Pentingnya meluputkan harapan terhadap seseorang,

Kesalahan fatal yang kerap diadopsi seseorang ialah adanya sebuah pengharapan. Terlepas dalam konteks apapun, harapan akan sangat dekat dengan kekecewaan, kesakitan, ketragisan dan apapun yang senantiasa menjadikanmu merasa terluka. Bagaimana tidak, cara kerja sebuah harapan, khususnya terhadap seseorang diluar diri kita, tentunya lepas atas kuasa diri. Maka tak heran, dalam proses mencintai seseorang yang kelindan dengan ragam pengharapan, seringkali melahirkan luka-luka yang tak terbayangkan.Luka-luka yang ditanam yang kemudian dituai untuk dinikmati oleh diri sendiri. Luka-luka yang tanpa sadar telah dipupuk dan disiram oleh ragam harap-harap kebahagiaan yang diciptakan oleh diri sendiri.

Ironisnya, setelah hati terasa berat menahan luka, dengan luput dari mengingat segala ke-egois-an, diri ini lantas merasa seolah seseorang yang kita cintai telah sepenuhnya berlaku jahat. Diri ini marah, seolah dialah dalang dari segala luka-luka yang menyayat hati.  Yang padahal, kita sedang melupa, bahwa ada diri yang egois, yang mengharap kebahagiaan dari yang lain.


Sebab hati terluka,

Pun tetap tak bisa dipungkiri, selain hati yang penuh harap, sebab dari hati yang terluka juga senantiasa hadir dari sebuah pengkhianatan. Pengkhianatan, atas rasa kesalingan untuk menjaga serta merawat renjana yang telah diramu bersama.

Lantas, bagaimana kala hati kadung terluka?


Biar waktu yang menyembuhkan,

Mungkin kata-kata tersebut sudah tidak sangat asing lagi didengar. Sebab, seringkali terlontar mantra demikian untuk seseorang yang sedang mengalami ke-patah hati-an. Yaa, percaya atau tidak, waktu memang kian berperan dalam pemulihan kelindan luka-luka. Bersama waktu, meskipun cepat atau lambatnya tak pernah mendapati satu kepastian, namun sembuh adalah keniscayaan.  

Pun aku termasuk seseorang yang mempercayai mantra demikian, seringkali kujumpai kesembuhan, saat sang waktu telah berjalan dengan cepat dan lambatnya. Terlebih, sebagai seseorang yang kerap merajut renjana dengan dalam, aku merasakan cara kerja dari mantra tersebut. Oleh sebab itu, saat semua telah pulih kembali, aku semakin percaya, peran sang waktu atas luka-lukaku. Meski tak dapat dipungkiri, kehadiran sang waktu bukan sebagai pemeran tunggal, tetap ada kehadiran pemeran lain yang juga turut hadir sebagai penyempurna atas kesembuhan.



Kehadirannya, menyempurnakan kesembuhan,

Kiranya memang terlalu sadis, saat terbesit satu pikiran untuk menjadikan “seseorang yang baru” dalam proses penyembuhan luka-luka kita sebelumnya. Sebab, secara kejam, kita telah menjadikan seseorang tersebut sebagai bentuk “pelampiasan” dari rasa yang belum tuntas mengenai ke-tak-terimaan atas luka-luka yang masih kelindan. Yang padahal, adalah keniscayaan seseorang tersebut kian menggoreskan luka-luka baru. Luka lama belum sembuh, sudah ada luka baru yang amat basah.

Namun, berbeda saat kita menjadikan seseorang tersebut sebagai penyempurna atas kesembuhan luka-luka yang ada. Sebab sebagaimana tadi, waktu tak berperan sendirian, ada pihak lain selain diri kita dan waktu, yang senantiasa beriringan untuk memberi kesadaran. Ia hadir bersama kesadaran. Kesadaran atas keniscayaan bahwa akan selalu ada orang baru yang hadir bersama ketulusan yang mendalam, lebih dari orang-orang sebelumnya. Akan selalu, ada sosok baru yang keberadaannya tak pernah terbayangkan namun mampu menenangkan. Akan selalu, ada dia yang baru, yang bersama kehadirannya ada bahagia yang terciptakan.


Cinta itu menciptakan kebahagiaan, bukan mendapatkan,

Kiranya, proses mencintai yang didasarkan untuk mendapat kebahagiaan, hanya akan menyiapkan luka-luka mendalam. Sebab, untuk mendapat kebahagiaan, tak jarang menjadikan seseorang lekat dengan pengharapan; berharap seseorang yang di cinta akan memberi apa-apa yang diingin, sehingga mendapati rasa bahagia, berharap seseorang yang di cinta akan senantiasa memanjakan, sehingga mendapati penuh kebahagiaan, dan harap-harap lainnya yang didasarkan untuk mendapatkan kebahagiaan.

Mengapa cinta itu menciptakan kebahagiaan bukan justru mendapatkan? Begini, proses menciptakan dengan mendapatkan tentu kentara berbeda. Sebab, mencintai dengan kesadaran menciptakan kebahagiaan, akan senantiasa menjadikan seseorang lepas atas harap mendapat kebahagiaan dari seseorang yang dicinta (seseorang diluar dirinya). Sebab, kerap kali kata mendapatkan berdampingan dengan memberikan. Dampaknya, ketika salah satu pihak merasa tidak mendapatkan kebahagiaan, maka menganggap seseorang yang dicintainya telah melakukan kesalahan (tidak memberi kebahagiaan) adalah sebuah kemungkinan.  

Beda halnya dengan menciptakan, proses menciptakan kebahagiaan akan senantiasa dilakukan dengan penuh kesadaran. Yaaa, kita menyadari bahwa terlepas dari apapun, kebahagiaan itu menjadi niscaya apabila ada kemauan untuk menciptakan kebahagiaan itu sendiri. Dan tak mustahil, proses menciptakan kebahagiaan tersebut dilakukan secara bersama dengan penuh kesalingan. Maka, kecil kemungkinan, salah satu pihak akan merasa terposisikan sebagai yang terberi atau yang memberi. Sebab, keduanya berperan dalam kesalingan menciptakan kebahagiaan, bukan beradu peran untuk mendapatkan kebahagiaan.


Cinta yang menyakitkan adalah cinta yang kelindan dengan ragam pengharapan. Sebab, cinta itu memerdekakan, bukan mengekang. Memerdekakan sang empunya, untuk mampu berbahagia serta membahagiakan. Bukan justru mengekang, memupuk harap mendapat kebahagiaan.