Tak dapat dimungkiri, fungsi kemasan (packaging) pada sebuah produk seakan telah memiliki arti penting sendiri bagi seorang konsumen, di samping kualitas komoditas yang ditawarkan oleh pihak perusahaan maupun para pedagang. 

Telah jamak diketahui, bahwa kemasan produk seakan berperan sebagai penegasian bagi sebuah produk bahwa ia merupakan sebuah entitas yang berharga dan patut diperhatikan kehadirannya oleh konsumen.

Pada aspek yang paling dasar, fungsi kemasan pada sebuah produk adalah sebagai pelindung barang agar ia tidak mudah rusak sebab adanya kontak dengan barang lain, sekaligus sebagai media untuk menempelkan label merk, supaya ia dengan mudah dapat dikenal oleh konsumen.

Selain itu, kemasan produk pun memiliki kategorisasi menurut frekuensi pemakaiannya, yakni: pertama, bungkus yang digunakan untuk sekali pakai, seperti bungkus plastik pada makanan ringan; kedua, kemasan yang dipakai untuk berulang kali, semisal botol kecap; dan yang terakhir, adalah wadah yang kemungkinannya tidak akan dibuang oleh konsumen sebab ia digunakan kembali untuk menyimpan barang yang lainnya, contohnya adalah kaleng biskuit Khong Guan.

Seiring berjalannya waktu, fungsi kemasan pada sebuah produk kian bergeser dari dwi fungsi utamanya itu (pelindung dan media pelabelan barang), yakni dengan munculnya fungsi tambahan yang berupa kesan prestisius pada sebuah barang.

Perusahaan tampaknya memang sengaja menampilkan kemasan produk agar barang terkesan mewah (lux) dan berharga (valuable) di mata konsumen. Sehingga mereka pun beranggapan bahwa apa yang ada di dalam kemasan itu bukanlah sesuatu yang kaleng-kaleng, namun ia merupakan sesuatu yang bernilai lebih dibandingkan barang lainnya.

Padahal, jika kita mau mengamati dengan lebih cermat, kita barangkali akan menemukan sejumlah fakta bahwa belum tentu fitur dan kualitas barang yang ada di dalam kemasan yang tampaknya berkelas (classy) itu memiliki perbedaan kelas yang signifikan dibandingkan dengan produk-produk lainnya.

Dan sialnya, rerata konsumen kita pun sudah banyak yang terlanjur terbuai dan mempercayai kemasan produk ini. Dan dengan adanya kepercayaan terhadap kemasan produk inilah pada akhirnya mereka menjadi tersugesti dengan kualitas barang yang ada di dalamnya, meski selisihnya mungkin tidak terlalu seberapa, atau mungkin, kualitasnya justru di bawah produk yang lainnya.

Bisa saja, sebuah produk yang sebenarnya kualitasnya biasa saja dikemas dengan tampilan yang menawan supaya ia memikat siapa saja yang memandangnya. Dan setidaknya, mereka telah berhasil membuat para konsumen melirikkan matanya untuk mengetahui lebih lanjut apa yang ada di dalam kemasan tersebut.

Hal inilah yang kemudian memungkinkan adanya prospek pembelian barang karena motif coba-coba, sebab terbatasnya informasi dan ulasan mengenai sebuah produk. Ini mungkin saja terjadi, jika konsumen sebelumnya telah terlanjur terhipnotis oleh tampilan menawan pada kemasan produk.

Kemudian, pertanyaan evaluatif dari kita sebagai pihak konsumen adalah: apakah kira-kira pantas (worth it) untuk membayar jenis barang dengan selisih harga tertentu, sementara nilai kualitas barang itu relatif sama?

Jika memang dianggap belum pantas untuk membayar selisih harga tersebut, apakah kira-kira kita yakin akan mau membayarnya dengan harga yang berlebih hanya untuk mengapresiasi kemasannya yang beberapa saat lagi, mungkin, akan kita buang itu?

Kalau memang kita adalah golongan orang yang sadar dan mau mengevaluasi secara sportif mengenai hal ini, saya yakin, tentu kita tidak akan mau melakukannya. Sebab, kita pasti tidak pernah berkeinginan untuk terperosok dalam kubangan pemborosan sementara kita bisa memilih alternatif lain untuk berefisiensi.

Kecuali, mungkin, kita adalah seorang yang mendewakan prestise ketimbang asas manfaat yang dimiliki oleh sebuah komoditas. Sehingga berapa pun harga barang bagi kita bukan lagi masalah yang berarti, asalkan ia bisa memenuhi hasrat gengsi kita.

Dengan mengedepankan gengsi ini kemudian kita mempertontonkan pada setiap orang bahwa kita adalah seseorang spesial yang "so high class above them". Kelasnya jauh lebih tinggi dibandingkan mereka yang memandang kita itu.

Atau barangkali kita termasuk golongan hartawan yang teramat menghargai setiap elemen dari sebuah produk, dan tak terkecuali pada kemasannya, sehingga kita dengan mudahnya mengabaikan margin harga antara merk satu dengan yang lainnya. Bagi kita, tidak masalah membayar lebih mahal, asalkan kemasan tampak lebih elegan.

Jika hal ini yang memang kita pilih, maka secara sadar kita telah membeli dua komoditas sekaligus, yakni barang itu sendiri kemudian kemasan mewah yang membungkusnya. Kita menganggap keduanya adalah entitas yang sama penting dan sama berharganya.

Pada umumnya, jika kita diminta untuk memberikan penilaian mengenai apa saja secara keseluruhan, maka indikator yang termudah untuk kita gunakan adalah penampilan fisiknya secara kasat mata. Misalnya, untuk menilai cewek yang cantik atau cowok yang keren amatlah mudah dilakukan dengan mengamati kondisi fisiknya saja.

Namun, perihal lain yang sebenarnya tidak kalah yang penting untuk menjadi penilaian kita berikutnya adalah apakah kecantikan, kegantengan, dan segala kelebihan yang sifatnya fisik itu juga telah menginternalisasi pada setiap pribadi yang menyandangnya?

Dalam bahasa mudahnya, apakah mereka yang tampak memiliki keunggulan fisik ini juga telah dilengkapi dengan perangai yang baik, sehingga siapa saja akan merasakan kenyamanan saat berdekatan dan berinteraksi dengan mereka. Saya kira dua hal inilah yang harus diperhatikan bersama-sama secara berimbang agar tidak menimbulkan kekecewaan dan penyesalan di kemudian hari.

Kita tahu, penampilan fisik memang hal yang penting. Namun, rasanya pasti akan ada yang kurang manakala kita mengabaikan nilai substansinya.

Kemasan produk yang lux adalah hal yang mudah untuk memikat pelanggan, namun alangkah idealnya jika ia dibarengi dengan nilai kualitas yang lebih atas barang yang dibungkusnya, sehingga keduanya memiliki kondisi yang berimbang, baik dari tampilan maupun nilai penggunaan.