Di dalam sebuah keluarga yang baru menikan, salah satu plenning yang menjadi hal utama adalah memiliki anak, dan rencana masa depan si anak menjadi prioritas utama bagi kebanyakan keluarga. Mulai dari hal-hal yang paling sederhana mesti di perhatikan oleh ibu dan ayahnya untuk mendukung dan bekembangnya anak hingga menjadi dewasa nanti. Dengan rasa cinta kepada anak, ibu dan ayah biasanya memperhatikan lingkungan disekitarnya.

Dalam setiap keluarga memiliki caranya masing-masing dalam mendidik dan merawat anaknya hingga bisa tumbuh dewasa dengan normal. Salah satu cara yaitu dengan mendaftarkan mereka ke sekolah-sekolah favorit atau elit dengan biaya yang mahal. Tapi akan timbul pertanyaan, bagaiman dengan keluarga yang tidak mampun? Jika hanya sekolah yang dijadikan ukuran dalam berkembangnya kecerdasan anak. Maka, kenapa masih ada anak yang kurang pintar.

Saya masih teringat dengan si jenius Thomas Alva Edison yang memiliki 1.093 hak paten, dan salah satu dari penemuannya yaitu lampu listrik yang kita gunakan saat ini. Beliau sewaktu sekolah sering mendapatkan nilai yang rendah, maka pihak sekolah memberikannya  sebuah surat ditujukan kapada ibunya.

Kemudia ibunya membaca dengan suara keras “Putra anda seorang jenius, sekolah terlalu kecil menampungnya, dan tidak memiliki guru yang cakap untuk mendidiknya, agar anda mendidiknya sendiri” jauh setelah ibunya meninggal Thomas Alva Edison telah menjadi penemu ternama, secara tidak sengaja dia melihat  surat yang terlipat disorokan sebuah meja, dia membuka dan mebaca isinya “ putra anda seorang  anak yang bodoh, kami tidak mengijinkan anak anda bersekolah lagi“ ternyata isi dari surat tersebut bertolak belakan dengan yang di bacakan oleh ibunya.

Dari kasus Thomas Alva Edison  menjadi jenius ini kita bisa menarik benang merah, bahwa setiap anak memiliki hak untuk cerdas dan mengembangkan kapasitas intelektualnya, tapi apakah lembaga resmi seperti sekolah yang membuat anak-anak menjadi cerdas? Jika, berpikir seperti itu maka ada yang salah dengan anda, Yang menganggap sekolah sebagai ukura utama dalam perkebangan dan kecerdasan anak. didalam keluarga itu sendiri anak dapat bekembang dengan baik. jika di perhatika tumbuh kembangnya.

Keluarga adalah satu unit kelompok sosial yang cakupannya kecil, dimana dalam kelompok tersebut anak bisa dan dapat belajar banyak kerena antara ibu dan anak dan atau anak dan ayah adalah memiliki hubungan yang erat secara biologis, sehingga lahir atau tumbuh emosional yang terjadi secacra alami dari hubungan antara orang Tua dan anak. Dengan adanya hubungan secara biologis ini maka transfer ilmu dan karakter yang di bangun memiliki pondasi yang kokoh terhadap perkembangan kehidupan anak.

Hubungan baik yang tercipta antara anak dan orang tua akan membuat perasaan aman dan kebahagiaan dalam diri anak. sebalinya hubungan yang buruk akan mendatangan akibat yang sangat buruk pula, perasaan aman dan kebahagiaan yang seharunya dirasakan anak tidak lagi dapat terbentuk, anak akan mengalami rasa trauma emosional yang kemudian dapat ditampilkan anak dalam berbagai bentuk tingkah laku seperti menarik diri dari lingkungan, bersedih hati, pemurung, dan sebagainya.

Orang tua dan anak adalah satu rangkaian yang terhubung, memberi kekuatan dan peran dalam proses pendidikan anak di usia dini. Jika anak dan orang tua tidak memiliki ikatan emosional yang baik. Maka, besar kemungkinan anak secara emosional akan terganggu. Dalam mendukung proses pedidikan anak dalam lingkup keluarga, perlu diamati setiap perkembangannya. Karena interaksi antara anak ada oang tua adalah membagun hubungan emosional dan sosial yang akan mempengaruhi mental dan sosial budaya dimana anak dibesarkan.

Kerena orang tua memiliki peran aktif dalam mendidik karakter dan kecerdasan anak. Maka, orang tua harus mampu menjadi jembata penghubung antar sifat positif dan ilmu yang akan di transfer ke generasinya. untuk mendukung perpindahan pengetahuan yang pisitif antara anak dan orang tua.

Maka, orang tua juga perlu menyadari untuk meningkatkan pengetahuannya. Karena saya masih percaya bahwa jika kita tidak memiliki sesuatu, maka kita tidak akan dapat memberi sesuatu terhadap orang lain khususnya pada anak.

Didalam mengembangngkan intelektualnya anak-anak harus merasa aman terhadap orang-orang disekitarnya, terutama dilingkungan keluarga sebagai unit yang kecil untuk bersosialisasi. Dan mendukung setiap tingkah yang mengarah ke hal-hal yang membawa kebaikan untuk perkembangannya.

Anak perlu di arahkan dan di hadapkan dengan sesuatu hal yang positif, karena di umur mereka yang kecil, mudah sekali meniru apa yang di lakukan orang lain. Apalagi saat ini siaran televisi di indonesia yang tidak layak ditonton oleh anak-anak di bawa umur.

Saat ini teknologi informasi mengalami perkembangan yang begitu pesat, dimana anak-anak mampu mengakses apa saja di tangannya dengan mudah dan cepat lewat smartpohen. Ini salah satu yang perlu di antisipasi para orang tua terhadap buah hatinya. Dengan ditambah lagi tontonan di siaran televisi yang menurut saya adalah sebuah pembodohan masal yang tidak memiliki nilai estetika. Pendidikan dimulai dari lingkungan keluarga.