Setiap orang yang terlahir di dunia pasti menginginkan cinta dari orang terdekat khususnya keluarga. Keluarga merupakan rumah ternyaman bagi setiap orang. Namun, pernahkah terpikir jika sebuah keluarga yang diharapkan penuh dengan cinta harus bercampur dengan luka?.

Luka dalam keluarga adalah mimpi terburuk dalam hidup seorang anak, ketika diri menginginkan rasanya dicintai justru harus siap mendapat luka. Menurutku luka terpahit dalam hidup adalah luka yang diciptakan dari keluarga.

Berbicara tentang keluarga, bukanlah hal yang mudah untuk seorang yang berlatar belakang broken home dan strict parents. Ketidakharmonisan dalam keluarga berdampak besar bagi perkembangan mental seorang anak, salah satunya kepercayaan diri. Orang tua adalah tokoh utama sekaligus teladan bagi anak dalam bersikap sekaligus menjadi orang pertama yang membangun kepercayaan diri seorang anak.

Siapa yang bisa menyangka seorang yang sering membuat orang lain tersenyum adalah seorang yang paling banyak menyimpan luka. Yah, bagaimana tidak, seorang yang sering terluka sudah paham benar rasanya sedih, menangis, bahkan saat tidak dipedulikan oleh siapapun. Menurut pandangan mereka, bahwa membuat orang lain tersenyum merupakan salah satu cara menghapus lukanya.

Aku mempunyai seorang teman dekat yang sering membuat candaan di kelas. Perasaan iri kadang menghantui pikirku ketika melihat dia yang begitu mudahnya menghibur orang lain. Panggil saja seorang temanku itu, Anara.

Aku sama sekali tidak menyangka bahwa di balik tawa Anara menyimpan banyak sekali luka. Ketika hubungan pertemananku dengan Anara semakin dekat, sempat beberapa kali Anara menangis, namun tidak sama sekali Anara mau menceritakan alasan tangisnya.

Aku mencoba mendekatinya dan menjadi teman yang selalu menghapus air matanya. Kesedihan seorang teman dekat merupakan kesedihanku juga. Perlahan Anara memberanikan diri untuk menceritakan kesedihannya.

Perasaan terkejut saat mendengar cerita Anara sekaligus sedih ketika mengetahui bahwa Anara adalah korban dari keluarga yang tidak harmonis. Banyak cerita pahit yang sudah dialami dia selama 9 tahun lamanya.

Mendengar ribut dalam sebuah keluarga dan kurang kasih sayang dari orang tua sudah sering Anara alami. Ada banyak trauma yang Anara alami, mulai dari ketakutan mempercayai orang lain, sampai perasaan tidak percaya diri ketika harus bersosialisasi dengan orang baru.

Setiap anak yang terlahir pasti menginginkan cinta dan kasih sayang kedua orang tuanya bukan hanya satu saja. Tidak hanya Anara yang mengalami kegagalan dalam keluarga, tetapi saya sendiri juga mengalami.

Masa kecil pastinya menjadi masa yang harusnya paling bahagia dan berkesan dalam hidup seorang. Namun, bagaimana jika masa tersebut menjadi masa yang penuh luka bukan cinta.  Apakah keliru jika seorang anak mendambakan kasih sayang dari kedua orang tuanya secara utuh bukan salah satunya saja.

Luka yang hadir dalam kehidupan seorang anak pasti menjadi trauma yang tidak terlupakan bahkan sampai nanti dewasa. Harapan memiliki masa kecil yang indah bagiku hanya sebuah impian saja. Ayah yang seharusnya menjadi cinta pertama seorang anak perempuan ternyata harus menjadi kesedihan pertama anak perempuannya.

Aku tidak menyalahkan mengapa aku hadir dalam dunia dan keluarga yang unik seperti ini. Ayah yang begitu keras mendidikku agar menjadi seorang perempuan mandiri tetapi lupa bagaimana memberikan dukungan dalam setiap pencapaianku.

Kehidupan masa kecilku yang bahagia dan penuh kasih sayang harus berakhir ketika aku duduk di bangku kelas 4 SD. Pada waktu itu, aku harus siap untuk dibentuk menjadi seorang anak yang mandiri. Bagiku terlalu cepat, jika umur yang masih 9 tahun harus merasakan minimnya kasih sayang seorang ayah.

Ketika melihat teman-teman lain begitu dekatnya dengan ayah membuat aku merasa sedih. Masa itu merupakan masa paling sulit bagiku. Bahkan, aku mengira bahwa masa itu hanya sementara, tetapi kenyataannya tidak.

Ayah yang begitu menyayangi putrinya berubah menjadi keras. Salah satu cara untuk bisa bahagia adalah menerima jalan kehidupan. Seiring berjalannya waktu, aku tumbuh menjadi seorang perempuan yang sulit mempercayai orang lain.

Mental kepercayaan diriku sudah hilang semenjak masa sulit itu. Namun, aku masih bisa tersenyum dan tertawa riang karena memiliki seorang penyemangat hidup yang kupanggil ibu. Seorang yang begitu aku sayangi yang selalu mendampingiku saat sedih dan senang. Bagiku, ibu adalah saksi yang mengerti setiap senyum ku, tawaku, tangisku, bahkan diamku.

Kasih sayang dan cinta keluarga sangatlah penting dalam membentuk kepribadian seorang anak. Sikap memberi kesempatan seorang anak untuk memilih berdampak besar dalam kehidupannya. Seorang yang kehilangan cinta dari keluarga akan melakukan 2 hal dalam hidupnya, yaitu tidak mempercayai adanya cinta atau mencari cinta dari orang lain.

Luka dalam keluarga akan sangat membekas dalam kehidupan seorang anak. Menjadi orang tua adalah tanggung jawab berdua untuk memberikan kasih saying kepada anak sampai kapanpun.

Dukungan dan apresiasi dari orang tua sangat penting dalam memberikan motivasi dalam kehidupan anak. Jangan sampai mengorbankan mental anak hanya untuk memenangkan ego sendiri dalam suatu keluarga. Cinta itu diciptakan oleh hati dan salah satu cara menghapus luka anak adalah dengan cinta.