Pernahkah Anda mendengar istilah permainan psikologis? Ini bukan permainan biasa. Mereka yang bermain permainan ini sering tidak sadar bahwa mereka sedang bermain. Pihak yang memulai tidak sadar jika ia sudah memulai permainan, pihak lain juga tidak pula ngeh bahwa mereka sudah menerima undangan untuk bermain. Kadang bahkan tidak tahu lagi siapa yang mengajak dan siapa yang menerima ajakan bermain.

Perasaan-perasaan yang ditimbulkan dari permainan ini sebenarnya tidak enak, lebih kepada rasa jengkel, marah, sedih, kecewa.. Anehnya, seperti bikin kecanduan sehingga orang yang sama cenderung memainkan permainan yang sama. Permainan ini tidak menyehatkan, efek negatifnya tidak hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk relasi kita dengan orang lain.

Mari kita lihat bagaimana proses terjadinya permainan psikologis ini. Sebelumnya kita berkenalan terlebih dahulu dengan beberapa pola transaksi dalam interaksi kita dengan orang lain.

Kondisi ego

Untuk dapat menganalisis interaksi, kita sebaiknya memahami lebih dahulu bahwa tiap individu memiliki tiga kondisi ego (ego states) yang menggambarkan keberfungsian dari keadaan dirinya. Kondisi ego ini  adalah anak (child), orangtua (parent), dan dewasa (adult). 

Kita dikatakan sedang dalam kondisi ego anak jika menampilkan karakteristik anak-anak seperti spontan, impulsif, berpusat pada diri sendiri, mencari kesenangan, senang bermain-main, berorientasi pada perasaan, cemas, mencari persetujuan orang lain, patuh, kooperatif, ataupun membantah. Contoh yang paling sederhana adalah,”Yuk kita bermain.”

Ego kita dalam kondisi orangtua jika kita menampilkan karakteristik yang khas orangtua baik sebagai orangtua yang mengasuh (nurturing) ataupun mengontrol/mengkritik. Sifat mengasuh muncul dalam memuji, menenangkan, dan membantu. Contohnya, ” Ya sudah yang sabar ya.” Sifat mengontrol dapat berupa tidak menyetujui suatu perilaku, menemukan kesalahan orang lain, ataupun berprasangka. Contohnya, “Kamu kalau jalan pakai mata dong.” 

Sedangkan kondisi ego yang dewasa tampil dalam bentuk pernyataan atau sikap yang rasional, objektif, dan penuh pertimbangan. Contohnya, “Kamu sudah memikirkan resiko berbisnis dengan dia?” Perlu diperhatikan kondisi ego dewasa di sini tidak selalu mengacu kepada sikap yang dewasa. Dapat pula sekedar menyatakan data faktual, misalnya, “Hari sudah larut malam.” Atau, “Sekarang sudah pukul 12.”

Kondisi ego ini tidak ada kaitannya dengan usia seseorang. Seorang anak kecil dapat saja menampilkan kondisi ego orangtua ketika menghibur temannya agar tidak menangis lagi. Seorang kakek dapat menampilkan kondisi ego anak ketika menginginkan es krim cokelat sementara ia terkena diabetes. Seorang remaja dapat menampilkan kondisi ego dewasa ketika membatalkan kencannya karena harus belajar untuk ujian akhir. Seorang anak balita juga dapat menampilkan kondisi ego dewasa dengan mengatakan bahwa hujan sedang turun.

Transaksi yang sehat

Transaksi positif/sehat/normal/tidak ada masalah berarti akan terwujud jika kondisi ego kedua pihak yang berinteraksi bersifat melengkapi (complementary). Misalnya kondisi ego Dewasa ditanggapi dengan kondisi ego Dewasa, Orangtua dengan Orangtua, Anak dengan Anak. 

(Jika redaksi Qureta berkenan : Untuk lebih lengkapnya mengenai kondisi ego, dapat diklik di sini. - Mohon maaf sebelumnya jika pengarahan ke luar situs Qureta tidak diperkenankan). 

Sebagai contoh, pasangan suami istri (atau kekasih), sebut saja namanya Anton dan Deisy. Deisy mengajak Anton menonton film Smallfoot. Ajakan Deisy ini menunjukkan kondisi ego Anak Spontan yang ingin bersenang-senang dengan menonton film. Yang Deisy inginkan tentunya jawaban yang mendukung keinginannya untuk menonton (bersenang-senang). Deisy menginginkan Anton menjawab dengan kondisi ego Anak Spontan juga. 

Jika Anton menjawab, ”Wah boleh juga idemu, yuk nonton film itu yuk," Deisy akan senang karena respons Anton sesuai dengan yang diharapkan. Atau bila Anton menanggapi dengan pertanyaan, “Memang apa yang menarik dari film itu?” (kondisi ego Dewasa), tanggapan ini belum bertentangan dengan tuntutan Deisy. 

Transaksi-transaksi seperti ini dinamakan dengan complementary transactions karena saling melengkapi. Transaksi seperti ini adalah transaksi yang positif, dengan dua posisi kondisi ego yang sejajar, dan pesan yang tidak ambigu.

Transaksi bersilangan

Sayangnya kita cenderung masuk dalam interaksi yang tidak sehat dengan menampilkan respons-respons yang kurang tepat. Contohnya jika Anton menjawab,” Kamu ini sudah tua kok senangnya nonton film anak kecil,” Kritik Anton menampilkan kondisi ego Orangtua Pengeritik. 

Dengan respons seperti ini dapat dibayangkan kekecewaan dan kejengkelan Deisy karena tidak direspons dengan tepat. Respons Anton ini membuat transaksi mereka bersilangan, tidak lagi sejajar (crossed transactions). Deisy sedang dalam kondisi ego Anak Spontan, Anton dengan Orangtua Pengeritik. Transaksi bersilangan ini dapat mengantarkan kedua pihak dalam sebuah permainan.

Bermain atau tidak?

Berita baiknya adalah meski butuh minimal dua orang untuk bermain, tetapi hanya perlu satu orang untuk menghentikannya atau bahkan mencegahnya. Mencegah berarti kita tidak masuk ke dalam permainan, tidak menerima “ajakan” bermain itu. 

Deisy misalnya masih dapat mengembalikan situasi menjadi complementary transactions jika ia mencoba untuk menampilkan kondisi ego Dewasa seperti, ”Tapi film itu sarat dengan nilai-nilai positif lho.” Dengan mengatakan ini, ia tidak masuk ke dalam permainan yang ditawarkan Anton.

Tetapi bayangkan sebaliknya, Deisy menangis (kondisi ego Anak Spontan) dan atau memaki Anton, “Aku benci sama kamu. Kamu jahat (Orangtua Pengeritik).” Padahal, ia tidak sungguh-sungguh membenci Anton. Ini adalah ulterior transactions, pesan yang terucap tidak sama dengan pesan yang ingin disampaikan. Ada makna lain yang terselip di dalamnya; ada pesan tersembunyi. Menanggapi Anton dengan cara ini, Deisy menerima ajakan permainan Anton.

Anton dapat terjebak semakin jauh dalam permainan (yang ia mulai) ini. “Ya, saya memang jahat. Kamu mau apa?” Masuklah mereka dalam permainan yang dinamakan Eric Berne, pakar analisis transaksional sebagai “Pojok/Sudut”, yang menggambarkan posisi yang tersudut dari mereka yang terlibat dalam permainan ini. 

Tetapi lagi-lagi berita baiknya adalah (selalu ada berita baik lho  ?), Anton masih dapat keluar dari permainan ini. Cukup dengan kalimat sederhana. “Ya maafkan aku, aku sedang lelah sebenarnya. Ceritanya tentang apa memang film ini?” (Ego Dewasa).  

Jika Anton sudah menampilkan kondisi ego Dewasa ini, pilihan kini kembali kepada Deisy. Deisy dapat tetap merajuk, sudah telanjur kesal, "Sudahlah, aku sudah malas. Kamu selalu bawa alasan sedang lelah." Atau Deisy juga mau bersikap Dewasa dengan memahami kondisi Anton yang sedang lelah, meminta maaf juga untuk reaksinya, dan kemudian menceritakan tentang apa film yang ingin ditontonnya. 

Jika Deisy melakukan pilihan kedua, mereka akan keluar dari permainan psikologis ini untuk kemudian mungkin pergi menonton film Smallfoot yang dimaksud atau menghabiskan sisa hari dengan melakukan aktivitas-aktivitas lain yang lebih menyenangkan ketimbang memainkan permainan psikologis.

Bagaimana sebaiknya bersikap?

Seringnya yang terjadi kita tidak menghargai upaya pasangan untuk memperbaiki diri, untuk memperbaiki situasi agar tidak semakin buruk. Pasangan tidak mengerti mengapa ia sudah minta maaf tetapi istri/suami masih marah juga. Sementara istri/suami yang masih kesal juga merasa tidak dimengerti. 

"Bukan saya tidak menghargai permintaan maafnya, tetapi mengapa sih saya harus jengkel atau marah terlebih dahulu baru dia sadar, baru dia meminta maaf, baru dia melakukan yang saya harapkan. Kenapa sih engga dari awal punya kesadaran gitu lho. Toh yang saya minta juga tidak susah..." Demikian umumnya keluhan pihak yang sedang jengkel.

Satu hal yang perlu kita ingat adalah tidak mudah bagi seseorang untuk menyadari bahwa ia sedang memulai permainan psikologis. Jadi ketika ia sadar untuk menghentikannya, ini sudah harus dihargai dan hendaknya kita sikapi dengan respons yang sama pula.

Dapat kita lihat dari contoh di atas, bahwa kita memang dapat dengan mudah masuk dalam sebuah permainan, entah kita diundang atau kita bahkan yang mengundang. Tetapi kita juga dapat menghentikan permainan, kita dapat keluar dari sana, dan kita bahkan dapat menolak sejak awal untuk bermain. 

Dengan mengidentifikasi kondisi ego orang lain yang dengannya kita sedang berinteraksi, kita dapat lebih berhati-hati dengan respons kita, dengan kondisi ego yang sebaiknya kita tampilkan, agar tidak melibatkan diri dalam permainan psikologis yang berisiko merusak hubungan kita dengan orang lain atau dalam contoh ini adalah dengan pasangan kita.

Permainan-permainan psikologis tidak hanya kita mainkan dalam konteks kehidupan berpasangan tetapi juga dalam konteks-konteks lain : persahabatan, dunia kerja, dll. Semoga dalam kesempatan selanjutnya, kita dapat berkenalan dengan permainan-permainan psikologis yang lain. 

Tentu bukan untuk menjalin hubungan akrab dengan permainan-permainan tsb ya. Sebaliknya, agar dapat lebih cepat sadar jika sedang masuk dalam permainan tsb untuk kemudian segera keluar dari sana sebelum permainan-permainan ini menggerogoti hati dan hubungan kita.