Telah banyak bertebaran di berbagai media sosial sebuah prinsip yang menyatakan bahwa kemanusiaan diatas agama, atau kata lain agama tidaklah berpengaruh secara signifikan terhadap berbagai terjadinya kejahatan dan kebejatan moral yang akhir-akhir ini terjadi.

Memang prinsip itu lahir dari protes masyarakat umum terhadap tindakan yang negatif yang belum mampu dijawab dengan dogma agama. Dari sini, keyakinan terhadap agama mulai menurun dan menjadikan agama hanya sebuah rutinitas peribadatan yang belum mampu menjawab persoalan kemanusiaan.

Padahal jika kita sadari secara cermat, prinsip tersebut tidaklah salah, namun kurang benar saja. Yang terlupakan disini bahwa ialah kodrat manusia itu sebagai makhluk yang memiliki kesalahan, maka dari itu sangat mustahil jika manusia mampu berbuat benar terus.

Tidak terlepas dari kemanusiaan itu sendiri yang memiliki kemungkinan salah dan benar secara berimbang dan adil. Kemanusiaan juga merupakan hasil lahirnya naluri manusia sebagai makhluk yang sejatinya memiliki naluri untuk bertahan hidup dengan nyaman dari berbagai gangguan yang datang.

Intinya ialah bahwa kemanusiaan tidak selalu melangkah membawa pesan kebaikan, akan tetapi ada kemungkinan bahwa kemanusiaan mempunyai kesan negatif yang merupakan akibat dari pengaruh keseimbangan hakikat manusia sebagai makhluk yang mempunyai fase dalam kebenaran dan kesalahan.

Agama hadir dalam kehidupan universal sebagai “transportasi untuk transformasi” yang memiliki visi sebagai koridor tatanan aturan yang lebih kompleks dan rapi. Hal tersebut dapat kita ketahui dalam nilai-nilai positif kehidupan yang terkandung dalam ajaran berbagai agama yang diyakini sebagai ritual ibadah yang dianjurkan, bahkan diperintah.

Hal itu juga berlaku bagi nilai-nilai negatif kehidupan yang terkandung dalam larangan agama, bahkan hal demikian merupakan sebab adanya dosa untuk tindakan yang menyalahi agama dan pahala bagi yang melakukan hal-hal yang diperintah dalam agama.

Maka dari itu, sangat mustahil kemanusiaan berdiri tanpa agama. Agama telah hadir dengan berbagai ajaran yang didalamnya terdapat nilai-nilai kemanusiaan yang tertata untuk menghadirkan kehidupan yang mampu mengkontruks nilai-nilai kehidupan, sehingga manusia mampu memilah hal-hal benar dan salah sesuai ajaran agama yang diyakini.

Contoh sederhananya terlihat bahwa kenikmatan hidup hanyalah sesuatu yang sederhana bentuknya, seperti tidur disaat ngantuk, makan disaat lapar, dan minum disaat haus. Hal tersebut merupakan bentuk primer dari kebutuhan manusia untuk hidup.

Lalu, agama datang menyempurnakan hal tersebut dengan adanya suatu peribadatan “yang bertentangan” dengan mekanisme kebutuhan primer tersebut, contoh kecilnya yang dapat kita buktikan disini ialah adanya berbagai cara “berpuasa” dalam berbagai agama yang merupakan bentuk kedalaman spiritual untuk menanggulangi sikap berlebihan dalam berkehidupan.

Kemanusiaan tanpa adanya agama akan berakibat fatal, karena manusia memiliki kodrat yaitu adaptasi sehingga kemanusiaan tersebut akan menyesuaikan diri(beradaptasi) dengan ruang lingkup yang memberikan pengaruh, sehingga baik buruknya kemanusiaan tersebut sangat bergantung kepada tempat tinggal bagaimana kemanusiaan tersebut berkembang dan tumbuh.

Dengan demikian, dapat kita simpulkan bahwa salah satu cara mengkontruks kemanusiaan agar lebih terasa rasa positifnya daripada sisi negatifnya ialah dengan membangun tempat tinggal ataupun lingkungan hidup yang sehat, sehingga hidup mampu berkembang kearah yang lebih baik dan benar daripada sebelumnya.

Namun jika hal tersebut tidak dilakukan terlebih dahulu, maka resikonya ialah lingkungan yang tidak sehat tersebut hanya akan menyakiti kemanusiaan tersebut dan secara tidak langsung hanya menimbulkan sisi negatif dari kemanusiaan itu.

Namun agaknya manusia tidak perlu khawatir dengan hal menyedihkan tersebut jika kemanusiaan dibangun dengan pengaruh nilai-nilai agama yang didalamnya terdapat ajaran yang mampu menjadi benteng bagi hal buruk dan jembatan bagi hal baik.

Lalu bagaimana caranya menghadirkan agama sebagai suatu jembatan untuk menonjolkan sisi positif dari kemanusiaan itu? Cara yang paling utama ialah mengambil tindakan yang sesuai dengan ajaran agama yang diyakini, lalu mengimplementasikan nilai-nilai agama dalam tatanan kemanusiaan sebagai jalur teraman dan ternyaman yang ada saat ini.

Namun, cara tersebut dapat dilakukan tanpa melahirkan konflik antar umat beragama bahwa kemanusiaan merupakan milik semua agama yang ada, dan membuktikan bahwa semua agama berhak untuk memengaruhi nilai-nilai kemanusiaan.

Hal tersebut seharusnya dilakukan dengan asas “gotong royong” serta bukan dengan perpecahan yang disebabkan perbedaan agama dalam berebut pengikut yang menyebabkan kemanusiaan menjadi boomerang dengan menonjolnya sisi negatif yang disebabkan oleh hal demikian.

Kita harus akui, bahwa kemanusiaan merupakan ruang lingkup yang kompleks dan luas. Maka untuk hal ini, dibutuhkan proses yang tidak mudah dalam membenahi masalah yang ditimbulkan oleh kemanusiaan yang menyeleweng. Bagaimanapun, kemanusiaan ialah bahan utama dalam berdirinya suatu corak kehidupan yang dapat memengaruhi alam bawah sadar manusia dalam bertindak.

Untuk itu, kodrat manusia dalam beradaptasi sangat memengaruhi kemanusiaan itu sendiri. Sederhananya, agama memiliki sumbangsih yang efektiv dalam pengaruh manusia dalam beradaptasi dengan kemanusiaan itu sendiri.