Lembaga pendidikan (sekolah) merupakan tempat seorang anak dididik dan diajar untuk memperoleh pengetahuan dan juga cara berperilaku dalam menghadapi kehidupan. Di sana diharapkan pula akan tumbuh cara berpikir serta terbentuknya karakter seseorang supaya menjadi manusia yang berkembang seutuhnya. Dengan waktu yang hanya delapan jam di sekolah apakah akan menjamin keadaan itu bisa terwujud.

Perkembangan karakter seorang anak tidak di dapat dan jangan hanya mengandalkan terbentuk dari sekolah. Sekolah hanya memiliki waktu  kurang lebih 7 jam menemani anak anak kita. Lantas selama 17 jam sehari di manakah mereka berada? Keluarga.

Ya, di lingkungan keluarganyalah mereka akan sering terlibat berinteraksi. Dengan waktu yang panjang itu,  tentunya keluarga harusnya mampu menjaga dan mengawasi perkembangan perilaku anak anak tersebut selama anak anak itu berada di rumah.

Terjadinya tindakan kriminalitas di kalangan anak anak bukanlah tanggung jawab sekolah semata  karena banyak kasus yang terjadi ternyata latar belakangnya adalah soal pengasuhan yang salah terhadap anak anak itu. Keluarga kebanyakan hanya memberikan asupan materi dan banyak yang mengabaikan akan pentingnya asupan nilai nilai moral yang baik sebagai santapan rohani mereka.

Pemanjaan dan tiadanya kontrol orangtua adalah penyebab terbesar kenakalan remaja dan anak anak. Orangtua yang begitu permisif terhadap tindak tanduk seorang anak mengakibatkan anak menjadi liar. Mereka banyak mengisi waktu luangnya di jalan jalan dan lebih nyaman di sana karena di rumah orang tua sibuk dan sering kali rumah hanyalah sebagai tempat singgah.

Di mana, sedang apa dan bersama siapa harusnya menjadi menu wajib yang ditanyakan orang tua kepada anak anaknya. Namun, kondisi ini kadang sulit tetjadi di tengah keluarga yang kedua orangtuanya bekerja. Dan memang begitulah yang terjadi, komunikasi antara anak dan orang tua mampet. Ketika komunikasi antar anggota keluarga tidak terjadi maka disorientasi negatif sering kali muncul.

Sebisa mungkin keluarga (orang tua) haruslah bisa memberikan keteladan kepada anggota keluarganya sehingga mereka bisa melihat teladan yang baik dari kedua ortunya. Mereka adalah anak anak yang butuh kasih dan sayang bukan hanya diberi uang saku dan bayar keperluan sekolah selanjutnya terserah mau apa. 

Terlebih di era internet sekarang ini, keluarga harus mampu mengontrol akses mereka, anak anak jangan terlalu cepat diberi hape karena akses konten internet melalui hape lebih berisiko terhadap pornografi. Bukankah sekarang ini sedang marak kasus kejahatan anak anak yang berkaitan dengan kekerasan seksual. Ini adalah efek dari kebebasan yang diberikan orangtua kepada anak anak itu.

Kejahatan seksual bukan lagi monopoli anak anak kota metropolitan karena banyak kasus di Tuban, Bojonegoro, dan Lamongan kejahatan seksual dilakukan oleh anak anak usia sekolah/pelajar. Itulah kemudahan sekaligus tantangan para orang tua terhadap kemudahan akses informasi sekarang ini. Informasi bukan lagi sesuatu yang dicari karena mereka mengalir deras di depan kita melalui media daring/internet.

Saatnya keluarga mengambil sikap. Apakah masa depan anak anak kita dipertaruhkan melalui kebebasan yang kita berikan. Sudah bukan eranya untuk selalu tergantung pada sekolah dalam membetuk pribadi anak yang mumpuni.

Keluarga, sekali lagi adalah benteng dari pengaruh negatif yang mempengaruhi jiwa anak, mari kita jaga dan awasi selalu anak kita karena mereka bisa menjadi korban dan bahkan pelaku sebuah tindakan kejahatan apapun bentuknya. Bagaimana?