Setiap orang tentu memiliki zona nyamannya masing-masing. Tetapi pernahkah terbesit dari pikiran kita untuk keluar dari zona nyaman tersebut? Hmm.. secara lahiriah memang sulit untuk keluar dari hal tersebut karena beberapa faktor.

Di sini saya ambil contoh, seorang karyawan yang bekerja di sebuah perusahaan tentu tidak mudah untuk keluar dari perusahaan tersebut karena dewasa ini tidak mudah mencari pekerjaan. Ditambah lagi faktor pendukung seperti suasana kantor yang nyaman, atasan yang ramah terhadap para karyawan.

Apalagi jika gajinya sudah di atas UMR, tentu sulit untuk menanggalkan status karyawan, boro-boro terbesit dalam pikiran mereka untuk meningalkan pekerjaannya dan mencoba untuk berwirausaha.

Contoh lain, seorang pejabat negara yang ditempatkan di suatu daerah misalnya. Dalam menyusun anggaran daerah, tentu pejabat tersebut harus melibatkan pegawai-pegawainya dan mendapat persetujuan dari anggota DPRD.

Karena pejabat tersebut tidak mau ambil pusing soal penyusunan anggaran, maka tanpa pikir panjang dan mengecek pantas atau tidaknya jumlah anggaran untuk sebuah proyek yang diajukan oleh pegawainya, pejabat tersebut langsung menyetujuinya tanpa berpikir panjang.

Padahal jika diteliti lebih lanjut, banyak anggaran yang tidak wajar yang mengakibatkan kebocoran uang negara. Alhasil, uang yang seharusnya dipakai untuk menunjang kebutuhan rakyat seperti pembangunan jalan raya, jembatan, pendidikan, layanan kesehatan dsb., tidak dapat dirasakan manfaatnya oleh kebanyakan rakyat.

Selain itu, pejabat negara yang sudah dimanjakan oleh fasilitas negara tersebut enggan turun langsung mengecek lingkungan masyarakat atau permasalahan-permasalahan sosial masyarakat. Sungguh ironis memang manusia yang sudah terlalu nyaman dengan zonanya.

Sebenarnya ada beberapa faktor pendorong manusia untuk keluar dari zona nyamanya. Yaitu kemauan, tekad, dan tentu saja dukungan orang-orang tercinta. Di sini saya akan menjabarkan butir per butir dari faktor-faktor tersebut. Tidak ketinggalan, saya juga akan menampilkan realita dari peristiwa yang terjadi di sekitar kita.

Kemauan. Pernahkah Anda merasakan kejadian yang mendesak kita untuk berbuat suatu kebaikan, apakah itu berupa kontribusi tenaga, pikiran maupun materi. Tentu saja setiap orang pernah dalam kondisi yang terdesak, ketika mau tidak mau ia harus melakukan sesuatu hal untuk setidaknya sekedar meredakan kondisi ataupun situasi tertentu.

Balik lagi pembahasan kita tentang poin pertama, yaitu kemauan. Kemauan atau keinginan, kehendak, merupakan dorongan dalam diri yang mengharapkan sebuah hasil tertentu. Kemauan juga menyiratkan tujuan dan harapan.

Untuk keluar dari zona nyaman memang tidaklah mudah, tetapi bukan berarti tidak mungkin. Setidaknya untuk memulai, kita harus punya suatu dasar dari kemauan tersebut, yaitu tujuan atau target.

Contoh, saya anak dari seorang pengusaha media televisi terbesar di Indonesia. Saya berencana mendirikan sebuah event organizer untuk acara-acara besar. Tentu sebagai anak dari pengusaha media televisi terbesar di Indonesia, mudah saja bagi saya untuk mendapatkan sponsor untuk even organizer yang saya bangun. Tinggal mengontak ayah saya, dengan mudah saya bisa menyelengarakan acara-acara tersebut.

Tetapi dengan alasan saya ingin membuktikan kepada banyak orang, terutama ayah saya yang sudah memberikan kemewahan sedari saya kecil, maka saya berkeputusan untuk meninggalkan kemudahan tersebut.

Dengan memutar otak, saya berpikir bagaimana caranya mendapatkan sponsor. Maka dibuatlah suatu proposal yang menarik para investor, hingga akhirnya acara pertama berjalan dengan sukses dan saya mendapat apresiasi dari pemilik acara tersebut. Akhirnya, makin hari makin ramai yang ingin memakai jasa event organizer saya untuk acara mereka.

Tentu dari cerita tadi kita dapat belajar bagaimana kuatnya kemauan anak pengusaha media tersebut untuk keluar dari zona nyamanya, berupa kemudahan yang bisa ia peroleh dari ayahnya, dengan memilih untuk berupaya sendiri agar usaha yang dirintisnya bisa keluar dari bayang-bayang nama orang tuanya.

Ia berusaha sendiri untuk menarik investor dengan proposal yang dibuatnya hingga akhirnya acara tersebut sukses sekaligus menaikan nilai jual dari usaha even organizer tersebut.

Tekad. Poin kedua untuk keluar dari zona nyaman, kita memerlukan tekad. Tentu tekad antara satu orang dengan orang lain berbeda atau bisa dikatakan setiap orang punya tekadnya masing-masing. Tekad adalah kunci keberhasilan dalam setiap usaha yang kita laksanakan.

Dari pengertian tersebut ada poin yang dapat kita ambil dari tekad, yaitu kunci. Bisa dianalogikan seperti ini: zona nyaman kita ibaratkan suatu ruangan yang begitu luas layaknya suatu pulau. Di dalamnya termuat berbagai hal yang kita mau.

Dari analogi tersebut, betapa kita enggan meningalkan pulau itu meskipun kita telah memegang sebuah kunci untuk mengeksplorasi pulau lain, dengan kemungkinan bisa lebih baik ataupun lebih buruk dari pulau yang kita tempati yang menyediakan berbagai hal yang kita mau.

Contoh, seorang pria yang menggemari suatu tim sepakbola Eropa bertekad bahwa suatu saat nanti dia akan pergi menonton dan mengunjungi langsung tim sepakbola favoritnya tersebut. Dengan profesi dia sebagai karyawan biasa, rasanya mustahil itu bisa terwujud. Untuk sekedar memenuhi kebutuhan sehari-hari saja kadang ia mengalami kesulitan.

Akhirnya dia mencari cara untuk dapat pergi ke markas tim sepakbola favoritnya. Jalan yang diambilnya adalah keluar dari zona nyamanya. Dia yang biasanya beristirahat selepas bekerja di kantornya, karena tekad yang dimilikinya maka ia bekerja serabutan. Dengan berbekal kemampuan menyetir mobil, dia menjadi supir pribadi. Sembari bertekad untuk mengumpulkan rupiah demi rupiah selama bertahun-tahun.

Pria tersebut akhirnya dapat mewujudkan tekadnya bertemu dan mengunjungi dan menonton langsung ke markas tim sepakbola favoritnya.

Dukungan dari Orang-Orang Tercinta. Poin ketiga agar kita keluar dari zona nyaman adalah dukungan dari orang-orang tercinta. Orang-orang tercinta di sini bisa siapa saja. Bisa sahabat, pacar, guru agama, tetangga. Biasanya sih dukungan dari orang yang paling mengerti kita, siapa lagi kalau bukan keluarga. Karena keluargalah orang yang paling mengerti kita dalam berbagai hal yang menyangkut diri kita.

Dukungan orang-orang tercinta ini penting untuk keluar dari zona nyaman agar kita kelak mampu hidup mandiri. Contoh, anak dari keluarga x yang berdomisili di Jakarta baru saja lulus dari SMA. Ia berencana untuk mewujudkan cita-citanya sejak kecil, yaitu menjadi dokter. Maka dia mengikuti ujian seleksi PTN dengan memilih PTN di luar daerah Jakarta, tepatnya di Jawa Tengah.

Setelah mengikuti ujian tertulis, tibalah pengumuman seleksi tulis PTN dan si anak dinyatakan lulus. Ada perasaan campur aduk di benak orang tua dan si anak, yaitu senang bercampur sedih. Senang karena si anak berhasil tembus di PTN untuk jurusan kedokteraan, sedih karena si anak harus meningalkan zona nyamanya yang sejak kecil sampai lulus SMA tinggal bersama keluarganya.

Akhirnya waktu pendaftaraan ulang peserta yang diterima di PTN tiba, si anak bersedih sejadi-jadinya karena ia harus meningalkan keluarganya untuk mewujudkan cita-citanya menjadi dokter. Ketika hendak pergi ke Jawa Tengah, orang tua si anak ini memeluk anaknya sambil memberi dorongan bahwa si anak mampu untuk hidup meningalkan zona nyaman dia selama ini.

Dari penjelasan tadi, kita dapat menarik kesimpulan bahwa untuk keluar dari zona nyaman tentu tidaklah mudah (sulit) dan diperlukan kemauan, tekad serta dukungan orang-orang tercinta. Pesan saya lewat tulisan ini adalah: “Jika ingin sukses, keluarlah dari zona nyamanmu.”