Tok… tok… tok…” Suara ketukan pintu itu membuatku sontak berlari menuju ruang tamu. Aku tahu, siapa yang tengah menunggu di luar rumah. Adalah seseorang yang begitu lama aku nantikan kehadirannya, seseorang yang telah lama tak kembali. 

Dari dalam rumah, harum tubuhnya sudah tercium menembus pusat saraf. akhirnya, seseorang yang dulu kuanggap mati, kembali.

Bapaaakkk…!!!” Laki-laki peruh baya itu menyambut hangat pelukanku yang telah lama mencari dekap. Kecupannya tak henti menjalari seluruh wajahku. Rindu yang selama bertahun-tahun tertahan, kini telah menemukan muaranya. 

Aku seperti menemukan air di tengah gurun yang tandus. begitu jelas kudengar detak jantungnya yang begitu menggelegar. Bak spectrum langit yang telah lama tertahan.

Treeenggg…” Alarm HP-ku seketika merusak suasana.

“Sudah dua kali lho HP-mu berbunyi. Kamu kok gak bangun-bangun, sih!” sementara Ibu sudah berdiri di samping kasur mematikan alarmku. Aku sontak terkejut dan terbangun. Waktu sudah menunjukkan pukul 06.30 pagi. Itu artinya tiga puluh menit lagi menuju terlambat. Begitu nyenyak tidurku rupanya.

Kamu kok nangis? Habis mimpi apa?” Ibuku tersenyum mengolok.

Gak ada. Habis mimpi nonton serial drama korea.” Balasku menahan kantuk.

Sana mandi! Sarapan di atas meja dapur. Uang jajan di atas kulkas, ya. cepetan lho. Setengah jam lagi kamu masuk kuliah, kan? Awas aja kalok telat!

Iya iya!” Balasku yang masih menahan kantuk.

***

Namaku Bagas. Hari ini adalah hari pertamaku masuk kuliah setelah satu minggu menjajaki masa kolonialisasi alias Ospek. Barangkali, hanya aku seorang diri yang menganggap kegiatan ini tak lebih penting dari sekedar nongkrong di kedai kopi. 

Bagiku, Ospek adalah masa berburu dan meramu dalam konsep modernisasi dengan dalih pengakraban. Titik.

Aku adalah tipe orang yang introvert yang lebih gemar menyendiri dan memiliki satu dua teman tapi sevisi dan tentunya satu selera denganku. Pantang berkawan dengan orang yang sulit beradaptasi dengan kepribadianku. 

Saat semua orang sibuk dengan sahabat barunya, aku justru sibuk dengan dunia imajiku, yaitu buku. Bagiku, setiap laman buku yang aku baca adalah proses berkenalan dengan orang-orang baru.

Hari ini, di pojok kantin, aku bertekat menghabiskan sisa dua puluh halaman novel favoritku sebelum mata kuliah yang begitu membosankan akan segera menyusul di jam berikutnya. 

Tak lupa kulumuri bibirku dengan secangkir kopi, agar mereka tak terbata-bata dalam memahami kata demi kata yang saling sambung-menyambung di setiap lamannya.

Boleh duduk di sini?” Belum saja kulumat habis satu halaman, tamu tak diundang pun datang.

Kursi lain sudah penuh. Boleh, ya?” lanjutnya.

Boleh. Silahkan saja.” Entah apa yang membuatku mengiyakannya begitu saja.

Widih, penggemar Ahmad Fuadi juga rupanya.” Seyumnya seolah sedang mengajakku bercengkrama. Rupanya, dia sedang memperhatikan novel yang aku baca.

Nggak. Mm, kebetulan aja sih. Tapi memang keren-keren kok karyanya.” Jawabku kaku.

Kamu sendiri?

Semua novel kusuka. Kalok yang Fuadi, aku cuman baca yang Negeri 5 Menara itu doang. Inspiring banget. Pengen baca yang lainnya, cuman aku belum punya.” 

Perbincanganku dengannya membuat aktifitas membacaku terhenti seketika. Entah kenapa, sorot matanya begitu menghipnotis untuk dipandang berlama-lama.

Kamu kutu novel juga rupanya.” Aku meresponnya dengan sebiris senyum.

Di rumah, novel sudah jadi teman main. Kalok lagi suntuk, ya, cuman novel aja sih yang bisa aku jadiin pelarian. Apa lagi pas lagi penat-penatnya.” Katanya polos.

Saat itu juga aku merasa telah dipertemukan dengan seseorang yang benar-benar satu visi denganku, satu selera, bahkan satu hobi. 

Untuk pertama kalinya aku merasa begitu tergugah untuk berbagi pikiran dengannya. Aku merasa sejalan dengan pikirannya. Seperti ada sesuatu yang membuat kontak batin kami saling tarik ulur.

Alih-alih ingin berbincang lebih lama, aku malah lupa waktu. Satu mata kuliahku hari ini terlewati begitu saja. Segera kuseruput habis kopiku. Penanda buku novelku bahkan tak kuhiraukan ada dimana. Aku bergegas pamit. Belum sempat kulangkahkan kaki, ia berdiri dan memanggilku lantang.

Tunggu! Penanda bukumu ketinggalan.” Sahutnya.

Aku lantas kembali dan berterimakasih padanya. Rupanya, di penanda buku itu, telah ia tuliskan namanya. “Panggil saja Lara!” Tulisnya. 

Betapa bermurah hatinya Tuhan yang telah menggantikan absensi ketidak hadiranku dengan nomor HP dan sebiris senyum milik tuannya hari itu. Nikmat Tuhan yang mana lagi yang hendak aku dustakan?

Untuk pertama kalinya, malam ini, aku merasa insomnia. Aku benar-benar tak bisa mengajak mataku berkompromi. Padahal, besok pagi aku ada jam kuliah pukul tujuh. Sudah hampir jam setengah dua belas malam. Mata ini masih saja tak mau terpejam. 

Aku lantas mengambil novel favoritku yang tergeletak di atas meja. Kubuka bagian penanda. Lara, rupanya ia yang semalaman suntuk menghantui otakku.

Pagi ini, kabar baik menaungiku. Akan ada rapat dosen dari jam delapan pagi hingga jam dua belas siang. Syukurku tiada terhingga. Beberapa teman mengajakku pergi ke kantin untuk sarapan. Aku bilang saja bahwa sarapan susu di rumah jauh lebih nikmat. 

Tanpa ragu, aku segera meninggalkan kampus menuju toko buku andalanku, Karisma. Kebetulan, hari ini akan ada promo besar-besaran.

Lah,ketemu lagi!” Suara wanita yang sudah tak asing menyapaku dari belakang saat sedang asik kususuri beberapa rak buku.

Eh. Hey. Lara, kan? Yang kemarin di kantin kampus itu?” Untung saja aku masih ingat namanya.

Hehe. Ternyata memang benar, ya, kalau nyari teman yang sehobi itu gak ribet. Tanpa dicari pun, sudah nongol duluan,” kata lara membercandaiku.

Iya. Tuhan memang maha tahu, ya,” jawabku dengan tawa sumringah.

Eh. Kamu gak ada jam kampus, kah” Tanyaku bergantian.

Ada sih. Cuman dosennya lagi rapat. Ya udah, saya kesini aja.” Responnya.

Nggak hobi, nggak pikiran. Ternyata kita sama aja.” Aku menyahutnya tertawa.

Toko buku itu menjadi penanda awal pertemananku dengan Lara resmi terjalin. Kami berkenalan, bertukar cerita, pikiran, hingga hal yang paling aku nantikan, bertukar nomor HP. 

Selepas dari toko buku, aku mengajaknya menyeruput kopi di kedai dekat toko buku tersebut. disana, kami banyak berbincang perihal buku, menulis, hingga meresensi beberapa novel tersohor pada masanya.

Malamnya, aku sibuk berbincang ria dengannya via telepon, WhatsApp, Massanger dan segala sesuatu yang dapat menghubungkan suaraku ke telinganya. 

Aku benar-benar merasakan bagaiamana memiliki orang yang memang sevisi denganku di dunia nyata. Novel yang selama ini meninabobokkanku menjelang tidur, kini berjejer rapi di rak meja belajarku.

Di malam-malam berikutnya, aku malah tak pernah menyempatkan diri membuka beberapa lembaran buku yang belum selesai kubaca. Waktuku habis karena berbincang dengan Lara. 

Gara-gara Lara, aku jadi terbiasa bergadang, melewati titik terendah suhu alam, menembus angka dua belas pada jarum jam antara pagi dan malam.

Barangkali, begini rasanya mendapati teman yang mengajakmu kepada hal-hal yang cenderung memberi pengaruh negatif namun membuatmu semakin aktif. 

Bersama Lara, aku memang menjadi jarang meluangkan waktu untuk buku. Tapi, aku justru tahu bagaimana rasanya menjadi bahagia tanpa harus melulu membayangkan menjadi karakter protagonist di kebanyakan novel fiktif favoritku.

Selama mengenal Lara, aku tidak lagi mengenal kata penat, galau, bosan atau apalah. Yang aku tahu bahwa kami selalu dirundung bahagia. 

Setiap hari, tak cukup dengan dua belas jam pertemuan di kampus, kami juga selalu menambahkan porsi temu di luar kampus: baik di rumah masing-masing maupun di beberapa kedai kopi langganan.

Aku sudah terbiasa menjadi tamu langganan di rumahnya Lara, pun begitu dengan dia. Di rumah, Lara hanya tinggal dengan ibunya. 

Ayahnya adalah seorang pebisnis sukses di Jakarta yang hanya bisa menyempatkan diri berpulang sekali sebulan. Itu pun kalau sedang tidak ada desakan tugas yang membuatnya harus lembur.

Ibunya Lara kupanggil tante. Dia sering bercerita bahwa Lara orangnya introver sekali. Dia lebih gemar menghabiskan hari-harinya dengan mengurung diri berjam-jam di dalam kamar daripada keluyuran. Dan itu adalah hobinya. 

Katanya lagi - semenjak denganku - Lara kini lebih banyak bercerita, tak canggung ceria, dan suka nyanyi-nyanyi sendiri.

Alur hidupku dengan Lara cukup sejalan. Kami sama-sama hidup dengan seorang ibu saja. Bedanya, dia masih dianugerahi seorang ayah. Walau secara fisik, ia tak pernah hadir. 

Sementara aku, aku hanya ingat sedikit rupa wajah muda ayahku. Aku sudah ditinggal pergi oleh ayah saat masih berstatus balita. Dari cerita tetangga, ibuku cerai karena ayak kedapatan selingkuh.

Parahnya lagi, kata pamanku, ayah dengan terangnya membawa serta seorang anak – buah dari perselingkuhannya yang telah ia sembunyikan bertahun lamanya – untuk dijadikan anggota keluarga di rumah kami. 

Tentu saja ibuku murka. Tak terima dengan kondisi yang ia tanggung saat itu, ia membawaku pergi ke tempat yang dimana ayah, hingga kini, tak pernah bisa menemuinya.

Secara seorang sahabat - yang lebih tepatnya disebut teman tapi mesra – Lara tentu sudah kuceritakan perihal alur hidupku ini. kami sudah saling menceritakan alur kehidupan kami masing-masing. 

Dia begitu mengerti kondisiku. Ibuku juga sudah dianggap ibunya sendiri. Banyak kesan hidup yang aku rasa sudah beranjak membaik semenjak mengenal Lara.

Kondisi dan waktu memang sempat menjadikan dua ibu dan sepasang insan ini seperti tuan rumah dan tamu yang saling dipenuhi rasa sungkan. Namun, kasih sayang ini telah mengubah kami yang kini tak segan mengucap kata cinta. Berbagi pelukan dan belaian sayang. 

Rasa sayang ini telah kembali membuat kami menemukan mama, mengalami keluarga, dan memberi makna baru pada rumah.

Terkhusus untuk aku dan Lara, kami berdua sudah dipenuhi rasa suka. Suka yang tidak hanya berlaku dalam konteks hobi dan pertemanan saja. Lebih dari itu, rasa suka itu telah beranjak tumbuh menjadi cinta. 

Cinta yang bukan hanya berlaku dalam konteks perjamuan antar dua keluarga saja. lebih dari itu, hati kami sudah terpaut satu sama lain di dalamnya.

Usia kami sudah beranjak dewasa. Kami berdua berada di ambang semester terakhir. Banyak momen indah yang kini terukir menjadi sejarah yang tentu saja baik untuk dikenang. 

Di pertengahan semester dulu, aku dan Lara sempat berkomitmen untuk melanjutkan karir sebagai seorang penulis dan menjadi editor untuk tulisan kami sendiri.

Itulah sebabnya kami sering berkolaborasi dalam hal membeli, membaca, dan meresensi pelbagai buku dan karangan-karangan lainnya. Bagi kami, hal itu merupakan awal yang baik untuk mewujudkan keingninan kami di masa mendatang. 

Kesamaan hobi inilah yang membuat kami semakin lama seperti sepasang sandal yang tak bisa dipisahkan. Mereka akan tetap saling membutuhkan, dimanapun dan kapanpun.

Empat tahun menjalin ikatan pertemanan dengan Lara merupakan suatu torehan yang harus aku syukuri. Tak banyak teman wanita seperti halnya Lara yang bisa aku kawani hingga sejauh ini. 

Aku tahu, pada dasarnya, Lara sudah lama ingin menganggapku tidak hanya sebagai seorang teman, tetapi teman hidup. Pun begitu denganku.

Dulu, saat kami masih di bangku kuliah, ibunya juga sering berpesan padaku untuk menjaganya tetap bahagia dan tidak hanya menerimanya sebagai seorang teman, tetapi teman hidup. Pun begitu dengan ibuku. 

Telah aku putuskan bahwa aku akan mengakhiri hubungan pertemananku dengan Lara. Aku ingin meminangnya saja.

***

Hari ini, beberapa hari selepas acara wisuda, aku akan berkunjung ke rumah Lara. Akan kubawa serta ibu sebagai pendampingku saat kunyatakan keseriusanku untuk meminang seorang teman yang sebentar lagi akan membersamai hidupku seutuhnya. 

Ibu juga perlu banyak melangsungkan temu dengan calon mertuaku agar nantinya mereka tak banyak kaku.

Ibu memang sudah menantikan momen ini, nak. Kamu datang pada waktu yang begitu tepat. Tidak ada alasan bagi ibu untuk menolak lamaranmu. Karena ibu sendiri sudah tahu betul siapa dirimu. Tentu lara pun akan bahagia dengan lamaran ini.” Tutur ibunya Lara, sesaat setelah aku menyatakan untuk melamar putri tercintanya.

Lara hanya tertegun tak berbicara. Aku melihat matanya berbinar sembari memeluk ibunya. Dia terlihat begitu bahagia. Ada rasa yang tak bisa ia jelaskan. Sesaat lagi, air matanya akan tumpah berlinang. 

Ibuku tersenyum lapang. Dia juga terlihat begitu bahagia. Hanya senyum kecil dan tetesan air mata yang bisa ia berikan sebagai ungkapan kebahagiaan.

Tapi, nak Bagas dan ibu mohon bersabar dulu, ya. Kami harus memastikan dulu bahwa ayahnya Lara juga bisa hadir saat acara nanti. Rasa-rasanya, kita tak bisa melangsungkan akadnya jika ayah belum kami beritahu. Maklum, dia jarang pulang. Sibuk sama kerja mulu,” lanjutnya.

Beberapa hari setelah pelamaran, aku mendapat kabar dari Lara bahwa ayahnya akan pulang bulan depan. Ia akan melangsungkan cuti selama sebulan. Namun, ayahnya berpesan bahwa akad harus dilangsungkan sesegera mungkin tanpa menunggu ia pulang dahulu. 

Sepertinya ayah Lara juga menyambut gembira kabar ini. Aku lantas memberitahu ibu.

Kedua belah keluarga pun sepakat untuk melangsungkan akad satu bulan kemudian. Sesuai keinginan dari ayahnya Lara. Dan dia mungkin akan pulang tepat di hari akad kami. 

Bagiku, itu tak jadi masalah. Yang jadi permasalahan adalah ketika semua konsep dengan matang terencana, namun ada segelintir reka yang membuatnya gagal terlaksana.

Hari yang kami nantikan pun tiba. Gaun yang aku dan Lara kenakan terlihat sempurna membaluti seluruh tubuh. Begitu anggun kulihat calon instriku. 

Sementara, di luar ruang make-up, para tamu sedang asyik bertemu sapa dan bersalaman. Ada yang sedang menikmati suguhan, ada pula yang sibuk berfoto di area pernikahan yang sudah didekorasi sedemikian cantik.

Di lain sisi, di pojok ruangan, aku melihat ibunya Lara sedang terlihat cemas. Ia terlihat gugup berlalu lalang dengan pikiran yang sedang menerawang entah kemana. 

Sesekali ia melihat layar HP-nya, seperti sedang menanti pesan berhadiah dari quiz online yang baru saja ia menangkan. Beberapa kali ia mencoba menghubungi seseorang, tetapi tak ada jawaban.

Sayang, itu ibu lagi ngapain? Kayaknya dari tadi ia mondar mandir dengan cemasnya.” Tanyaku pada Lara yang juga sedang sibuk merapikan kincuannya.

Oh, palingan ibu lagi menghubungi ayah. Ayah kan janji bakalan pulang hari ini.” Pikir Lara yang juga sama dengan dugaanku.

Lima belas menit lagi, akad kami akan segera dilangsungkan. Sekujur tubuhku bergetar rasanya. Semoga tak ada hambatan baik dari segi ucapan maupun mental. Lara beberapa kali mencoba menenangkanku. 

Acara yang dihadiri dan disaksikan ratusan tamu ini akan menjadi momen yang tak terlupakan dalam hidupku.

Nah, itu ayah datang,” ucap ibunya Lara lantang sembari tersenyum menyambut suaminya pulang.

Betapa terkejutnya aku. Suhu tubuhku naik seketika. Detak jantungku berdetak dua kali lebih cepat. Aku melihat ibu. Dia menyaksikan kepulangan ayahnya Lara. Dia tak sanggup membendung air matanya. Ada rasa dendam dan menyesal yang barangkali sedang merasukinya. 

Segera aku menghampirinya. Aku memeluk tubuhnya yang seketika bergetar hebat.

Ayahnya lara memandang kami berdua tajam. Wajahnya terlihat memerah. Aku rasakan betul bahwa detak jantungnya sedang berdetak kencang. 

Rupanya, dia adalah orang yang telah meninggalkan kami selama dua puluh tahun. Ia adalah ayahku, suami dari ibuku. Ayah kandung yang akan menjadi mertuaku. Brengsek!