/Sekam Tebu/


Aku memarahi harapan, karena nyali yang begitu tinggi hingga gelagapan. Tidak kah terpikirkan olehmu kenyataan yang mampu menamparmu dengan perlahan. Sadarlah, kita bukan seseorang yang punya berkah tanpa ketiadaan.


Oh, doaku kurang rapat, sedekahku mana sempat. Tidak habis dimakan belatung, amal pun tergantung pada sisa-sisa nasib yang sia-sia termakan nafsu babi. Itulah keluh para pujangga picik. Menjual nasib demi nafkah birahi yang tak sempat ia benahi.


Malang sekali nasibmu, harus menangisi harapan semu dari sisa-sisa harapan yang menjadi sia-sia. Padahal harga dirimu tak sebanding tebu yang tertumpuk dalam sekam yang mengabu.


/Tuhan yang Beradat/


Aku tumpuk layur imaji dalam kepalan, menangisi dosa yang menumpuk padat. Ampunilah dan ampunilah itu ujarku dalam tangisan priyai yang meminta belas kasih Tuhan yang maha beradat.


Kujinjitkan langkahku, seraya mulut terbujur kaku dalam hati besi yang mengeras dibuahi dosa-dosa. Ujung pintu pengampunan sudah jauh terasa karena mulut sudah bebal banyak bual.


Mampukah Si Pendosa ini datang kepada-Mu, meski waktunya tidak baik karena rumah ibadah ditutup rapat oleh negara yang mulai berani masuk dapur agama.


/Raga/


Bulan purnama tidak lagi cerah atau mataku yang mulai hilang arah karena tidak mampu lagi menemukan rumah. Oh, sungguh menyiksa mata. Orang-orang yang bergelimpangan mencari raga padahal akal pun belum punya. Disibukinya nasib yang tak kunjung bahagia.


Karena harta dunia, aku berani menutup mata. Tidak pandang bulu apalagi masa lalu. Selagi tanpa ragu, untuk apa masih menunggu? itulah jawabnya si pengadu nasib yang tak kunjung bahagia.


Tetapi raga apa daya, sisa-sisa ludah mengisi media sosial berharap belas kasih dari para pengguna maya. Sayang seribu bayang, mereka tidak lagi mudah tertipu dengan rayuan manis kata-kata motivasi. Perut mereka yang lapar tidak lagi menerima motivasi yang menampar.


/Bajingan/


Termuakilah hidup ini dalam riak air menjijikan. Mulai menghalangi gagap langkah yang sudah tersusun jauh hari. Berharap menari-nari dalam derita tangis tetangga sebelah yang sudah berani menghalangi arah langkah.


Oh, rakyat menyebar ke segala arah. Tidak pernah ditemui lebih baik atau mereka memang seharusnya tersiksa dalam luka yang membatin. Dibalurinya hidup ini dengan sayatan pahit pemuja harta.


Maka terisilah penjara dengan menjilat para bajingan laknat, terpenuhilah senyuman kutu loncat. Tarik ulur seenak dahi tanpa peduli ada yang tersakiti. Dasar para bajingan.


/Anak Jaman/


Dapur rumah terserahkan, berharap untuk dibakar semaunya. Dimakannya kayu hingga rapuh padahal umur masih sebesar jagung. Memang nasib siapa yang menanggung selain si bocah ragu yang mulutnya penuh keluh.


Dasar anak yang dimakan jaman, nakal dikit maunya main aman. Kotor-kotoran mana berani, senggol dikit pasti masuk bui. Dimakinya media sosial sehari-hari, padahal gigi masih bisa dihitung jari.


Dasar anak yang dimakan jaman, pemalas bermuka dua. Masih untung diberi dapur ganda, satu meledak tumbuh seribu.  Sudah malas aku memakimu, sebaiknya bereskan bajumu dan naikan kakimu, Segera pergi ke alam kuburmu.


/Ledakan/


Sudah ku tengok nisan kayu, hanya bertuliskan nama tanpa suara. Sedih hati yang sudah membatu karena berisi riak tanpa nada yang membantu.


Dua puluh tahun sudah bersua, harmoni langit penuh canda. Berharap menangisi yang tersisa tetapi tanpamu mana bisa.


Dan tinggal kita yang tersisa untuk terbebaskan dalam mimpi yang harganya mahal. Karena kitalah sang pemimpi yang tidak pernah bangun pagi.


/Bayi/


Si balita terlahir sempurna, tentu saja tidak ada yang sempurna. Tetapi fisik dan jiwa terlihat prima, seperti lahir dari tangan dewa. Tentu saja, aku tidak mengenal dewa karena sibuk mengurusi yang nyata.


Kelahiran si balita disambut oleh pelita, cahayanya masuk tanpa sisa. Hujan pun seperti enggan berlabuh mungkin malu jika berhasil jatuh. Sayang sekali hujan hadir dari mata sang ibu yang tidak tahu bagaimana cara menanggapi burung tetangga.


/Motivasi/


Gigitlah nasib dengan kuat karena sukses penuh syarat, ujar motivator jahat yang kalau ngomong seenak jidat. Aduh, dia lupa membagi doa, siapa tahu orang-orang butuh mantra. Kiat-kiat sukses biar orang tua bangga padahal anaknya baru saja dibodohi tetangga.


Memang nasib di atas dadu, makanya sulit diangkat dengkul. Mau usaha tapi cuma mengadu. Eh, dua tiga sawah akhirnya tercangkul. Senyum istri menyambut di ujung purnama berharap jatah tidak diambil rata.


Datangnya suami bukan memberi nasi tapi suap-suap motivasi, aduh malang sekali jadi orang dungu. Mendengar orang lain bermodal headset, suara di dalamnya memang syahdu tetapi cuma mau menguras isi dompet.


/Aplikasi/


Bersandar pada cinta, orang-orang mulai datang dan pergi. Memang begini rasanya hidup dalam dunia penuh warna. Ya, cinta memang memberi warna tetapi berlebihan malah membuat mati rasa.


Oh, mati rasa mungkin lebih enak daripada mati hati. Berharap mampu menjaga hati tapi diam-diam membuka aplikasi. Mulut berani sumpah tapi isi rekening mana bisa diberi sumpah. Diam-diam memesan tanpa kesan, disuguhinya birahi berharap dosa tidak dibawa mati.


/Sejaman/


Dua ribu dua puluh satu kita berada, tetapi berat masalah sudah terasa. Memang jaman punya cerita termasuk tahun-tahun penuh derita. Apakah ini mendorong kita untuk lebih peduli dengan sekitar.


Jaman sudah pudar, tak perlu miris apalagi menangis. Karena mereka yang sering teriris pasti mudah terkikis. Jangan jadi pengemis yang mengharap belas kasih tetapi tidak pernah dihargai. Itulah keadaan kita di jaman penuh bengis. Berharap menyeka tangis tapi harus terus menerima tragis.


/Habis/


Jalan terbuka mengiringi sirine mobil, terbaringlah ia dalam peti. Bisikan rintih saling bersautan menghela suara yang tak berhenti penuh doa. Apakah ini akhir dari malam yang dinantikan? aku tidak sabar melihatnya lebih dalam.


Menuju semesta yang menguak tabir, aku lupa mengisi bir. Jiwa-jiwa mabuk tertuju dengan muka kelam. Hatiku malah bingung di akhir malam. apakah ini akhir dari sebuah puisi? aku tidak sabar melihatnya lebih dalam.


Habis ini, apakah puisiku akan mati lebih cepat atau abadi dalam peti. Aku harap pembaca tidak mati agar membawanya hidup abadi. Nasib puisi basa-basi ini tidak akan mati. Ia hidup dalam sunyi karena waktu yang masih mengiringi langkahnya menuju abadi.