Berbicara mengenai keluhan memang tidak akan ada habisnya. Selagi masih berada di dunia dan masih diberikan kesempatan untuk menikmatinya oleh sang Pencipta, masalah pasti akan menyertai. Dan dari masalah tersebut tidak jarang darinya terbitlah keluhan. Menurut penulis, tidak sedikit keluhan timbul karena perasaan yang susah untuk menerima sesuatu hal, walaupun sebenarnya keluhan tersebut mau tidak mau harus diterima dengan lapang dada.

Sebagaimana yang dialami, anak kelahiran 1997/1998, lahir ketika negeri ditempa krisis bukanlah sebuah pilihan, begitu pula saat pemerintah melalui KEMENDIKBUD-nya dahulu menerapkan Ujian Nasional "berpaket-paket" ketika angkatan ini berseragam putih merah, putih biru dan putih abu-abu di tingkat akhir. Bahkan saat ini pun, keluhan serupa tak sama pun kembali terlontar. Mau wisuda, jadi tertunda, mau skripsi juga terkendala, dan mau bimbingan proposal pun sama halnya, masih sulit.

Pemilihan diksi "bayi" sengaja penulis cantumkan pada judul artikel ini, karena dianggap unik dan mewakili kondisi demi kondisi yang dialami anak kelahiran 97/98. Ketidakmampuan memilih dari rahim siapa, kapan dan dimana lahir, menjadi alasan kenapa "bayi" menjadi kata yang terpilih dari ribuan kata yang “berseliweran” di alam ide. Lahir pada tahun tersebut memang memberikan kisah tersendiri bagi insan-insan yang terlibat didalamnya. Sangat wajar memang, jika kisah setiap angkatan tidak sama, walau ada yang mendekati kesamaan. Tapi berbeda adalah sebuah keniscayaan yang akan memberikan harmonisasi hidup dan kehidupan, sehingga akan berjalan indah.

Sedikit flashback dengan mata kuliah Theologi Islam ketika penulis dahulu kuliah, sebagai makhluk bertuhan, sekali lagi perkara ini bukan pilihan, walau terkadang ikhtiar ambil andil ketika sebuah akan takdir terjadi, karena Sang Penentu (Tuhan) lebih berhak menentukan apa dan bagaimana yang terbaik untuk hamba-hamba-Nya. Walau demikian, bukan berarti sikap fatalis harus "eksis", karena sebagai manusia, kita dikarunia istithoah (kemampuan) dan masyiah (kemauan) untuk mewujudkan suatu perbuatan. Pun begitu, bukan berarti mengharuskan kita bersikap over confident bak aliran Qadari, sehingga free act without God can make it true, karena tidak semua perbuatan terwujud atas prakarsa seorang diri. Sekali lagi, Sang Pencipta tahu mana perbuatan dan takdir yang harus dikecap hamba-hamba-Nya.

Kembali lagi ke topik awal, lahir ketika krisis moneter bukanlah pilihan, karena sebagai calon bayi tidak diberikan wewenang untuk memilih lahir dari rahim siapa dan kapan. Lahir dari rahim siapa dan kapan tersebut merupakan wewenang Sang Maha Pencipta, karena Dia-lah yang paling berhak menentukan hal ihwal perkara ini. Walaupun demikian, merupakan suatu kebangggan, karena  orangtua angkatan ini berhasil melewati masa-masa kritis untuk membesarkan anak-anaknya hingga tumbuh besa.

Masa-masa selanjutnya, lagi-lagi, angkatan 97/98 mungkin sebagian besar diuji kembali, khususnya ketika ujian akhir secara serentak dilakukan secara nasional. Soal UN yang “berpaket-paket” menjadi tidak jarang menjadi  "lengket" di benak kepala para pejuang di kelas akhir, baik ketika angkatan ini menginjak kelas 6, 9, dan 12, sehingga menjadi “racun mindset sebelum bertempur” dengan pensil dan penghapus sebagai "ALUSISTA UN" saat itu. Sebenarnya, hal itu sah-sah saja untuk diterapkan dengan tujuan mengajarkan kita selaku penerus bangsa agar jujur sedari dini. Efek negatifnya ya, karena masih berupa kebijakan baru, tidak sedikit yang menganggap ini sebagai tambahan beban.

Dan ujian tetap berlanjut, pada episode yang berbeda khususnya ketika duduk di bangku perkuliahan, lagi-lagi angkatan ini harus melewati masa sulit. Kemunculan virus Corona jenis baru di Wuhan yang kemudian menjadi pandemi global menjadi ujian selanjutnya yang tidak bisa dielakkan. Masa-masa sulit yang tidak hanya secara nasional dialami, tetapi dunia internasional yang sebelumnya sudah lebih dahulu mengalami. Tidak hanya berdampak sektor-sektor vital seperti ekonomi, dunia pendidikan tinggi secara khusus juga berdampak. Masalah-masalah konkret kemudian bermunculan, seperti wisuda tertunda, skripsi dan bimbingan proposal yang terkendala.

Bahkan tidak jarang juga, ada kampus-kampus mengadakan wisuda online. Wisuda yang notabenenya merupakan momen yang ditunggu-tunggu oleh pejuang skripsi, saat ini menjadi "selebrasi" yang berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Momen perayaan yang biasanya dengan meriah diadakan di panggung megah, mau tidak mau harus harus diterima dengan hati terbuka oleh wisudawan/ti yang kampusnya menerapkan "wisuda maya".  

Secara umum, ini adalah ujian untuk kita. Kita adalah aku, kamu, dia, dan mereka. Karena itu, sudah seharusnya kita berjuang bersama, berjuang sesuai dengan peran kita masing-masing, para petugas medis yang sekarang harus berjuang keras, pemerintah dengan kebijakannya yang tentu masyarakat berharap kebijakan yang tepat, para mahasiswa dan pelajar dengan pendidikannya dsb. Sahabat satu angkatan, mungkin kita mengeluh di saat-saat dahulu dan sekarang, ketika ujian demi ujian menghadang satu per satu di setiap level-nya bahkan mungkin hingga saat ini. Tetapi, selagi napas masih dikandung badan dan selagi dunia belum berakhir, masih ada peluang yang tak boleh terlewatkan untuk perbaikan, perbaikan masa sekarang dan masa depan. Yuk sama-sama berjuang demi kebaikan bersama.