1 bulan lalu · 67 view · 3 min baca menit baca · Politik 18384_80892.jpg
Republika Online

Keluar dari Kepulan Asap

Bukan karena banyaknya pembalakan hutan dan kebakaran hutan yang menyebabkan bangsa Indonesia sering kali diselimuti oleh kepulan asap, melainkan malah bunga-bunga api yang terkadang terpercik dari jiwa yang dirasuki angkara dan emosi menjadi penyebabnya.

Kalau kebakaran hutan yang pernah melanda beberapa wilayah di Indonesia mampu dipadamkan dengan mengerahkan biaya yang tidak sedikit, menggunakan helikopter demi memadamkan api, lalu bagaimana memadamkan api 22 Mei 2019?

Kepulan asap yang bersumber dari api 22 Mei 2019 membuat jarak pandang akan sikap menghormati, menghargai,  dan merangkul satu sama lain membuat mata keindonesiaan seakan begitu perih. Jarak pandang makin pendek dan langkah kaki tak segan menindih yang lain.

Kondisi kepulan asap yang menyelimuti langit-langit sosial bangsa Indonesia mesti segera direspon oleh semua elemen bangsa Indonesia. Perbedaan aspirasi politik semestinya disikapi dengan jalur konstitusional.

Sikap saling gebug dan menuduh satu sama lain bukanlah sebuah prestasi bagi bangsa yang tengah menjalankan kehidupan berdemokrasi. Justru terjadinya peristiwa 22 Mei menjadi contoh yang buruk bagi perjalanan demokrasi.

Bila ada peserta demokrasi merasa dicurangi dan dihalangi kemenangannya, maka publik menantikan pembuktian kebenaran. Yang menjadi masalah apabila jalan pembuktian kebenaran menempuh cara-cara bandit dengan mengerahkan massa dan mengepung pikiran. Demi mendesak publik menerima jalan pembuktian kebenaran, itu ditempuh lewat tindakan yang anarkis.

Kalau kepulan asap itu dibiarkan meluas sedemikian rupa, maka tidak menutup kemungkinan akan membuat jalan kebangsaan menjadi sesak dan macet. Bila pertemuan dua arus tidak menyadari bahaya terlalu lama terjebak, yang tidak menutup kemungkinan saling terdesak sembari memilih jalan anarki guna membuka ruang menuai hasrat.


Walaupun pihak Prabowo telah memilih jalan konstitusional guna membuktikan terjadinya kecurangan, namun bersuara dan bersaksi di luar ruangan persidangan disertai teriakan aksi-aksi massa hanya akan membuat suasana makin gaduh.

Semestinya pihak Prabowo bersabar dan menyiapkan olah vokal yang sedemikian lantang di ruang persidangan. Sebab, di ruang persidangan, ada hakim yang menjadi penengah dari kedua belah pihak. Sehingga memilah antara fakta dan opini secara tajam bisa dilakukan.

Sebaliknya, bila hanya lantang di luar ruangan persidangan, terkesan sebagai teriakan-teriakan pilu penyemai emosi publik.

Berada dalam suasana yang diselimuti kepulan asap tentu bukan sesuatu yang baik. Mesti ada langkah-langkah rembuk dari semua pihak guna menyejukkan suasana. Biarlah jalan konstitusional berjalan pada satu sisi. Namun, merajut kebersamaan antar dua pihak tetap harus berjalan.

Rekonsiliasi antar dua kubu pilpres mesti didorong dan dilakukan. Membiarkan terjadinya pembelahan di kalangan masyarakat bukan hanya tidak menguntungkan, melainkan akan menimbulkan efek jangka panjang.

Perjalanan sejarah Indonesia telah menyajikan berbagai peristiwa pembelahan yang efeknya masih terasa hingga hari ini. Orba mewarisi pembelahan yang berkelanjutan lewat isu PKI yang sampai detik ini masih menjadi bola liar dan dapat dimanfaatkan untuk menyudutkan lawan politik.

Reformasi juga menggulirkan cerita terkait Soeharto dan kroni-kroninya menjadi olahan renyah. Sebagaimana Orba mengolah isu PKI demi melakukan berbagai upaya menutup langkah para pesaingnya.

Bila isu Orba masih membayang-bayangi reformasi dalam kehidupan berbangsa, itu hanya akan menjadi virus yang menggerogoti persatuan. Semua pihak mesti merenungkan dan memikirkan bila isu-isu pembelahan dari tiap masa ke masa senantiasa diwarisi tanpa upaya rekonsiliasi terhadap masa lalu.

Tumpukan isu, baik dari masa lalu maupun hari ini soal kecurangan pilpres, kalau senantiasa direproduksi dengan tujuan-tujuan tertentu, akan memperlambat laju pertumbuhan dan perkembangan bangsa Indonesia ke depan.

Mulai memikirkan jalan keluar dari kepulan asap yang menyelimuti bangsa Indonesia semestinya menjadi fokus utama dari semua kalangan. Bukan hanya menyerahkan nasib rekonsiliasi kepada pihak yang berkontestasi di pilpres, namun masyarakat luas juga memiliki peran mendorong terjadinya rekonsiliasi tersebut.

Masyarakat luas memiliki hak untuk mendorong terjadinya rekonsiliasi, bila para elite telah miskin inisiatif memulai. Bila masyarakat yang menyuarakan tentu tanggapan akan berbeda, sebab mereka menjadi alasan yang dipegangi dari dua kubu.


Telah banyak kisah yang terjadi kepeloporan masyarakat luas menyuarakan aspirasi mampu membalikkan keadaan. Peristiwa heroik yang ditunjukkan masyarakat luas dalam mempertahankan kemerdekaan menjadi contoh nyata. Betapa kuat dan efektif bila masyarakat telah mengambil bagian di dalamnya.

Seruan rekonsiliasi sebagai upaya keluar dari kabut asap mesti didengungkan dari berbagai celah. Semua elemen sosial bangsa Indonesia mesti diupayakan berada dalam barisan yang sama. Baik dari barisan elite politik maupun barisan lintas masyarakat, semua harus padu dalam irama menjaga dan merawat keragaman.

Qasim Mathar, Guru Besar UIN Alauddin Makassar, mengutarakan, “Kenapa rakyat Amerika Serikat tidak ribut pasca-pilpres? Karena, baik dari Republik maupun Demokrat yang terpilih pasti mengurus Amerika Serikat dengan baik”.

Kita berharap, apa pun keputusan gugatan dari MK yang diajukan oleh pihak Prabowo tidak menutup jalan bagi terciptanya rekonsiliasi. Sembari kita berdoa presiden terpilih melakukan yang terbaik dan berdiri di atas semua golongan. 

Sembari mengajak kita secara bersama-sama keluar dari kabut asap yang menyelimuti kehidupan berbangsa dan bernegara dalam satu barisan yang padu.

Artikel Terkait