• Kita tahu bahwa hidup itu penuh dengan ketidakpastian. Mulai dari masalah pekerjaan, rejeki, jodoh, termasuk juga wabah dan bencana. Bahkan masalah sepele seperti orang jalan kaki pun tidak pasti. Mengapa? Karena tidak ada yang bisa memastikan bahwa kita akan terpleset atau tidak saat kita berjalan kaki.

  • Ketidakpastian selalu menyertai manusia dalam hidupnya. Ia akrab dalam semua tindakan manusia. Namun, dalam keakrabannya itu, ketidakpastian menjadi sesuatu yang sangat abstrak bagi manusia. 

  • Ketidakpastian kadang muncul secara tiba-tiba di luar nalar dan kesadaran manusia. Misalnya saja, wabah dan bencana yang melanda dan menyebabkan kematian.

  • “Kematian adalah kepastian yang tidak pasti”. Begitulah bunyi petuah dari para tetua. Kematian itu pasti terjadi, hanya saja tidak pasti kapan dan bagaimana akan terjadi. Ketika kematian itu tiba, hal yang bisa kita lakukan adalah berpasrah diri dan menerimanya.

  • Hari-hari belakangan ini, kematian serasa begitu akrab di beranda berita. Datang bersama sebab yang tak mudah diduga. Mulai dari wabah yang membawa berjuta duka, pun bencana yang melayangkan banyak nyawa seperti yang terjadi di Nusa Tenggara Timur dan sekitarnya pada beberapa hari yang lalu.

  • Daerah Nusa Tenggara Timur dan sekitarnya yang memiliki aneka ragam keindahan yang menarik dan mempesona kini menjadi sebuah tempat yang menimbulkan rasa ibah dan belas kasih.

  • Bencana dan wabah yang terjadi membekaskan luka yang mendalam bagi manusia dan makhluk hidup lainnya di daerah yang dikenal dengan nusa bunga dan wangi cendana ini.

  • Nusa bunga yang menarik kini menjadi instrumen jeritan bunda pertiwi karena bencana dan wabah ini. Banyak hal dihancurkan dan juga menimbulkan kerugian yang besar bagi masyarakat di tempat ini dan negara Indonesia pada umumnya.

  • Wabah dan bencana merajalela dan beria di sela keindahan pemandangan nusa bunga yang sedang mendunia karena keindahan alamnya yang memukat hati banyak orang. Jeritan ibu pertiwi seolah tidak dihiraukan oleh wabah dan bencana ini.

  • Selain kehancuran nusa bunga, tak luput pula wangi cendana yang selalu mengharumkan penduduk dan alam dengan nilai estetisnya seolah tidak mampan untuk memberikan sebuah tawaran bagi wabah dan bencana untuk diajak berdiskusi saat itu. Segala yang ada di hadapannya dihanyutkannya.

  • Semua hal yang ada dibuatnya bisu dan dikakukan menjadi diam seribu bahasa oleh wabah dan bencana ini. Kepasrahan diri menjadi instrumen yang dapat diandalkan dalam situasi demikian.

  • Berbagai infrastruktur yang telah dijalankan pemerintah pun seolah hanya menghias dan menjadi instrumen yang menghibur masyarakat dalam waktu yang singkat. Kekaguman dan keharuan hati akan semua karya baik itu meninggalkan luka yang mendalam dan mungkin tidak mudah untuk dilupakan.
  •  
  • Semua kekayaan hilang menghanyutkan. Tiada sedikit pun yang tersisa. Bahkan manusia pun tak luput darinya. 

  • Bagi wabah dan bencana kekayaan bukanlah sesuatu yang bisa dijadikan sogokan. Mengapa? Karena wabah dan bencana tidak membutuhkan kekayaan layaknya seorang koruptor yang menggunakan akalnya untuk merugikan negara dan banyak orang.

  • Wabah dan bencana juga bukanlah seperti para pengamat politik yang mengamati kata per kata dan kalimat per kalimat yang tersirat dalam bahasa yang dilontarkan lawan bicara dalam sebuah perdebatan politik.

  • Wabah dan bencana itu ibarat kuasa dari alam baka, yang membuat manusia tak berdaya. Ia menghampiri tanpa beri waktu untuk berdiskusi. Para ahli dan saintifik pun dibuatnya tak berkutik.

  • Wabah dan bencana kerap terjadi dan aksinya sering melampaui kapasitas budi memahami. Nilai spiritualitas pun dipandang sebelah mata oleh wabah dan bencana ini. Berhadapan dengan semua itu, manusia serasa diajak untuk berefleksi diri.

  • Ketika para saintifik-positivis terlalu menjunjung tinggi nilai pasti, wabah dan bencana menghampiri dengan tidak bisa diantisipasi.

  • Mungkinkah ini semacam pertanda bahwa di balik agung kemajuan yang kini dijunjung tinggi masih ada andil yang tak tertandingi nan abadi sehingga padanya semua hal adalah pasti? Agaknya tidak bisa diantisipasi para ahli seperti kematian sebagai kepastian yang tidak pasti.

  • Bencana Memanusiakan Manusia

  • Thomas Aquinas, seorang filsuf dan teolog Kristen, pernah mengatakan bahwa “manusia itu bernilai, memiliki kemampuan dan keutamaan yang sungguh berarti. Akan tetapi manusia terbatas. Manusia hanya merupakan sebagian daripada kesempurnaan yang terkandung dalam segala yang ada.”

  • Di dalam keterbatasannya, manusia berpartisipasi dalam kesempurnaan yang tak terbatas, yakni dalam usaha untuk mencapai kesempurnaan itu.

  • Usaha untuk mencapai suatu kesempurnaan hanya tercapai apabila manusia mengaktualisasikan dirinya dalam semua tindakan hidup yang menjadikan dia sadar akan eksistensi dirinya. Di luar dari itu, tidak ada sesuatu yang bisa membuatnya menjadi benar-benar manusia.

  • Manusia memiliki suara hati yang membuatnya menjadi bernilai. Suara hati itu berperan rangkap, yakni sebagai kesadaran moral dan kesadaran akan kewajiban. 

  • Kesadaran inilah yang menggerakkan manusia untuk peka terhadap segala realitas yang terjadi pada diri dan dunia sekitarnya termasuk musibah seperti wabah dan bencana yang melanda sesamanya yang lain.

  • Wabah dan bencana yang terjadi di Nusa Tenggara Timur dan sekitarnya menggerakan hati banyak pihak untuk mengasa dan menghidupi suara hati mereka agar lebih hidup dan menghidupkan hal lain di luar dari dirinya sendiri. 

  • Semua itu nyata dan terungkap dalam tindakan banyak pihak yang memberikan sesuatu yang mereka miliki bagi para korban bencana dan wabah dalam rupa barang dan tindakan untuk memanusiakan sesama manusia yang ada.

  • Kepedulian yang dihidupi dan dilakukan itu menjadikan pribadi manusia bernilai sebagaimana adanya. Nilai itu bukan saja hanya berguna bagi mereka yang terlibat dalam tindakan berbelas kasih itu tetapi bagi semua mahkluk yang menyaksikan tindakan nyata  yang dilakukan.

  • Akhirnya, manusia menjadi manusia karena memperlakukan manusia dan makhluk lain dengan tindakan manusiawinya. 

  • Di sinilah eksistensi manusia itu terungkap yakni dalam tindakan nyata yang diaplikasikan dalam hidup setiap hari. Dengan menemukan eksistensi diri itu, maka manusia akan membangun hidupnya menjadi lebih hidup, walau hidup itu sendiri akan menuju pada suatu kepastian yang tidak pasti yakni kematian.