60608_86424.jpg
https://www.google.com
Politik · 5 menit baca

Kemana Idealismemu yang Dulu...?

    Pada saat saya masih sekolah SMP saya sangat menggemari segala bentuk kegiatan keorganisasian, seperti OSIS, Pramuka, Remaja Masjid dan lain sebagainya. Saya seringkali merasa sangat bangga jika bisa terpilih menjadi seorang ketua Organisasi, atau ketua even di sekolah. Ada berbagai alasan mengapa saya sangat gemar berorganisasi, diantaranya saya waktu itu sangat ingin menjadi orang besar, pimpinan besar, dan karena saya mengidlakan beberapa tokoh politik yang menurut saya masih baik, bersih dan berintegritas.

    Waktu itu saya benar-benar mengagumi beberapa tokoh nasional, karena saya membaca beberapa biografi dan sepak terjangnya semasa masih muda. Mereka memilik track record yang hebat semasa masih muda, karena beberapa tokoh yang saya kagumi merupakan aktivis saat menjadi mahasiswa. Mereka begitu vokal dan berani dalam menyuarakan ketidakadilan, pelanggaran HAM, anti korupsi dan lain sebagainya. Namun itu berubah setelah beberapa tokoh yang saya kagumi telah cukup lama berkecimpung dalam dunia politik, tapi pada akhirya mereka terjerembab dalam dunia kotor politik .

    Miris memang, banyak diantara mereka yang terjerat berbagai kasus, semisal korupsi, perselingkuhan, suap, pencucian uang, nepotisme, dan masih banyak yang lainya. Padahal pada saat masih muda dan menjadi mahasiswa, mereka begitu lantang menentang itu semua. 

    Hal itu jugalah yang mempengaruhi saya ketika saya menginjak kelas 3 SMP. Pada saat itu saya kecewa berat, karena beberapa tokoh yang saya kagumi tidak sesuai ekspektasi saya. Saya merasa tertipu, atau memang saya yang salah dalam memilih idola.

   Karena waktu itu masih sangat muda , saya langsung menyimpulkan apa yang terjadi pada mereka. Mereka yang dulunya saat masih muda seorang organisatoris hebat, berjiwa kepemimpinan, dan penuh keberanian dalam bertindak. Justru semua itulah menurut saya yang menjadi sebab mereka melakukan itu semua. Mereka terlena dengan keagungan jabatan, hegemoni jadi seorang pemimpin, manisnya rayu rupiah, godaan wanita dan masih banyak lainya. 

    Karena saya hidup di desa dan tidak ada orang yang bisa diajak diskusi dan berfikiran yang sefrekwensi dengan saya, saya langsung membuat implikasi sendiri dari apa yang saya cermati. Ketika saya menginjak SMA, saya berubah total karena hal tersebut. Saya merasa kecewa berat dengan tokoh yang saya agungkan semasa saya masih SMP dan saya ikuti sepak terjang dan cara berfikirnya. 

   Efeknya ketika saya SMA saya berubah total, saya merasa benci dengan organisasi, benci dengan kegiatan yang melatih softskill, benci kegiatan ekstrakurikuler, dan kegiatan yang sejenisnya. Saya waktu itu berfikir organisasi akan melatih seseorang menjadi berjiwa pemimpin dan katika jiwa-jiwa kepemimpinan telah merasuk dan over dosis maka setelah itu mereka tinggal menunggu kerusakan.

    Ketika seorang telah dirasuki kebanggaan yang berlebihan dengan menjadi seorang pimpinan, menurut saya selanjutnya akan ada rasa acuh tak acuh terhadap kritikan dan saran dari orang lain. Mereka yang telah terjangkit manisnya jadi atasan atau pimpinan akan semakin bersikap intoleran terhadap kritik dan saran yang di ajukan. Ada sejenis rasa diktaktoris pada seseorang yang sudah terbisa menjadi seorang pimpinan. Mereka akan mengangggap pendapat mereka yang paling benar dan apa yang dikerjakanya paling tepat. 

    Dan ketika itu sudah ada pada seseorang, maka orang tersebut akan kehilangan idealisme yang selama ini mereka pegang saat mereka masih muda. Anggapan itulah yang membuat saya berubah total menjadi pribadi yang lebih tertutup dan tidak suka dengan segala kegiatan yang bertujuan untuk memupuk jiwa kepemimpinan.

    Sekarang ketika saya sudah dewasa dan sudah melewati segala lika-liku kehidupan saya mulai menyadari bahwa anggapan saya selama ini salah. Anggapan saya tentang biang hilangnya idealisme seseorang adalah karena kegetolan mereka pada segala jenis kegiatan keorganisasian. Itu dulu hanya anggapan yang keliru dari seorang anak yang baru menginjak dewasa dan sedang mencari bagaimana hidup yang ideal. 

    Tapi sebenarnya apa yang membuat idealisme yang mereka perjuangkan semasa muda hilang saat mereka benar-benar terjun ke dalam dunia yang nyata. Ada beberapa faktor penyebab hilangnya idealisme dan prinsip seseorang ketika benar-benar terjun dalam dunia yang sebenarnya. 

    Tentu sangat berbeda kondisi mereka saat masih menjadi mahasiswa dan ketika benar-benar terjun kedalam kehidupan yang sesungguhnya. Saat menjadi mahasiswa hampir tidak ada godaan dan rayuan dan motivasi untuk berbuat kepicikan, karena tidak ada objek yang berusaha merayu untuk berbuat tersebut. Berbeda saat benar-benar masuk kedunia real di manyarakat. 

    Begitu banyak godaan dan rayuan untuk berbuat kekeliruan dan kejahatan. Rayuan dan godaan tersebut berasal dari lingkugan yang sudah tidak sehat, kotor dengan penghuni yang  tidak waras juga. Dengan kata lain orang yang sebelumnya baik dan idealis akan terjerembab dalam lingkaran setan yang sudah tersistem dengan baik. Dengan meminjam bahasa joke dari film Warkop DKI, bisa dikatakan orang yang telah masuk dalam lingkungan seperti itu, 'maju kena mundur kena'.

    Oleh karena itu sekuat apapun seseorang memegang idealisme dan prinsip mereka, akan sangat berat untuk tetap bertahan dalam lingkungan demikian. Adapun jika seseorang dengan tetap berpegang teguh pada prinsip dan idealise mereka, mereka akan tersingkir dan terkucilkan dalam lingkungan tempat orang tersebut akan mencoba masuki.

    Hal itu diperparah jika seseorang terlalu mementingkan rasa dibanding dengan profesionalisme kerjanya. Maksudnya adalah, semisal dalam suatu lingkup pekerjaan ada teman atau partner yang sudah sangat akrab, namun teman yang buruk dan tidak punya pegangan, pastilah terjadi gejolak dalam diri orang tersebut. 

    Jika dia mementingkan rasa, maka dia akan membela teman, meskipun teman tersebut sudah tidak baik sebelumnya. Nah.., hal inilah yang membuat idealisme seseorang tersebut hilang karena pengaruh temanya tersebut. Sebaliknya jika dia memegang teguh profesionalismenya, dia akan terkucilkan dari teman-teman dan lingkungan. 

    Hal lain yang membuat hilangnya idealisme seseorang adalah karena lingkungan pribadi orang tersebut. Maksudnya adalah adanya semacam force  atau tekanan, dari semisal keluarga, istri, anak, dan lain sebagainya. Ketika tekanan tersebut semakin besar, tentu orang tersebut akan berusaha untuk mengurangi tekanan tersebut. Ketika dalam proses pengecilan tersebut tidak dapat dilakukan dengan cara yang benar, dalam bahasa agamanya halal. Maka orang tersebut akan mengorbankan idealisme dan prinsipnya demi mengurangi tekanan tersebut. 

    Faktor lain yang mempengaruhi hal tersebut berasal dari dirinya sendiri. Dia seolah merasa kaget dan tidak siap dengan segala hingar-bingar kehidupan dan dunia yang dihadapinya. Ketika sebelumnya dia begitu kuat dalam memegang idealismenya, mereka seperti berpindah haluan karena godaan yang begitu nyata. Ketika seorang idealis telah berubah menjadi orang yang penuh orientasi dan kepentingan, disaat itulah idealismenya akan semakin ditinggalkan. 

    Pengaruh paling kuat adalah pengaruh perut dan kelamin, dalam artian pengaruh harta dan segala prajuritnya dan seks dan segala pembantunya. Ketika seseorang sudah terjangkit orientasi perut dan kelamin, maka siap-siaplah orang tersebut akan kehilangan prinsip, ajaran dan tentunya idealisme yang mereka pegang dengan kuat selama ini. 

    Di zaman now sangat sedikit orang yang masih idealis dan terus memegang teguh idealismenya di tengah hiruk-pikuk godaan dunia yang melenakan. Sungguh dilema memang, tapi itulah kenyataanya, sungguh berat memang. Semoga kita bisa terus memegang nilai, prinsip, dan idealisme kita yang telah kita pegang teguh selama ini meskipun ditengah lingkungan dan godaan dunia yang terus mengancam.