Dalam suatu Seminar ‘Sejarah untuk Kebhinekaan dan Ke-Indonesiaan: Refleksi 60 Tahun Seminar Sejarah Nasional, 1957-2017’, pada 2017, sejarawan Hilmar Farid menjelaskan pentingnya menyusun suatu sejarah yang Indonesia sentris.

Penulisan sejarah Indonesia yang dominan selama ini masih warisan dari Belanda, dengan periodisasi serta arsip yang dibuat dalam perspektif mereka. Maka sejarah yang ada kini belum Indonesia sentris, belum mampu memasukkan unsur ethic, hasrat-hasrat normatif untuk memasukkan makna seperti nilai nasionalisme serta dekolonisasi. Suatu sejarah yang memerdekakan bangsanya bukan hanya dalam artian fisik, tetapi juga mental.

Buku Jejak Listrik di Tanah Raja karya Eko Sulistyo adalah satu dari sedikit buku sejarah tematik di Indonesia. Diawali kisah berdirinya Solosche Electriciteit Maatschappij (SEM), perusahaan penyedia listrik pertama di Surakarta yang berdiri pada 12 Maret 1901.

Dua kerajaan di Surakarta memiliki saham di SEM sehingga bisa menempatkan wakilnya sebagai komisaris: Raden Adipati Sasradiningrat, patih yang mewakili Kasunanan serta De Kock van Leeuwen sebagai utusan Pura Mangkunegaran. Seorang lagi, Be Kwat Koen, adalah seorang Kapiten Cina yang terkemuka di kalangan Tionghoa Solo.

Keberadaan listrik segera saja menjadikan Solo kota memicu lahirnya budaya perkotaan. Industrialisasi di kota Solo. Adanya penerangan di malam hari membuat pabrik-pabrik dan industri mulai mengenal sistem kerja shift dan lembur malam yang kemudian meningkatkan produksi. Lembur ini juga terjadi pada usaha batik dan tenun rumahan.

Tersambungnya aliran listrik di Surakarta juga berdampak pada kehidupan malam. Angka kriminalitas menurun drastis sejak adanya penerangan listrik di malam hari. Listrik juga menggairahkan dunia hiburan di ruang publik perkotaan seperti Taman Sriwedari. Hadirnya pertunjukan bioskop dan wayang, juga taman hiburan yang menyediakan aneka permainan. Disukai bukan hanya orang Jawa saja, melainkan orang etnis lain dan bangsa Asing.

Buku Jejak Listrik di Tanah Raja (JLTR) menceritakan bila Taman Sriwedari juga menjadi tempat para pemuda dan pemudi tebar pesona. Banyak yang jadi bingung pulang ke rumah karena terkena cambuk asmara, demikian tulis buku itu. Berkat listrik pula, bioskop hadir sejak 1914, dengan berdirinya dua bioskop di perempatan Pasar Pon dan Purbayan.

Penerangan membuat kota dan kampung terlihat lebih bersih dan indah di malam hari, membuat nyaman kaki melangkah. Demikian kesaksian sastrawan Jawa yang juga Guru Gubernemen Surakarta, Yasawidagda tentang kemajuan di Solo dengan kehadiran listrik.

Dalam suatu tembang asmaradana dikisahkan, tepat pukul 18.00 seluruh lampu elektrik telah menyala semua, kediaman raja bersinar terang dengan kemuliaannya. Lalu pada pukul 19.00 kemuliaannya menerangi semua jalan.

Jejak Listrik di Tanah Raja memang banyak membahas kondisi sosial budaya Solo, termasuk kisah-kisah informatif yang jarang diungkap, seperti kisah Pakubuwono X yang sangat menikmati listrik. Sejak 1907, Madusuka, ruangan tidur pribadi Sinuhun (PB X) mulai dipasang instalasi listrik. Ini artinya PB X tidur dalam terang benderang, berbeda dengan lazimnya orang Jawa yang memilih tidur dalam keremangan, demikian catatan sastrawan Padmasusastra.

Puncak dari buku ini adalah uraian tentang pengaruh listrik dan kemandirian bangsa. Adalah Mangkunegara VI (1896-1916) seorang raja yang visioner, dan menjadi penggerak kemajuan industri dan perekonomian di Mangkunegaran yang sebelumnya nyaris pailit di era Mangkunegara V.

Ketika perusahaan listrik SEM berdiri di Solo, Mangkunegara VI menunjuk J.A.C De Kock van Leeuwen sebagai komisaris. Mangkunegara VI meyakini, De Kock van Leeuwen sebagai seorang profesional akan mampu mengoptimalkan kehadiran listrik untuk pengembangan industri dan memakmurkan praja Mangkunegaran, sebagaimana ia berhasil membawa pabrik gula milik Mangkunegaran kembali berjaya.

Tindakan Mangkunegara VI itu tepat sekali. De Kock menguasai segala masalah mulai dari teknis hingga tarif. Akibatnya, Mangkunegoro VII yang memerintah kemudian, tidak kesulitan untuk mengikuti perkembangan industri perlistrikan. Mangkunegoro VII kemudian berinisiatif mendirikan pembangkit listrik dan perusahaan listrik sendiri.

Setelah serangkaian riset dan observasi, Kali Samin di Tawangmangu dianggap sangat ideal untuk menjadi Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), yang bisa memasok listrik hingga ke wilayah Yogyakarta. Ini tentu saja merupakan kabar gembira bagi warga Surakarta, karena kebutuhan listrik dapat dipasok dari tempat yang lebih dekat. Pihak Mangkunegaran kemudian bekerjasama dengan SEM untuk mendirikan PLTA Kali Samin.

PLTA Kali Samin benar-benar terwujud, bahkan berhasil beroperasi selama tiga tahun. Bangsawan dan masyarakat setempat sangat mendukung proyek ini. Menambah kepercayaan pada Mangkunegaran yang sebelumnya sukses dengan pemanfaatan sumber air di Tawangmangu untuk industri air minum. Keberadaan listrik ini pula yang memacu lahirnya pariwisata di Tawangmangu. Segera bermunculan hotel-hotel yang ditunjang kehadiran listrik, juga obyek-obyek wisata yang menarik.

Sayang, pemerintah kolonial Belanda kemudian berbalik haluan. Listrik berkait dengan monopoli sumber energi strategis, yang hanya boleh dikuasai secara teknologi dan bisnis oleh pemerintah kolonial dan swasta pro kolonial. Golongan pribumi, meskipun secara finansial mampu, akan dihalangi untuk memiliki dan mengelola pembangkitnya sendiri.

Pemerintah kolonial dengan halus menjelaskan, membangun listrik dengan sumber daya alam sejatinya adalah urusan pemerintah, sehingga perlu ditinjau dulu sebelum menerbitkan izin eksploitasi.

Meski sejatinya ketakutan menjalar pada pemerintah kolonial Belanda yang tak suka pribumi dapat menyelenggarakan sarana vital seperti listrik. Penguasaan listrik di Tawangmangu oleh Mangkunegaran dianggap menyimpang. Kebijakan-kebijakan tentang listrik pemerintah kolonial, ternyata telah memasuki ranah politis, bukan ekonomi semata.    

Tidak sedikit masyarakat Surakarta menyesalkan keputusan Mangkunegara VII yang dianggap tidak berani berspekulasi mendirikan perusahaan listrik sendiri. Pembangunan PLTA itu dianggap terobosan penting bagi bangsa pribumi. Bukan hanya peningkatan pendapatan, serta rakyat menikmati tarif yang lebih murah, tetapi tentu saja bentuk kemandirian bangsa. Kemandirian ini akan memupuk lahirnya nasionalisme.

Langkah ini tentu saja menjadi ancaman bagi pemerintah kolonial Belanda karena berpotensi mengurangi pemasukan dan tentu saja mengganggu stabilitas politik. Kepercayaan publik terhadap Praja Mangkunegaran akan menguat lantaran mampu mengupayakan pengadaan listrik yang murah bagi bangsanya.

Demikianlah, listrik di Surakarta telah mempercepat kemajuan ekonomi, pendidikan, sosial dan budaya, tetapi hal terbesar adalah pencapaian kemandirian energi. Meski kemudian menjadi politis dan dihambat aturan, kemandirian bisa menjadi motor memerdekan bangsa pribumi dari kolonialisme Belanda. Inilah pelajaran terbesar yang bisa diambil dari hadirnya listrik di Surakarta lebih dari seratus tahun lalu, belajar menjadi bangsa mandiri agar disegani.

Jejak Listrik di Tanah Raja menjadi buku sejarah yang mampu memberi dimensi nasionalisme. Apa yang disebut Hilmar Farid sebagai langkah membangun sejarah yang Indonesia sentris.