Aku lupa, bulan apa hari itu. Yang kutahu, di sana aku berada di ujung jalan berbatu. Menatap sepasang mata yang sedang tertawa, mengulum senyum entah pada siapa. Indah sekali, kataku detik itu. 

Aku tahu itu kamu, pun kamu tahu ini aku. Yang kau tak tau ialah hatiku, yang diam-diam sendu penuh dengan bayang-bayangmu. 

Karenamu, aku banyak membeli baju-baju baru. Untukmu, aku merias wajah dan mataku yang dulunya sayu. Aku hanya ingin terlihat indah di matamu. Membuatmu malu-malu ketika menatapku.

Lamban laun, aku sedikit merasa berhasil. Aku tak tau bagaimana mulanya dirimu. Tapi, kamu bilang kamu juga mencintaiku.

Kita setuju berjalan dalam cinta yang satu hari itu. Kita sepakat, terikat pada tali rasa yang kita anggap kuat. Kita bahagia, tertawa, dan dalam harap untuk tak pernah terluka.

Hari-hari yang kulalui hari itu, seandainya bisa, tak ingin kuhentikan dengan waktu. Terlalu indah kau mencintaiku, terlalu dalam hatiku ku berikan padamu.

Aku tak pernah takut bermimpi buruk. Karena bahkan, kau ada ketika ku layu dan terpuruk. Begitu beruntungnya diriku saat itu andai kau tau. Dicintai oleh seseorang sesempurna mu. 

Meskipun benar katamu, sempurna itu bukan milik manusia di alam semesta. Namun bagiku, untuk menggambarkanmu, aku tak punya kata lain selain itu.

Tanganmu yang senantiasa menggandeng erat bahuku. Senyummu, yang buatku lupa dengan sakit juga lelahku, membuatku lebih dari sekedar candu. Aku jatuh pada ruang yang kuharap tak ada pintu agar aku mampu terus selalu berada di situ. Dibersamaimu, hingga nanti diriku telah habis waktu. 

Banyak kubaca buku, juga ku dengarkan lagu-lagu. Namun sayang, semua itu tidak ada yang sanggup menggambarkanmu. Terlalu indah dengan kata-kata, terlalu manis dari sekadar bait-bait romantis.

Aku menulis, dengan mengenang segala yang hilang. Dengan rasa-rasa yang kau biarkan terbang perlahan berhamburan.

Aku tak tahu, apakah kamu sempat membaca cerita-ceritaku. Yang dulu inginku jadikan buku agar mereka tahu bagaimana indahnya diriku dicintaimu. Namun sayang, waktu tidak mengizinkan itu, kau terlampau pergi dan nyatanya tak pernah lagi kembali.

Kini, temanku ialah hanya bayang-bayangmu. Sisa-sisa suaramu yang bercampur dengan rindu di kepalaku. Berpadu menjadi satu, membiarkanku tak mampu tidur tepat waktu.

Sedang apa kamu di situ? Bagaimana kabarnya? Semoga senantiasa dalam cinta yang nyata. Kemarin kutemui dia di persimpangan jalan raya. Berbaju merah muda dan celana coklat tua. Aku tersenyum sama seperti aku melihatmu diujung jalan hari itu. Ia begitu cantik, rupanya kamu mau itu.

Mungkin, memang aku yang tak sama dengan yang kau mau. Aku hanya mengira kamu begitu mencintaiku. Tapi ternyata, seharusnya aku tak pernah seperti itu. Rasamu bukan seperti rasaku. Hatimu bukan sepenuhnya milikku.

Pertama kali mulutmu mengucap izin padaku, seperti aku masuk ke dalam ruang yang di mana itu aku tak tahu. Terlalu gelap juga senyap. Tak ada siapapun di situ, yang ada hanya aku yang tahu harus berkata apa kala itu.

Aku tak ingin memakimu. Sama sekali pun aku tak ingin membencimu. Aku masih mampu mengingat, bagaimana baik hatinya kamu terhadapku. Aku tak mau lupa itu, aku tak mau kamu membenciku karena aku lupa baikmu.

Tidak ada sama sekali yang indah dari kehilangan. Tak ada yang diam-diam tak menangisi kepergian. Aku masih manusia yang sama dengan mereka, aku kacau, aku hancur. 

Rasanya terlalu berat hariku ketika ku tanpamu. Terlalu letih berjalan sendiri. Terlalu perih tertawa padahal luka masih merah menganga. Aku tak tahu, di mana letak ruang yang indah seperti kala itu. Semuanya kosong.

Tapi, lama kuberjalan melewati ratusan pergantian hari. Aku diberkahi banyak sekali. Ternyata di diriku, ikhlas itu ada, sabar itu banyak. Aku tak menyadari dan terlampau jatuh jauh dalam meratapi pergi ini.

Ku hentikan sedih ku hari itu namun bukan untuk mencari cinta yang baru. Aku hanya sekadar ingin menjadi diri ini yang berbeda dariku yang lalu. Yang mengikhlaskan segala datang dan pergimu, bahagiamu, dan tawa-tawa mu dengan manusia-manusia baru.

Andai kamu tahu, di sini, bahagiamu masih diam-diam menjadi doa ku. Keselamatanmu masih menjadi harapan ku. Bukan aku masih cinta padamu, tapi hati ini masih terlalu berterima kasih atas penjagaanmu kala itu. 

Cukup disini, aku melihatmu bahagia selalu. Dengan siapapun itu. Seperti padaku kala itu, ku harap kamu selalu menjaga siapapun itu hati yang baru. Terima kasih untuk sabar yang pernah kau ajar. Untuk segala duka dan suka yang selalu ada dalam setiap langkah kecil kita.

Mengenalmu juga satu dari bahagiaku. Bersamamu apalagi itu. Semoga selalu do'a yang dititipkan setiap waktu itu, sampai pada hatimu. Pada kebahagiaan dan keberhasilanmu.

Salamku juga semoga sampai kepada nya yang kini sedang menemanimu. Terimakasih sudah menjagamu lebih baik dari yang ku mampu. Bahagia semoga selalu. Untuk rinduku, sudah lunas kubayar dengan mengikhlaskanmu.