Gulungan ombak hantam buritan kapal. Percikannya begitu keras. Hingga basahi tumpukan drum yang terikat kokoh oleh tali sabut. Air dan ceceran minyaknya berkilauan di geladak kapal. Semburatkan warna pelangi.

Sepasang sol sepatu tepat menginjaknya. Menutup festival warna indah itu. Sosok itu terlihat menggigil. Tubuhnya terbungkus jas hujan butut. Kedua tangannya mengendalikan lampu sorot.

Sesekali kepalanya melongok ke bawah. Berkali-kali berseru lantang, namun tiada jawaban. Hanya suara pecahan ombak menguasai orkestra alam. 

Sedang, petir sedari tadi rajin menyambar. Hujan badai itu mengurung sebuah kapal perang milik angkatan laut Belanda.

Sorot lampu kembali menghantam permukaan air. Paduan bayangan gelap dan terangnya melukis abstrak seram. Berharap kepala-kepala manusia itu muncul.

“Bandi! Tarjo! Tarigan! bereskah?” 

Pertanyaan diulangi lagi oleh Rustam Dubois. Seorang kepala teknisi mesin peranakan Belanda, biracial

Dia baru saja naik pangkat. Kini kerjanya hanya teriak-teriak dan minum arak. Khas Indies (peranakan Indonesia-Belanda) yang pongah jabatan.

Angin masih bertiup kencang. Jas hujannya tercabik-cabik badai. Menimbulkan bunyi tepukan beruntun. Semeriah acara serah jabatan barunya kemarin itu. 

“Rustam! Ulurkan tali!”

Teriakan nyaring lamat-lamat terdengar dari permukaan air laut yang bergelora itu Kagetkan Rustam yang sedang terbuai, ia kaget bukan kepalang, buyarkan kenangan euforianya. Tangannya langsung memutar tuas lampu sorot ke sumber suara.

Tampak tiga kepala manusia menyembul tanpa skuba. Rambut hitam mereka basah berkilau diterpa sorot lampu kapal. Mata mereka memincing silau. Deru napasnya tampak tersengal. Pertanda cukup lama memaksa menyelam.

Bandi, Tarigan dan Tarjo, tiga penyelam handal dari regu pelaut pribumi didikan KNIL itu terlihat terombang-ambing menunggu uluran tali si Rustam. Dilemparkannya tali besar itu. Naas, lemparan Rustam melenceng jauh.

“Goblok!” Tarigan nekad menghardik sambil berenang menjemput tali itu. Meluncur pelan melawan gelombang. Beberapa kali kepalanya timbul tenggelam oleh gulungan dan tamparan ombak besar. Berjibaku menjemput tali penyambung nyawa sebelum jauh terseret ombak.

Hingga akhirnya satu persatu pelaut itu dapat naik ke dek kapal. Mereka masuk ruangan kelasi. Mengganti seragam yang basah kuyup. Dan meminum teh hangat untuk mencairkan beku tubuh.

“Beres!” kata Tarjo sambil memasukkan belati ke sarungnya. Rupanya ganggang laut membelit putaran balang-baling kapal. Para kelasi itu adalah sejumput pribumi yang beruntung. Anak orang kaya, putera wedana dan mungkin juga keturunan para pejilat yang memanfaatkan kebijakan kolonial di tahun 1916.

Belanda membuka kesempatan bagi bangsa Indonesia untuk memperoleh pendidikan kelautan. Tentunya pendidikan hanya di pangat rendah seperti kelasi pangkat rendah. Mereka ditugaskan sebagai ABK di kapal perang atau maskapai pelayaran Belanda.

“Apa kau kata tadi!!?? Godverdomme vuile inlander!!”(sialan pribumi tolol!!).

Tangan kekar Rustam mencekik leher Tarigan hingga tersedak hebat. Rustam tak terima hardikan tadi, atas lemparan talinya yang melenceng. Merasa pangkat dan kedudukan tinggi khas hirarki kemiliteran.

Akibat cekikan tersebut, beberapa semburan muntahan menyemprot ke wajah Rustam. Rupanya Tarigan kebanyakan meminum air laut hingga kembung. Bandi dan Tarjo terpingkal hingga merunduk. 

Awalnya mereka adalah empat sekawan. Namun karena perbedaan pangkat, kini saling merundung iri hati.

“Hai kau Rustam sombong banget !!” Tarjo mendekat. Seketika Rustam melepas cekikannya.

“Mentang-mentang kepala mesin!!” Bandi ikut mendekat, mendorong dada si Rustam hingga mundur beberapa depa. Diambilnya sebungkus kretek yang terselip di kantong bajunya. Berani sekali, Rustam diam saja.

Perawakan Bandi lebih besar dari Rustam. Disulutnya kretek itu. Hisapan pertamanya tampak nikmat. Asap mengepul tersembur ke wajah Rustam, pertanda perundungan.

Rustam tak berkutik kali ini. Merasa tiada dukungan, tiga banding satu! Akhirnya dia keluar kabin. Menikmati sisa waktu kapal bersauh. 

Beberapa saat kemudian Rustam beri kode jari berputar ke anjungan kemudi sambil berteriak, “Kapten nyalakan mesin!!” 

Tampak di anjungan kemudi seorang tua berdiri. Membalas dengan kode jempol. Tubuhnya jangkung dan tegap. Berwibawa dengan topi nahkoda warna putihnya. Wajahnya berjambang lebat dengan guratan otot wajah yang keras.

Dimulutnya terselip pipa cangklong yang berasap. Dialah Kapten Peterson. Anak asuhan dewa laut! Itulah julukan yang diberikan anak buahnya.

Mesin kapal mulai menyalah hebat. Menggetarkan geladak yang mereka pijak. Baling-balik mengaduk kedalaman. Kapal itu mulai melaju pelan. Sementara badaipun mulai mereda.

Fajar pagipun menyingsing. Tampak di permukaan air rangkaian riak putih berbusa mengekor kapal. Pertanda kapal mulai melaju kencang.

Bagi Kapten Peterson tak perlu kisah Titanic 1912 untuk membuat tradisi heroik seorang nahkoda. Tidak perlu juga berguru kepada Kapten Edward John Smith, Sang nahkoda Titanic.

Pengalaman Kapten Peterson biasa-biasa saja. Malah pernah berurusan dengan pengadilan pelayaran. Kapalnya hampir menabrak pembatas mercusuar. Ketika Sang Kapten memanjakan anak buahnya dengan berpesta pora. Hingga lalai dengan rambu-rambu laut.

Inilah Kapten Peterson, sang penghibur anak buah. Baginya anak buah adalah segalanya! 

“Mulai besok Kapten kapal ini saya serahkan kepada Kapten Eikenboom.” kata Kapten Peterson penuh wibawa.

“Selamat menikmati masa pensiun Kapten!” ucap Rustam mendahului yang lainnya.

Ada senyum puas yang tersembunyi dibalik seringai penjilatnya. Rustam merasa di atas awan. Siap-siap balas dendam atas semua perundungannya. Kapten baru, si Eikenboom lebih mengenalnya, ya sebagai penjilat. 

Apa lagi yang bisa dilakukan oleh seorang darah campuran, selain menjilat salah satu sedarahnya.

Malam itu pesta perpisahan Kapten Peterson sungguh meria. Sejumlah kesedihan dapat disembunyikan dengan tegukan minuman keras. Sejumlah lainnya tepapar meratap di pojok-pojok pesta.

Bagi mereka Kapten Peterson adalah bapak yang penuh kasih sayang kepada anak-anaknya. Semua diperlakukan adil. Baik kelasi Belanda, inlander (pribumi) ataupun para Indies. Setelah ganti Kapten, mulai terasa diskriminasi, khas kolonialisme. 

“Kita ransum ikan asin!” Tarjo menggerutu.

“Ah kau manja!” tukas Bandi.

Sementara para awak kapal berkebangsaan Belanda selalu mendapatkan ransum daging. Ini yang membuat mereka makin merindukan Kapten Peterson.

“Memang kau nyaman dengan kamar dekat ruang mesin!!??”

Sebaliknya orang-orang Belanda mendapatkan tempat di sebelah atas yang jauh dari hawa panas ruang mesin.

“Hai inlander !! teriak Rustam.

Dua orang kelasi inlander mendekat patuh tunduk.

"Lekas kassie aijer (kasih air) ke sini !!!!”

"Baik kopral!!”

Nampak buru-buru keduanya mengambil dua drum besar air.

Kopral Rustam memasukkan ubur-ubur penyengat yang sudah disiapkan.

"Kalo kowe (kamu) tak bicara, geen ampoen meer.” (tak aku kasih ampun). 

Kedua kelasi inlander itu tertangkap basah mencuri ransum daging miliknya.

"Ampun kopral," memelaslah keduanya.

Akhirnya, mereka dihukum di geladak kapal. Dijemur hanya mengenakan celana pendek sambil kepalanya bertopi panci hitam legam. Sedang di anjungan, berderet kelasi Belanda terbahak menyaksikan hukuman dan perundungan itu.

Je lach je kripoet!” (tertawalah sampai keriput!) Kopral Rustam puas tergelak. Diikuti kelasi-kelasi Belanda lainya.

Sementara tiga pasang mata hitam mengawasi dari buritan. Memendam panas dada yang bergejolak. Menghilang dalam gelap lorong kapal sambil menggotong peti-peti berat.

Para kelasi terbiasa berkomunikasi dengan bahasa Pecok atau Petjoh. Termasuk tiga pasang mata hitam yang menyelinap tadi. Mereka adalah pengguna bahasa campuran atau kreol yang banyak digunakan oleh kalangan Eropa dan campuran waktu itu.

Bahasa Petjoh atau Pecok sebenarnya merupakan campuran dari berbagai kosa kata Belanda yang mendapat pengaruh kuat dari bahasa Melayu dan Jawa. 

Penuturnya terbentuk kuat di tempat-tempat pertemuan berbagai macam bahasa. Pelabuhan dan pasar merupakan basis-basis perkembangan bahasa Petjoh.

Sebuah Petjoh atau Pijin biasanya terjadi di kota-kota pelabuhan tempat bertemunya pedagang dan pelaut dari berbagai bangsa dan atau suku bangsa yang berlainan dengan bahasa ibunya.

Petjoh atau Pijin terbentuk sebagai bahasa campuran dari bahasa pelaut dan pedagang itu, serta hanya digunakan sebagai alat komunikasi di antara mereka yang berbahasa ibu berbeda itu.

                                                                            ********

Sore yang indah di pelabuhan Ulee Lheue Aceh. Selayaknya pelabuhan kota bandar lainnya sibuk di sore hari itu. Para kuli panggul lalu lalang membongkar muatan kapal. Warung-warung mengepulkan asap.

Aroma kudapan sarat rempah-rempah  begitu menggoda selera. Saatnya santai bagi awak kapal. Setelah penat dengan pelayaran dan menu-menu membosankan. Di bangku-bangku warung yang berderet itu duduk berbagai macam raut wajah.

Ada orang Lamno, orang Aceh berdarah Portugis dengan khas mata birunya. Mereka lebih serius, diam tanpa banyak kata menegak minuman keras.

Kemuadian orang-orang Laratuquieros, percampuran penduduk NTT dengan Portugis yang tak kalah seru ikut nimbrung di warung itu. Khas dengan obrolan volume tinggi.

Cocok dengan para Mardijker atau Mahardika, sekumpulan percampuran portugis Malaka dari Batavia. Kedua komunitas ini paling mendominasi keriuhan warung. Suasana percampuran makin kental. Bahasa Petjoh sangat efektif bagi mereka.

“Jangan lupa jam 8 malam!"

"Beres!"

"Jangan sampai bocor!!"

Tiga pasang mata hitam telah bersepakat di warung pojok pelabuhan itu. Sedang kelasi lainnya mulai larut dalam kesenangan kota bandar.  

Tepat pukul delapan di sebuah gedung bioskop yang mulai ramai dengan penonton yang berdatangan, tiga pasang mata hitam dan satu pasang mata biru memisahkan antrian masuk gedung bioskop.

Mereka berempat menyelinap masuk pintu belakang. Bersepakat di gudang penyimpanan rol film.

"Surabaya sudah panas!"

Mereka bukanlah kelasi biasa. Sejalan dengan perkembangan pergerakan nasional Indonesia, pemuda pelaut yang bekerja di kapal-kapal Belanda berusaha membentuk berbagai organisasi kelautan.

Ada Inlandsche Marine Bond (IMB) dan  Inlandsche Marine Bond (Ch IMB). Melalui organisasi ini, para pelaut Indonesia berhasil membangkitkan kesadaran nasional serta mempertebal semangat kelautan.

Muiterij in de Tropen!” (Pemberontakan Tropis!).

Terdengar menggelegar yel-yel sambutan pertemuan rahasia itu. Namun masih kalah dengan suara pemutaran bioskop yang keras sekali. Para kelasi inlander beralasan untuk merayakan hari raya Idulfitri, dan Belanda sedikit terkecoh.

 “Tarigan cepat lakukan sekarang!” seru Tarjo sedikit berbisik.

Tak lama kemudian kebakaran besar di pusat kota. Para Belanda tergopoh-gopoh berlarian kearah pusat api. Rapat kilat pun dilakukan. Pidato-pidato keras menuntut keadilan.

 “Itu si Paradja kah?” tanya Tarjo.

“Benar,” jawab Bandi penuh percaya diri.

Kelasi Paradja seorang Sulawesi. Tegas berwibawa dan suka memberontak. Pidatonya berapi-api. Beberapa kelasi Belanda turut hadir. Tentunya mereka yang jiwanya tergugah atas ketidakadilan. 

Jiwa-jiwa murni tanpa memandang genetika. Doktrin kepatuhan militer telah dikalahkan oleh luapan hati nurani murni.

“Kita akan kuasai kapal!”

Ucapan Paradja membuat mereka terhening seketika. Tak disangka akan sejauh ini. Penguasaan kapal sudah terhitung mengoyak keibawaan Angkatan Laut Belanda. Taruhannya hukuman mati.

“Heee!! mau kemana kau !! Tetiba Tarigan mau beringsut dari tempat duduknya. Seperti keder juga mendengar ucapan Paradja tadi.

“Kelasi Petjoh harus berani mati!!

Sekitar pukul 10 malam, tiba-tiba suara peluit panjang mengisi keheningan. Bunyi peluit menyampaikan perintah awal perlawanan terhadap Berada di kawasan Pelabuhan Uleelheue. Perlawanan pun menyeruak.

“Saatnya kita tikam dia!”

“Jangan!”

“Kenapa?”

“Kita satu korps, lupakan dendam pribadimu!”

Tarigan, Tarjo dan Bandi berdebat untuk menikam Rustam.

“Musuh kita ketidakadilan yang terorganisir, kesampingkan dulu urusan pribadimu!”

“Baiklah.”

“Kita perlu Rustam untuk memutar meriam.”

“Bereskan saja Kapten Eikenboom!!”.

Akhirnya, kelompok pelaut berkulit coklat dipimpin Paradja dan Gosal, sedangkan marinir serta awak putih dikomandoi Boshart dan Dooyeweerd. Mereka memabajak kapalnya sendiri, De Zeven Provincien. Kali ini, struktur komando De Zeven Provincien berubah.

Kelasi Paradja bertindak memegang komando, Kelasi Kawilarang yang berpengalaman di Eropa ditunjuk sebagai navigator.

“Rumambi, ambil alih komunikasi!”

“Siap Kapten!!”

Seketika itu Paradja naik pangkat menjadi kapten kapal De Zeven Provincien.

Kelasi Rumambi yang berfigur introvert, seketika harus mampu mengendalikan komunikasi. Dia memegang tanggung jawab telepon, telegram dan radio.

“Hendrik!!”

“Siap Kapten!!”

“Perbesar katub bahan bakar, kita akan perpacu!!

“Siap!!”

Sedang, Kopral Gosal kebagian mengurusi kesehatan. Beberapa suntikan morfin disiapkan sebagai pengganti cerutu-cerutu mereka untuk mengalihkan rasa apapun.

Melihat kesetiaan dan kesatuan korps tersebut, Rustam mengecil. Perintah Tarigan diembatnya saja. Rustam memang bunglon yang kanak-kanak. Merinding ketika melihat jiwa korsa para kelasi yang siap membajak kapalnya sendiri.

Gubernur Jenderal De Jonge segera memerintahkan Kapal Perang Angkatan Laut Kerajaan Belanda, Aldebaren, untuk mengejar kapal De Zeven Provincien.

Namun, kapal De Zeven Provincien alih-alih ikuti perintah berhenti, Kawilarang justru melempar sinyal akan menembak dengan menggenggam jarak tembak, elevasi, dan koordinat yang cukup untuk tenggelamkan kapal Aldebaren. Kapal Aldebaren tak berani mendekat.

Het komt allemaal in een maag !!” (Akan kulahap semua!!)

“Kawilarang, janga kau putar terus meriamnya!!” Rustam yang membantu Kawilarang hampir gila ketakutan. Koordinat tembak meriam dipermainkan oleh Kawilarang semudah memutar permainan gasing. Beberapa kali moncong meriam berputar 360 derajat tanpa sasaran.

Doe maar normaal Kawilarang, dan doe je al gek genoeg!!” (santai saja, itu cukup gila!!)

Rustam benar-benar terkencing di celananya. Kombat bacot belum mendewasakan naluri membunuhnya. Wajar, dia hanya seorang penjilat. Sedang Kawilarang, nyawa dan rohnya berasa sudah hinggap di surga.

Akhirnya, Jenderal De Jonge mengirim kapal perang lain, yakni Goudenleeuw. Kapal perang kedua ini juga tidak mendekat, sebab memiliki meriam yang lebih kecil dibanding yang sedang dipermainkan Kawilarang. Goudenleeuw kemudian memutar haluan. Kapal itu hanya menyebar ranjau.

De Zeven Provincien terus berlayar menuju Surabaya. Selanjunya memasuki perairan Selat Sunda. Di sini, tiga kapal perang siap menghadang, yaitu kapal Java yang dikawal dua kapal torpedo, Piet Hien dan Evetsen. Dukungan seragan udara juga disiapkan. Di angkasa meraung-raung pesawat pembom Dornier yang siap memberi menghujani sasaran.

Kapal perang Java yang dikomandani Van Dulm mengirim telegram ultimatum agar seluruh pemberontak menyerahkan diri. Pada saat yang sama Dornier melakukan manuver bersiap menyerang.

Kapten Paradja menolak mentah-mentah menyerah. Akhirnya, bom pertama seberat 50 kilogram dijatuhkan mengoyak lambung dan dek kapal De Zeven Provincien. 

"Nu komt de aap uit de mouw!!" (monyet keluar dari lengan!!)

Kawilarang membabi buta memintahkan peluru ke arah pesawat Dornier yang jauh dari jarak tembak meriamnya. Sia-sia saja, koordinat tepat, namun apa daya kaliber tak mencukupi.

Kapal De Zeven Provincien kesulitan mengimbangi lawan. Akhirnya sebanyak 545 pelaut pribumi dan 81 marinir dan awak Belanda yang selamat, ditahan dan siap diadili. Pulau Onrust di Kepulauan Seribu, menjadi saksi jasad mereka yang terkubur abadi dalam sebuah kehebatan perlawanan apartheid.