintu di sisi kirinya, melirik sekilas. Sudah sering saya dengar ucapan Ayah seperti itu. Hampir di setiap Senin. Karenanya saya memilih acuh.

Ayah juga kelihatan bugar. Bukan, bukan saya percaya bahwa setiap kematian seseorang harus dimulai dengan sakit terlebih dulu. Setidaknya perkataan Ayah akan lebih mudah meyakinkan saya, jika ia berada dalam kondisi sedang tidak sehat.

Tapi, tiba-tiba saja saya dibuat terkesiap. Pikiran saya seolah dijeda oleh sesuatu yang membekukan gerak angin. Arus sungai pun terdengar lebih berisik dan menusuk telinga. Sore dan kedamaiannya pun seolah lenyap diisap hingga ke dasar sungai. Ayah tiba-tiba kehilangan napasnya. Tubuhnya lemas seakan tak mampu ditopang oleh kekuatan tulang-tulangnya. Ia ambruk dengan kitab tua yang masih dalam genggamannya.

Ayah meninggal. Ibu menjerit-jerit bak anak kecil yang kehilangan ibunya di tengah keramaian pasar malam. Sepertinya malaikat maut sudah sedari tadi menyertainya, di antara desauan angin sungai yang menampar kepalanya.

*****

Kebenaran perkataan Ayah soal hari kematian Kakek, juga kematiannya, sedikit banyaknya turut mempengaruhi kinerja otak saya. Hingga saya memulai hari di setiap Jumat, dengan berpasrah diri jika ini adalah Jumat di mana saya akan bertemu ajal.

Terlebih, sudah beberapa minggu ini, yang entah mengapa, di setiap hari Jumat, penyakit asam lambung saya selalu kumat. Rasa perih terasa memenuhi liang perut, yang berlangsung sepanjang hari hingga dini hari Sabtu menggilir waktu, barulah rasa perih yang menyiksa itu lenyap.

Ini Jumat yang paling menyiksa. Dimulai dari dini sampai terlewat pagi hari, perut saya serasa diperas. Tanpa ampun. Dan karena tak tahan lagi, saya  meminta Ibu mengantarkan saya berobat ke rumah sakit.

Setelah melewati proses pemeriksaan, saya dianjurkan agar menjalani rawat inap.

Di dalam kamar rawat inap itulah akhirnya saya bisa memercayai sepenuhnya perkataan Ayah mengenai hari kematian saya, setelah di sore Jumat itu Ayah dan Kakek menemui saya. Bukan menengok, tapi menjemput saya.