Ibu Rumah Tangga
2 bulan lalu · 282 view · 3 menit baca · Wisata 24883_60310.jpg

Kem Nipah Panjang: Tradisi dan Kepercayaan

Suatu ketika saya mengikuti perjalanan pulang teman saya, Masyitah Sulaiman, menuju Nipah Panjang, Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Dari Kota Jambi, kami mengendarai sepeda motor. Melalui jalan-jalan berlubang dan bermandikan debu. Ketika tiba-tiba gerimis menyerbu, debu-debu menghilang, sejenak. 

Lubang-lubang jalan digenangi lumpur hingga tak kelihatan warna aspal jalan. Kami disambut ribuan jembatan dengan ramah. Aroma lembap tanah dan rerumputan di tepi anak-anak sungai di sepanjang jalan menguar ke permukaan. Betapa saya ingin mengulang kembali perjalanan itu.

Perjalanan kami tempuh selama lima jam. Tentu, ini tergolong waktu yang agak lama. Memang lebih lambat satu jam dari perjalanan normal jika ditempuh dengan kecepatan rata-rata 60 km/jam. Bahkan, ada juga yang tiba lebih cepat daripada itu. 

Kami memang ingin menikmati perjalanan dengan obrolan panjang setelah lama tidak bertemu. Sekadar menghilangkan perasaan-perasaan yang tertahan. 

Kelak kami akan melihat ritual mandi safar di Air Hitam Laut Kecamatan Sadu, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi. Ritual yang diyakini suku Bugis Tanjung Jabung Timur sebagai hari istimewa bahwa selaku masyarakat yang mencintai Sang Khalik, kita perlu meminta keselamatan dari segala marabahaya dan penyakit, juga menyucikan diri dari segala dosa dengan cara mandi bersama di Sungai Batanghari.

Kami tiba di Kecamatan Nipah Panjang pada H-1 acara mandi safar. Rumah para warga panggung-panggung. Di bawahnya, sampah-sampah tergenang bersama air Sungai Batanghari. 

Hampir setiap rumah memiliki sampan. Sampan-sampan ini digunakan sebagai alat transportasi bila mereka ingin ke darat (baca: kebun). Sebab untuk pergi ke kebun, mereka harus menyebrangi Sungai Batanghari yang luas. Sampan juga digunakan bila banjir tiba, meski sebagian masyarakat juga memiliki perahu motor/ketek.


Keluarga Masyitah menyambut saya hangat. Mereka tengah sibuk menanak lepat dan ketupat. Lepat dan ketupat ini kelak akan disajikan bersama lauk untuk dinikmati bersama pada esok pagi, akhir bulan Safar yang dirayakan. 

Karena keponakan Masyitah ada tiga yang lahir di bulan Safar, maka emak merebus lepat dan ketupat agak banyak. Selain untuk dinikmati sendiri, makanan ini juga akan dibagi-bagikan ke tetangga terdekat.

Rencananya, keesokan paginya kami akan ke Air Hitam Laut Kecamatan Sadu. Untuk menuju ke sana, kami  harus menempuh jalur air menggunakan perahu ketek. Biasanya, hanya dua puluh menit saja sampai ke seberang. Setelah itu perjalanan akan ditempuh kurang lebih dua jam menuju lokasi. 

Pagi itu diguyur hujan lebat. Jika demikian, kondisi jalan pasti akan licin dan sangat tidak dianjurkan perempuan nekat melakukan perjalanan ke sana. Begitulah pesan emak, ibu dari teman saya. 

“Di Kem Nipah Panjang sore ini akan ramai orang-orang mandi. Datang saja ke sana sebab lokasinya tidak jauh dari rumah,” kata perempuan paruh baya itu. 

Baiklah, kami mengurungkan niat ke Air Hitam Laut Kecamatan Sadu.


Lepat dan ketupat yang selesai ditanak disajikan bersama lauk di atas talam. Tiba-tiba datang seorang pemuka agama dan keluarga Masyitah lainnya. Makanan itu digunakan sebagai perjamuan. 

Pemuka agama membacakan doa dan menuliskan huruf Arab pada selembar daun. Kemudian daun itu dimasukkan ke dalam bak mandi. Dipercaya mampu memberikan keselamatan bagi siapa saja yang mandi dengan air yang telah dicelupkan daun itu.

Ketika waktu menunjukkan pukul 16.00 WIB, saya dan Masyitah pergi ke Kem, sebuah dermaga berbentuk huruf T yang lama tak digunakan. Di dekat sana ada rumah-rumah batu yang sebagiannya belum selesai. Masyitah mengatakan bahwa Kem ini selesai dibangun pada tahun 2007. 

Awalnya, pemerintah berharap agar dermaga berbentuk huruf T ini digunakan para nelayan. Namun hingga saat ini, para nelayan sangat jarang memakainya.

Tiba di sana, orang-orang sudah ramai. Tak ketinggalan para pedagang makanan yang mencari peruntungan. 

Dari kejauhan, kapal-kapal dan ketek berlayar menuju Kem. Penumpangnya satu per satu menceburkan dirinya ke dalam Sungai Batanghari. Tak ada ritual khusus, hanya beberapa saja yang mulutnya komat-kamit sebelum menceburkan dirinya ke sungai. Entah membaca mantera atau doa. 

Jarak antara atas Kem ke  Sungai Batanghari kira-kira hanya 20 m. Beberapa yang berada di atas pun melakukan aksi mandi safar dengan terjun langsung ke sungai. Beberapa lainnya hanya menonton. Ada polisi laut dan juga tentara yang mengawasi dengan kapal khasnya. 

Yang membuat saya tersenyum, pada sebuah jembatan menuju Kem, ada sebuah spanduk yang bertuliskan: “Hati-hati ada buaya. Buaya laut lebih ganas daripada buaya darat”.


Sambil menikmati aksi mandi ini, saya diam-diam mengamati pembicaraan mereka dengan dialek khasnya. Jika di Kota Jambi sebagian kata yang berakhiran huruf “A” berubah menjadi “O”, maka di kampung ini menjadi “E”. Bahasanya tak jauh beda dengan film kartun Upin-Ipin. Dialek Melayu-nya lebih mendayu-dayu. 

Setelah saya telusuri lebih lanjut, memang pendatang awal Nipah Panjang adalah seorang raja dari Melayu Timur yang dahulunya melarikan diri dari kejaran Belanda. Barangkali sejarah inilah yang memengaruhi bahasanya.

Saya lantas mengarahkan mata menuju bunga-bunga ungu yang daunnya yang membentang hijau. Ia tumbuh di tepian sungai, namun di tengah sungai, serentetan enceng gondok tergenang gelombang mengikuti nasibnya dan semriwing angin menyergap tubuhku tiba-tiba.

Artikel Terkait