Istilah “kelinci percobaan” tentunya sudah tidak asing lagi bagi kita. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata “kelinci percobaan” secara denotatif berarti hewan kelinci yang digunakan dalam percobaan, biasanya untuk uji obat-obatan, kosmetika, dan bahan-bahan kimia berbahaya. Sementara, secara konotatif istilah ini dimaknai sebagai orang yang dimanfaatkan untuk melakukan uji coba alias sebagai “korban”. Apakah hanya manusia yang menjadi korban? Apakah kelinci juga bukan korban?



Publikasi ilmiah yang ditulis oleh para peneliti Indonesia maupun dari seluruh dunia menyatakan bahwa hewan yang digunakan dalam percobaan tidak hanya kelinci, tetapi juga tikus, mencit, hamster, dan marmut. Hal ini karena hewan-hewan tersebut memiliki kemiripan secara biologis dengan manusia, terutama dari sisi fisiologis alias fungsi sistem organ tubuh dan proses metabolisme. Selain hewan-hewan tersebut, katak, ikan, burung, anjing, kucing, monyet, dan berbagai hewan lainnya juga digunakan dalam kegiatan pendidikan seperti praktikum biologi dan kedokteran.

Mengapa penggunaan hewan-hewan dalam percobaan diizinkan? Tidakkah itu melanggar “hak asasi hewan” dan “perikehewanan” karena telah membatasi kebebasan hidup mereka? Bukankah itu adalah tindakan menyakiti karena memaksakan sesuatu terhadap hewan tak berdaya sehingga dapat dikategorikan sebagai bentuk kekejaman dan penganiayaan?

Pro kontra penggunaan hewan dalam percobaan

Pihak yang menentang penggunaan hewan dalam percobaan (kelompok pembela Animal Rights) pada awalnya hanya mengecam semua penelitian yang melibatkan pembedahan hewan dengan mengadakan suatu gerakan yang dikenal sebagai “antivivisection”. Namun kemudian mereka menolak segala bentuk penggunaan hewan dalam percobaan karena dianggap melanggar hak hewan untuk hidup bebas.

Menurut John Hadley, seorang filsuf dan pemerhati etika hewan, para filsuf mengatakan bahwa praktik penggunaan hewan dalam penelitian adalah kesalahan besar. Menurut mereka, hewan dan manusia adalah serupa: Human is animal, animal is nonhuman animal. Keduanya memiliki hal-hak yang sama sehingga harus diperlakukan sama pula. Apabila dikatakan tidak etis menggunakan human dalam penelitian, mengapa penggunaan nonhuman menjadi etis?

Manusia dapat menolak menjadi subjek penelitian, sementara itu hewan tidak punya pilihan. Oleh karena itu, penggunaan hewan dalam percobaan dianggap sebagai pemaksaan kehendak dan tindakan merendahkan.



Di sisi lain, pihak yang mendukung penggunaan hewan dalam percobaan (kelompok pendukung Animal Welfare) menyatakan bahwa kemiripan hewan dan manusia secara biologis justru menjadi alasan yang kuat mengapa hewan dijadikan sebagai subjek atau "model" dalam penelitian. Apabila hewan sama sekali tidak boleh digunakan lagi dalam percobaan, lalu bagaimana solusinya? Apa yang bisa menggantikan hewan dalam percobaan?

Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, ditawarkan dua metode alternatif di samping penelitian yang menggunakan hewan secara langsung (in vivo), yaitu penelitian in vitro (misalnya penelitian menggunakan kultur sel atau jaringan), dan penelitian in silico (simulasi penelitian biologis menggunakan komputer atau bioinformatika) yang saat ini sedang digandrungi.

Keduanya dapat dilakukan, namun tidak akan pernah bisa menggantikan penelitian in vivo karena tidak adanya keterlibatan parameter fisiologis (sistem organ tubuh yang saling terkait satu sama lain), yang sangat berpengaruh terhadap proses metabolisme tubuh.



Etika terhadap hewan

Sebagaimana semua profesi yang berhubungan dengan makhluk hidup, peneliti di seluruh dunia terikat pada kode etik yang harus dipatuhi. Salah satunya adalah etika bekerja menggunakan hewan dalam percobaan (animal ethics).

Yang pertama adalah adanya penjaminan kesejahteraan hidup hewan yang dikenal sebagai the Five Freedoms of Animal Welfare. Secara garis besar prinsip ini menyatakan bahwa: Hewan tidak boleh haus dan lapar, hewan harus merasa nyaman, hewan tidak boleh merasa kesakitan, terluka, dan menderita penyakit, hewan harus tetap dapat menunjukkan perilaku normal/alaminya, serta hewan tidak boleh ketakutan dan stres selama percobaan.

Yang kedua adalah pembatasan jenis dan jumlah hewan yang digunakan (replacement and reduction). Sebisa mungkin peneliti tidak menggunakan "hewan besar" selama percobaan dapat diterapkan pada “hewan kecil". Contohnya adalah apabila suatu percobaan sudah cukup dengan tikus maka tidak perlu menggunakan babi atau kuda. Kalau hal ini tidak memungkinkan, maka peneliti harus mengurangi atau meminimalisir jumlahnya. Selain itu juga harus menerapkan metode/prosedur yang tepat (refinement) sehingga dengan jumlah hewan yang sedikit hasil percobaan tetap valid dan dapat dipertanggungjawabkan.



Peneliti yang terbukti melanggar ketentuan tersebut akan dijatuhi sanksi sesuai dengan derajat pelanggaran yang dilakukan, mulai dari peringatan, hukuman denda, penjara, penutupan fasilitas pemeliharaan hewan/laboratorium yang digunakan, hingga penangguhan, pemecatan, dan pencabutan hak meneliti.

Hewan sebagai model

Salah satu jenis penyakit yang terus meningkat prevalensinya di hampir seluruh belahan dunia adalah “Sindrom Metabolik”, yaitu gangguan kondisi kesehatan akibat kesalahan pola makan dan gaya hidup yang tidak seimbang. Penyakit ini meliputi: kegemukan/obesitas, diabetes, kolesterol dan lemak darah tinggi, hipertensi, stroke, penyakit jantung, dan gagal ginjal.

Dalam rangka mengatasi penyakit-penyakit tersebut, peneliti menggunakan hewan sebagai “model awal” dalam percobaan. Apabila percobaan dengan hewan (penelitian praklinis) memberikan hasil yang positif sesuai harapan, maka akan dilanjutkan dengan uji coba pada manusia sehat (penelitian klinis). Sebaliknya apabila hasilnya negatif, maka peneliti akan terus mencari solusinya karena berarti hasil percobaan tersebut belum dapat diterapkan kepada manusia.



Apa yang terjadi kalau percobaan-percobaan tersebut langsung menggunakan manusia untuk uji coba? Contoh:

  • Formula baru obat penurun gula darah langsung diresepkan kepada penderita diabetes?
  • Metode operasi jantung langsung dicobakan kepada pasien jantung koroner?
  • Terapi kanker payudara menggunakan listrik langsung dipraktikkan kepada pasien?
  • Pembedahan otak pada lansia untuk penelitian penyakit Alzheimer?

Dengan demikian, penggunaan hewan sebagai “kelinci percobaan” dalam hal ini mutlak diperlukan sebagai model untuk menggambarkan kondisi biologis manusia apabila percobaan-percobaan tersebut nantinya diterapkan. Dengan catatan bahwa peneliti harus tetap tunduk dan terikat pada dua etika yang telah disebutkan di atas.

Hewan-hewan percobaan ada dan dikembangbiakkan demi kepentingan manusia. Hidup mereka memberikan manfaat untuk kelangsungan hidup manusia. Maka dari itu, tidak berlebihan apabila peneliti dan kita semua mengakui dan menghargai keberadaan mereka. Tanpa jasa-jasa mereka maka tidak akan ada solusi untuk upaya perawatan kesehatan demi peningkatan kesejahteraan hidup manusia.