Peningkatan mutu dan kualitas pendidikan merupakan upaya yang harus  dilakukan dalam rangka mewujudkan pendidikan yang lebih baik. Salah satu cara meningkatkan mutu dan kualitas pendidikan adalah mengoptimalkan proses pembelajaran.

Proses pembelajaran memerlukan sarana yang dijadikan pedoman dan salah satunya yaitu buku ajar. Buku ajar merupakan sebuah buku yang digunakan dalam aktivitas belajar mengajar yang di dalamnya disajikan ilustrasi untuk memberi variasi bahan ajar sehingga lebih menarik dan memudahkan pembaca memahami pesan yang disampaikan.

Menurut Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), kriteria buku ajar yang berkualitas harus memenuhi empat unsur, yaitu isi, penyajian, bahasa, dan grafik. Lantas apakah buku ajar yang telah diterbitkan oleh Kementerian Agama Republik Indonesia Tahun 2016 sudah sesuai dengan kriteria buku yang berkualitas?

Buku ajar siswa Sejarah Kebudayaan Islam Kelas XII Madrasah Aliyah terdapat beberapa problem terhadap penyajiannya, terlebih pada bagian ilustrasi. Dalam buku ajar, sebuah ilustrasi sangat penting untuk diperhatikan dalam penyajiannya, karena sebuah ilustrasi yang menarik bisa membangkitkan semangat belajar peserta didik.

Ilustrasi mempunyai arti memperjelas atau memberi kejelasan melalui contoh, analogi atau perbandingan, mendekorasi. Ilustrasi adalah suatu cara untuk menyampaikan sebuah informasi dengan wujud berupa visual. Esensi dari ilustrasi adalah pemikiran, ide, dan konsep yang melandasi apa yang ingin dikomunikasikan gambar.

Ilustrasi sebagai sarana dalam mengungkapkan pengalaman tentang suatu kejadian yang diekspresikan dengan media gambar, memberikan gambaran terkait isi sebuah cerita atau tulisan yang disampaikan, dan sebagai nilai keindahan dalam perwajahan.

Ilustrasi merupakan gambar, diagram, atau peta yang digunakan untuk menjelaskan atau menghias sesuatu, terutama bagian tertulis dari sebuah karya cetak seperti buku ajar yang berfungsi untuk menjelaskan maksud materi kepada peserta didik yang memiliki beragam tipe belajar.

Tipe belajar peserta didik yang memanfaatkan sebuah ilustrasi, yaitu tipe belajar visual. Tipe ini merupakan gaya belajar yang cenderung memanfaatkan ketajaman penglihatan sehingga proses belajar dilakukan dengan menyerap informasi berdasarkan apa yang dilihat.

Peserta didik yang memiliki tipe belajar visual, maka membutuhkan bukti-bukti yang konkret dan harus diperlihatkan dengan jelas supaya peserta didik bisa memahami informasi yang sudah disampaikan di dalam buku ajar dan tidak membuat bingung peserta didik.

Dalam buku ajar Sejarah Kebudayaan Islam Kelas 12 MA Kurikulum 2013 Penerbit Kementrian Agama Republik Indonesia Tahun 2016 yang disusun oleh Muhammad Khalili, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan lagi dalam menyusun ilustrasi, meliputi:

Bab I: Pembaruan dan Modernisasi Dunia Islam

Pada halaman 3, terdapat pemaparan ilustrasi tokoh pembaharuan yang kurang sesuai di dalam buku ajar, keterangannya “Jamaludin al-Afghani” tetapi tokoh yang dipaparkan yaitu “Hasan al-Banna”. Hal ini sangat mengecoh peserta didik, terhadap pengetahuan tokoh-tokoh Sejarah Kebudayaan Islam.

Pada halaman 3, bagian peta konsep terdapat perintah ‘Amati Gambar Berikut ini dan Berikan Pendapatmu!. Pada ilustrasi urutan ke 2, tidak diberi keterangan di bawahnya, sehingga bisa membuat bingung peserta didik karena tidak akan paham dengan apa yang ditampilkan dan diperintahkan.

Bab II: Sejarah Masuknya Islam di Indonesia

Pada halaman 27-28, terdapat perintah ‘Amati Gambar Berikut ini dan Berikan Pendapatmu!’. Pada ilustrasi urutan ke 2, 3 dan 4 tidak ada keterangan di bawahnya, sehingga peserta didik tidak akan faham terhadap keterangan tersebut dan peserta didik akan bingung dalam memberikan pendapat.

Bab III: Tokoh-Tokoh dalam Penyebaran dan Perkembangan Islam di Nusantara

Pada halaman 52, terdapat perintah ‘Amati Gambar Berikut ini dan Berikan Pendapatmu!’ dan pada ilustrasi ke 2, terdapat gambar walisongo tetapi tidak diberikan penjelasan di bawah ilustrasi, sehingga peserta didik akan kebingungan dalam memberikan pendapat terhadap ilustrasi tersebut.

Bab V: Sejarah Perkembangan Islam di Asia Tenggara

Pada halaman 149-150 terdapat beberapa tahap klasifikasi Islamisasi awal di Sulu. Alangkah baiknya tahap-tahap tersebut dibuat tabel atau point-point yang menurun ke bawah. Hal ini perlu diperhatikan lagi, supaya peserta didik tidak bosan membaca dan mengetahui point-point yang penting.

Bab VI: Perkembangan Islam di Afrika, Amerika, Eropa dan Australia

Pada point Aljazair dan Tunisia halaman 167 dan 168 tidak dipaparkan ilustrasi, menurut saya akan menimbulkan pertanyaan dari peserta didik berupa “Apakah bukti perkembangan yang pernah terjadi di dua Negara tersebut ?”. Sehingga tidak adanya ilustrasi bisa membuat bingung terhadap peserta didik.

Pada halaman 178 ada pemaparan ilustrasi yang kurang sesuai dengan pembahasan materinya. Pada materi dijelaskan mengenai masjid yang dibangun di berbagai wilayah Australia, akan tetapi ilustrasi yang dipaparkan yaitu Sekolah Islam di Australia. Menurut saya ilustrasi tersebut memang tidak sesuai dengan materi bahasannya.

Bab VII: Pusat Peradaban dan Tokoh-Tokoh

Lebih baik ada pemaparan ilustrasi pada materi yang menjelaskan tentang tokoh-tokoh Islam. Karena hal ini bisa memperkenalkan tokoh tersebut kepada peserta didik sehingga bisa mengetahui tokoh-tokoh Islam dan tidak membuat jenuh kepada peserta didik karen materinya full text.

Dari hasil analisis diatas, maka perlu diperhatikan lagi dalam mencantumkan ilustrasi beserta keterangannya. Karena ilustrasi ini sangat penting untuk membangkitan motivasi, komunikatif, dan ilustrasi yang baik menggunakan ilustrasi yang sesuai dengan kondisi.

Sebuah ilustrasi akan memudahkan para peserta didik untuk mengingat konsep serta gagasan yang disampaikan melalui suatu gambar serta membuat para peserta didik penasaran dan membuat mereka ketagihan untuk membacanya lebih lanjut untuk mengetahui informasi yang ada di dalamnya.