Seorang barista yang saya jumpa di kedai kopi pernah bercerita, ada banyak faktor yang menyebabkan perbedaan selera orang dalam meminum kopi. Misalnya masyarakat yang tinggal di daerah dataran tinggi cenderung menikmati seduhan dengan biji murni tanpa campuran. 

Sementara, beberapa daerah ada yang lebih menikmati kopi yang dicampur dengan jagung. Tapi yang paling mendasar tentunya adalah jenis kopi apa yang tumbuh dan berkembang di suatu daerah. 

Kunjungan saya dua tahun lalu ke daerah Semendo, salah satu kabupaten di Lahat, Sumatera Selatan. Daerah Semendo terkenal sebagai penghasil biji kopi origin Sumsel. 

Ciri khas kopi yang wangi saat diseduh dan ditanam di daerah dataran tinggi membuat kopi asal Sumsel ini tidak boleh dipandang sebelah mata, walau masih ada beberapa kekurangan mulai dari pengetahuan petani kopi, sampai dengan cara pengemasan yang menarik.

Membuat Kopi Terlihat Seksi

Kita di Indonesia lebih mengenal kopi arabika dan robusta. Bagi masyarakat yang tinggal di dataran tinggi tentu lebih menikmati jenis arabika. Sebaliknya, robusta menjadi favorit bagi masyarakat yang tinggal di daerah rendah. 

Namun ada satu jenis kopi lagi yang masih dapat tumbuh setinggi 9 meter dari tanah yaitu kopi liberika. Jenis kopi liberika memiliki banyak keunggulan, selain mudah ditanam di dataran rendah ternyata lebih resisten dengan kondisi cuaca, hama dan penyakit. Sehingga jenis kopi ini memiliki toleransi yang tinggi terhadap kondisi tanah yang kurang subur, bahkan di tanah dataran rendah pun bisa tumbuh.

Dua jam perjalanan dari Dermaga Benteng Kuto Besak menuju ke sebuah desa binaan dari APP Sinar Mas, Desa Makmur Peduli Api (DMPA). Saya diajak untuk bertemu dengan warga desa yang sudah berkembang beberapa tahun ini. 

Pada pertemuan itu, warga desa menunjukkan hasil bumi yang mereka tanam dari tanah dataran rendah, salah satunya kopi. Cukup menarik perhatian saya setelah mengetahui di dataran rendah tidak jauh dari kota Palembang ternyata bisa ditanami tanaman kopi jenis liberika. 

Selain perbedaan jenis kopi yang tumbuh di suatu daerah, perbedaan kopi nikmat juga bisa terjadi karena perjalanan panjang proses dan cara pengemasan.

Saya yakin, sebagus apapun kualitas kopi apabila kemasannya terlihat biasa saja bisa membuat tak seorang pun akan melirik?

Bocor Halus Aroma Kopi

Jika bukan karena kunjungan ke kebun kopi dan bertemu para penikmat kopi, sampai sekarang saya tidak tahu pengetahuan tentang kopi. Saya mengira bahwa proses kopi hanya sampai seduhan air panas saja. 

Ternyata saya salah kaprah. Kopi memiliki aroma dan cita rasa yang khas dan unik. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi aroma dan cita rasa setiap jenis kopi lokal. Munculnya aroma dan cita rasa kopi tersebut bisa berasal dari:

  1. varietas kopi (arabika/robusta/liberika)

  2. proses penanaman (ketinggian tanah)

  3. jenis unsur hara

  4. proses pemetikan

  5. pengolahan pasca panen

  6. penggorengan biji kopi

  7. proses penyeduhan.

Proses kopi yang nikmat berawal dari petani, buah petik yang tepat, penjemuran, kering, roasting, penumbukan/grinding, packaging dan seduh. Kalau dulu petani kopi membungkus dengan kemasan plastik polos itu sudah yang paling baik. Sekarang rasanya orang berlomba-lomba untuk mengemas barang jualannya lebih menarik. Hingga akhirnya seorang teman bercerita mengenai kemasan kopi.

“Wah aku baru kalau cara pengemasan juga bisa mempengaruhi kualitas kopi?” seruku mendengar cerita teman sambil seruput kopi.

Setiap tahapan di atas berperan dalam menentukan aroma dan cita rasa kopi. Kualitas kopi dapat diketahui dari hasil uji. Kopi terbaik dilihat dari nilai cupping test oleh panelis bersertifikat. Dia punya kemampuan dalam menentukan rasa dan aroma kopi.

Kemasan Kopi Ramah Lingkungan

Ternyata dalam hal kemasan kopi, ada pertimbangan penting dalam membungkus kopi-kopi yang akan mereka jual. Umumnya kopi yang dijual diminati oleh konsumen sudah dalam bentuk roasted bean (biji kopi yang sudah digoreng/sangrai) dan bubuk kopi. 

Pilihan pengemasan kopi berdasar bukan hanya karena pertimbangan keawetan kopi itu sendiri, tapi juga faktor-faktor lain seperti dampak lingkungannya, biaya, dan tampilan dari kemasannya itu sendiri. Ada dua kemasan kopi yang umumnya digunakan oleh para penjual.

1. Kemasan kertas yang bersegel

Kemasan kopi ini menggunakan kertas yang berjenis greaseproof atau kertas yang bisa menahan resapan minyak. Produk kertas greaseproof sebagai kertas “food grade” membuat kertas ini aman sebagai pembungkus makanan. Punya keunggulan tahan minyak dan tidak berbahaya bahkan jika bersentuhan dengan makanan.

Kemasan kopi semacam ini biasanya ditutup hanya dengan digulung atau ada klip khusus sebagai penyekat saja. Para roaster yang memilih pengemasan ini tentunya punya beberapa pertimbangan. 

Pertama, kopi yang dijual adalah yang telah siap diseduh. Kedua, biasanya pecinta kopi yang telah memiliki canister atau tempat khusus untuk menyimpan kopi. Terakhir, orang-orang yang peduli dengan lingkungan dan memilih kemasan kertas. Salah satu keunggulan menggunakan kemasan kertas adalah biodegradable dan sustainable yang mampu cepat terurai dan aman untuk lingkungan.

2. Kemasan bersegel dengan lapisan foil

Kemasan foil ini biasanya langsung disegel ketika biji kopi dimasukkan ke dalam agar mencegah udara masuk. Namun kemasan foil ini juga memiliki katup untuk meloloskan karbon dioksida keluar. 

Sampai beberapa hari setelah proses roasting, biji kopi biasanya akan mengeluarkan karbon dioksida sebagai salah satu proses alaminya. Valve atau katup udara pada kemasan inilah yang menjadi pintu atau jalan keluar bagi karbon dioksida itu sehingga pada akhirnya membantu kopi bisa terjaga lebih segar dan, istilahnya, tidak cepat “basi”. 

Tapi begitu segelnya dibuka, maka kesegaran kopi pun akan bisa menurun juga, meski perlahan. Cita rasa kopi bisa saja berubah.

Selain itu, kemasan seperti ini mungkin tidak mudah didaur ulang karena berbahan plastik. Bukan berarti tidak bisa hanya saja butuh waktu yang lama. Walau plastik dirasa lebih praktis, tanpa disadari karakter dasar plastik ditambah cara penggunaan yang tidak ramah lingkungan justru bisa merusak lingkungan hidup.

Pada dasarnya, fungsi kemasan adalah melindungi produk maupun barang agar tidak tercemar oleh bahan lain atau sumber pencemar dari lingkungan. Kerusakan suatu produk juga bisa dicegah melalui penggunaan kemasan. 

Kemasan dapat berasal dari berbagai macam bahan, kerap kali dipakai untuk kemasan adalah kertas dan plastik. Kedua bahan itu tentunya punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing. 

Bahan kertas ringan, relatif lebih murah dibandingkan kemasan bahan lain, mudah pula dalam hal penyimpanan serta daur ulangnya. Sedangkan plastik akan lebih sulit terurai dan mengandung bahan yang tidak baik bersentuhan dengan makanan.

Kertas dan Mitos Dalam Keseharian

Dalam kebutuhan sehari-hari, hampir tidak dapat tergantikan fungsi kertas dalam kehidupan. Kegiatan kecil yang kita lakukan dalam menggunakan kertas antara lain, mencoret-coret atau menulis menggunakan buku, membersihkan hidung karena flu dengan tisu, bahkan teh celup itu berbahan kertas pada pembungkusnya. Kertas membuat hidup kita lebih nyaman.

Pernah ada ramalan bahwa kita akan menjadi masyarakat tanpa kertas pada tahun 2000-an yang berarti semua produk yang menggunakan kertas akan kalah dengan produk alternatif. 

Apalagi sekarang zaman serba digital, tapi coba lihatlah sekitar kalian kertas masih memainkan peran besar dalam kehidupan sehari-hari. Akan tetapi ramalan itu bisa saja hampir benar karena sebagian orang yang merasa bahwa produksi kertas dapat merusak lingkungan misalnya hutan alam yang ditebang. 

Kabar baiknya kertas sampai sekarang masih menjadi media atau bahan yang berguna dan produksi kertas merupakan anugerah bagi lingkungan kita. Kita hanya perlu merubah pandangan negatif terhadap kertas karena muncul mitos-mitos yang bisa dipecahkan. 

Fakta saat ini banyak perusahaan yang memproduksi kertas terlibat dalam pengelolaan hutan yang berkelanjutan dan bertanggung jawab untuk melestarikan lingkungan alam yang kita cintai. Salah satu perusahaan kertas seperti APP Sinar Mas berpikir daripada menggunakan pohon-pohon muda dan sehat, lebih baik menggunakan pohon yang mati untuk produksi kertas.

Menurut saya, situasi ini adalah terbaik bagi kedua pihak. Untuk memastikan konservasi hutan, perusahaan pembuatan kertas seperti APP Sinar Mas juga ikut terlibat dalam penanaman kembali pohon-pohon ketika akan ditebang. 

Akasia dan Eukaliptus menjadi bahan baku utama bubur kertas atau pulp. Bahkan saat ini APP Sinar Mas tengah mengembangkan tanaman Meranti Kuning, Geronggang dan Belangeran sebagai tanaman alternatif Akasia.

Saya ingat ketika dijelaskan oleh salah satu warga DMPA yang mengelola lahan di tanah dataran rendah. Dijelaskan, akasia dapat dipanen dalam kurun waktu 5 tahun. Sementara Meranti Kuning, Geronggang, dan Belangeran mempunyai masa panen lebih lama rata-rata 7 sampai 10 tahun. Hal ini untuk menjaga agar bahan baku tetap terjaga. 

Pohon yang lebih muda lebih efisien menyerap karbon dioksida dibandingkan yang lebih tua. Oleh karena itu, melalui proses panen dan penanaman kembali, pohon yang ditanam kembali akan bermekaran menjadi hutan muda yang sehat yang memaksimalkan penyerapan karbon dioksida. Industri kertas terus mengoptimalkan proses untuk mengurangi tekanan lingkungan.

Itu beberapa mitos sesat tentang kertas. Apabila kita menggunakan kertas sesuai dengan kebutuhan mitos tersebut tidak akan benar terjadi, misal jangan pergunakan kertas untuk hal yang tidak bermanfaat. 

Dari Alam Kembali ke Alam

Saya mencari tahu sendiri berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk kedua bahan tersebut terurai. Di alam, berbagai bahan butuh waktu yang berbeda-beda untuk terurai. 

Banyak produk bersifat terurai di dalam tanah, misalnya sampah makanan, plastik dan kertas, tidak akan terurai ketika disimpan di tempat pembuangan sampah (landfills) karena lingkungannya kekurangan sinar matahari, air, dan bakteri yang dibutuhkan bagi proses pembusukan. 

Contohnya sebuah daun butuh sekitar satu tahun hingga menjadi bagian dari tanah hutan. Besi butuh bertahun-tahun untuk mengkarat dan terurai. Nalar sederhana ini mengajak berpikir bahwa bahan apa pun akan pada akhirnya terurai, meskipun butuh waktu berabad-abad.

Kertas dapat terurai menjadi kertas baru atau bentuk kemasan lain butuh waktu 2 hingga 5 bulan. Sedangkan plastik butuh waktu untuk selamanya. 

Begitu sebuah produk dinyatakan biodegradable dalam situasi dan kondisi tertentu, terdapat tantangan untuk meletakkan produk dalam kondisi itu dan dalam jumlah yang dapat diterima ekosistem tempat ia berada. Kecepatan mengurai yang berkelanjutan (sustainable) adalah sebanyak sebuah ekosistem mampu menyerap sebagai nutrient, dan tidak membahayakan. 

Saya pribadi lebih suka bentuk kemasan kertas berlabel food grade yang khusus digunakan untuk kopi selain citarasa lebih terjaga juga kemasan kertas terlihat seksi.

Akhirnya, ada dua macam tipe penikmat kopi yaitu, penikmat kopi dengan kualitas baik dan kualitas sedang begitu juga dengan hidup ini ada orang yang menjalaninya dengan baik dan ada juga orang yang menjalaninya dengan biasa-biasa saja, tinggal kita mau memilih yang mana.

Referensi

Liputan6, Sinar Mas Kembangkan 3 Tanaman Lokal untuk Bahan Baku Pulp