Kemarin saya mendapat broadcast “Kelas Poligami” dari grup WhatsApp. Isinya adalah sebuah event edukasi pernikahan poligami syar’ie bagi muslim/muslimah didampingi praktisi berpengalaman untuk memahami aplikasi poligami syar’ie di era kekinian.

Lokasi kelas poligami terletak di Surabaya dengan mentor yang andal dalam poligami. Saya tidak mengenal nama mentornya karena nama itu baru di otak saya. Yang perlu diketahui bahwa ajakan poligami sering kali saya dapat dari grup-grup whatsapp.

Ironi memang ketika pemerintah, yaitu Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak (KPPA) Republik Indonesia beserta Komisi Nasional Perempuan dan Rifka Annisa, Rahima dan lembaga lainnya, menggalakkan program pencegahan kekerasan terhadap perempuan tapi di satu satu sisi masyarakat kita melanggengkan bibit-bibit kekerasan terhadap perempuan.

Dalam kajian feminisme, poligami merupakan salah satu bentuk kekerasan terhadap perempuan. Mengapa demikian? Karena poligami membuat salah satu istri merasa tidak nyaman dan sakit hati. Fatalnya, bolehnya poligami dibungkus dengan janji-janji surga bagi perempuan yang memberikan izin suaminya menikah lagi.

Tahun 2017 saya melakukan penelitian terhadap para istri kiai yang berpoligami di pulau Madura. Sumber data primer dalam penelitian itu adalah kiai sebagai pelaku poligami dan para istri sebagai yang dipoligami.

Untuk menemukan alur cerita yang utuh, penelitian itu menggunakan pendekatan etnografi. Hasil penelitian telah dipresentasikan, dan telah dipublikasikan di salah satu jurnal di Kementerian Agama tahun 2018.

Tulisan ini merupakan deskripsi cerita pengalaman para istri-istri yang suaminya berpoligami. Mendokumentasikan kembali pengalaman perempuan yang dipoligami menjadi penting. Hal itu untuk mendobrak pandangan dalam sesi “Kelas Poligami” bahwa poligami adalah mensyariatkan nafsu laki-laki.

Belajar Pengalaman kepada Perempuan Istri Poligami 

Di Madura, mulai dari Bangkalan, Sampang, Pamekasan, hingga Sumenep, tidak sedikit kiai yang memiliki istri lebih dari satu. Karena tidak sedikit, masyarakat menganggap dalam alam bawah sadar bahwa poligami adalah hal yang lumrah dan biasa untuk para kiai.

Anggapan tersebut tidak terlepas dari strata sosial masyarakat Madura yang mendudukkan kiai berada di ranking teratas dalam strata sosial masyarakat Madura. Sederhananya, sangat mudah bagi perempuan miskin Madura untuk panjat derajat sosial hanya dengan bersedia menjadi istri kiai meski yang kesekian.

Hasil penelitian saya membuktikan bahwa istri pertama kiai adalah dari keluarga kiai, yaitu nyai. Tetapi istri kedua, ketiga, hingga kesekian, "biasanya" santrinya atau tetangga atau referensi dari teman kiai atau kerabat kiai yang usianya jauh lebih muda dari usia kiai, lebih muda dan lebih cantik dari istri pertama.

Satu contoh adalah seorang kiai muda di Sumenep, alumni dari perguruan tinggi di Saudi Arabia, praktisi politik salah satu partai berlabel Islam, menjabat sebagai anggota dewan di Senayan, dan memiliki istri empat.

Alasan kiai menikah lagi adalah karena anjuran Islam tentang poligami dalam QS. An-Nisa’ ayat 3, dan keinginannya untuk memiliki anak laki-laki sebagai penerus kepemimpinan di pondok pesantren. Di usianya yang ke-42 tahun, sang kiai telah memiliki 5 orang putri dan satu orang putra.

Keempat istri kiai semuanya tinggal di Kabupaten Sumenep, setiap masing-masing menempati satu rumah pemberian kiai, lengkap dengan mobil, sopir, dan pengasuh anak-anak. Masing-masing istri tidak ada yang bekerja di ranah publik dan hanya mengandalkan pemberian bulanan dari sang kiai.

Karena rumah masing-masing istri berada di wilayah kecamatan berbeda dan belum pernah ketemu tatap muka dengan masing-masing istri kiai, maka antara istri kiai yang satu dengan yang lainnya tidak ada percekcokan. Menurut penuturan istri pertama, yang ada adalah rasa cemburu.

Rasa cemburu antara masing-masing istri inilah yang membuat cemburu makin bersemi di masing-masing pihak istri. Akan tetapi, karena rasa sungkan dengan kiai, bibit-bibit cemburu itu tidak tampak di permukaan. Artinya, cemburu itu hanya ada dalam hati dalam bentuk rasa dongkol, tapi tak pernah diungkapkan melalui lisan.

Ketika saya bertanya kepada istri pertama kiai, apakah bahagia dengan pernikahan poligami semacam ini? Sang istri pertama yang juga adalah seorang nyai di pondok pesantren menjawab dengan linangan air mata.

Katanya, "Saya rasa semua perempuan tidak mau cintanya dibelah dua. Tapi bagaimana lagi, ini mungkin takdir saya untuk menerima sebagai istri pertama. Kan, kata kiai, kalau sabar, nanti balasannya adalah surga."

Saya kemudian melanjutkan pertanyaan, "Jika nanti anak kandung ibu nyai yang berjenis kelamin perempuan dijadikan istri kesekian oleh seorang laki-laki (lora), apakah ibu nyai berkenan?" Dengan spontan ibu nyai menjawab, "Oh tidak! Cukup saya saja yang punya suami berpoligami, anak saya jangan."

Alasan ibu nyai adalah karena poligami membuat perasaan istri dengan suami renggang. Istri pertama akan merasa ketakutan jika suami lama di rumah istri yang lain. Perasaan takut tersebut akan menghantui hati istri dalam rentang waktu yang lama.

Pertanyaan tersebut saya ajukan juga kepada sang kiai pelaku poligami. Kata kiai, "Nabi Muhammad melarang Sayyidina Ali untuk berpoligami. Saya juga akan melakukan hal yang sama dilakukan oleh Nabi manakala menantu saya berpoligami."

Ketika saya bertanya kepada ibu nyai, apakah ada keinginan untuk keluar dari rasa cemburu itu, misalnya seperti bercerai dan memilih menjadi perempuan mandiri? Ibu nyai menjawab bahwa tidak ada pilihan lain kecuali menerima takdir memiliki suami yang berpoligami.

Pertimbangan ekonomi dan sosial sangat kental dalam pandangan ibu nyai tersebut. Karena bagaimanapun, yang menjadi sumber ekonomi keluarga adalah kiai, dan juga masyarakat secara lebih luas tahu bahwa pak kiai telah berpoligami.

Ketika saya bertanya kepada anak kiai yang berpoligami, "Bagaimana perasaan Anda memiliki bapak yang memiliki istri banyak?" Jawaban putri kiai adalah, "Ya saya malu. Tapi gimana lagi, wong sudah terjadi."

Tetapi berbeda jawabannya ketika saya bertanya, "Bagaimana perasaan Anda memiliki ibu yang dijadikan istri kesekian oleh bapak?" Jawaban putri kiai adalah, "Saya kasihan sama Ummi. Ummi adalah sosok yang kuat, tabah, dan penyabar."

Jawaban dari putri kiai tersebut, menurut saya, mengindikasikan sebuah penyesalan memiliki bapak yang berpoligami dan kekhawatiran akan perasaan ibunya sendiri.

Poligami Menyakiti Perempuan

Melihat jawaban ibu nyai dan kiai pelaku poligami dengan pertanyaan yang sama yang saya ajukan, saya menemukan adanya kata tidak tersirat dalam bahasa kiai bahwa sebenarnya poligami menyakiti hati perempuan. Buktinya adalah kiai melarang menantunya berpoligami dan  melarang menjadikan putri kiai sebagai istri kesekian.

Melihat pada sosok perempuan pada diri ibu nyai, saya melihat bahwa janji-janji surga kepada istri yang mau dipoligami adalah janji palsu dan iming-iming manis agar perempuan mau dibodohi oleh laki-laki. Sejatinya, poligami adalah untuk kepentingan laki-laki dan menyakiti perasaan perempuan.

Dalam kajian Islam, menyakiti hati orang lain adalah termasuk perbuatan yang dilarang. Mengutip pandangan Faqihuddin Abdul Qodir dalam buku “Sunnah Monogami” bahwa poligami menjadikan dehumanisasi manusia. Artinya, poligami tidak saja menjadikan perempuan sebagai korban, melainkan lelaki sebagai pelaku akan kehilangan rasa kemanusiaannya.

Dalam konteks “Kelas Poligami” yang mana biaya pendaftarannya mahal, diampu oleh mentor poligami yang andal dengan mendengarkan testimoni dari pakar praktisi poligami, dan jaminan uang kembali manakala tidak mendapatkan istri yang siap dipoligami.

Saya melihat bahwa poligami menjadi ajang bisnis dengan brand Syari’ie, dan praktisi poligami yang katanya “paham agama” sebagai salesnya. Di sini tidak ada bedanya antara jualan agama dengan jualan obat tikus di pasaran.