Penulis
3 tahun lalu · 599 view · 4 menit baca · Media clicking_monkey.jpg
The Clicking Monkey (Sumber gambar: http://www.bandt.com.au)

Kelas Menengah, Media Sosial, dan Kemerdekaan yang “Ngehek”

KEMERDEKAAN belum jadi milik kita. Kemerdekaan sebagai momen historis telah sejak lama kita raih. Namun, bila kemerdekaan yang kita andaikan adalah sebentuk kedewasaan sekaligus pendewasaan berpikir dan bertindak sebagai sebuah bangsa yang majemuk, saya kira, kita belum sepenuhnya sampai ke sana. Kemerdekaan semacam itu masihlah jauh dari angan-angan.

Hari-hari ini kemerdekaan kita bertiwikrama dengan pesat berkat perkembangan teknologi informasi. Internet dan media sosial yang dilahirkannya telah membuat kemerdekaan kita melampaui batas-batas yang tak pernah kita pikirkan di era sebelum ini, Orde Baru yang represif dan otoriter. Kemerdekaan kita bahkan telah jadi demikian absurd.

Absurd sebab, kini, anasir kemerdekaan ataukah antikemerdekaan tak lagi dapat dibedakan.

Di media sosial, semua orang merasa berhak melakukan apa saja untuk melesakkan kehendak dan nafsu butanya yang ia rasa sebagai kemerdekaan. Pesan-pesan kebencian antigolongan, antiras, antisuku, anti-agama, anti-liyan, anti-Pancasila, hingga antipresiden dan antinegara didengungkan berulang-ulang oleh para clicking monkeys; disebarkan melalui media sosial dengan nyaris tanpa dibaca, dicerna, dan dipikir ulang.

Dan yang paling bikin empet adalah ini: monyet-monyet itu, sembari berloncatan ke sana-ke mari melempari buah-buah busuk pesan-yang-seperti-sampah, dengan tampang lugu seolah tak bersalah cuma bilang, “Just share”, “Aku hanya menyebarkan (judul tulisan ini)”, “Aku ingin kamu membaca ini (sementara aku sendiri belum baca)”, “Risiko tanggung sendiri, ya”, “Ngeri baca ini”, “Ini sangat layak dibaca”, “Benar nggak, ya, ini?”, dan seterusnya.

Situsweb baru bermunculan dengan penulis dan editor-editornya sendiri. Tak semua situsweb mengusung semangat positif. Sayangnya, sebagian besar dari situsweb itu mengusung kampanye politik (baca: pemilihan kepala daerah serentak) terselubung yang prematur dan sebagian (besar) lain ya itu tadi: situsweb-situsweb sampah yang kerjanya hanya memprovokasi netizen dungu dengan kabar-kabar bohong (hoax) penuh kebencian yang bertendensi keagamaan, antigolongan, antiras, antisuku, anti-liyan, anti-Pancasila, hingga antipresiden dan antinegara.

Alhasil, dalam lingkungan dan tradisi literasi yang separah itu, keterampilan yang dibutuhkan wartawan di negeri ini hanya satu: menulis judul berita sebombastis mungkin. Isi berita bolehlah dipikirkan belakangan.

Data dan fakta bisa dipesan atau, kalau kepepet, bisa dikarang-karang dari comotan fakta-fakta yang teramat sumir. Tak usahlah sok-sokan memakai metodologi penulisan berita yang menjelimet itu. Abaikan disipilin verifikasi. Lupakan cover both side. Percuma mematuhi 5W+1H.

Semua orang merasa pantas menjadi wartawan.

Mengamini David T Hill dan Krishna Sen (2005: 10), di internet, setiap konsumen adalah juga produsen. Ini tentu ada plus-minusnya. Plus, karena ruang demokrasi dan keterbukaan kian terbuka luas dengan kemunculan agen-agen ganda itu.

Minusnya, seberapa pantaskah seseorang dapat disebut sebagai wartawan? Bukankah wartawan adalah suatu profesi yang memiliki kode etik dan diciptakan melalui suatu pelatihan khusus? Seorang wartawan tidak pernah muncul secara tiba-tiba.

Hatta, mengurangi interaksi di—bahkan jika perlu menutup akun—media sosial semacam FacebookTwitter, apalagi Path (kepanjangan dari Pamer-tiada-henti) adalah sesuatu yang layak dipikirkan untuk mengisi kemerdekaan.

Terlalu banyak keriuhan di sana: kebencian-kebencian terhadap golongan, suku, dan agama yang disebarkan berkali-kali tanpa malu-malu. Terlalu banyak anasir antinegara dan anti-Pancasila sementara, di sisi lain, sentimen keagamaan yang antikebangsaan dan antikemajemukan semakin lama semakin menguat.

Terlalu kuat egoisme dan arogansi dalam pesan-pesan di media sosial kita, menganggap diri sendiri paling hebat, pintar, dan benar. Terlalu banyak pengkafiran dan tetek bengek lain sindrom mayoritas. Di ruang-maya yang berisik, yang-lain, yang-minoritas, yang-(ter)pinggir(k)an, dan wong cilik mau tak mau mesti menggalang kekuatan untuk mengeksklusifkan diri mereka sendiri bila tak ingin selamanya jadi objek bully-an mayoritas.

Media sosial kita, hari-hari ini, menampilkan dengan begitu gamblang potensi perpecahan kita sebagai bangsa dan negara—di mana Badan Intelijen Negara? Riak-riak kecil yang perlahan tapi pasti bakal jadi ombak apabila terlambat diantisipasi. Media sosial kita berhasil menyingkap dengan begitu banalnya apa yang tak terkatakan dari kehidupan kita sehari-hari. Betapa kehidupan kita sehari-hari ternyata penuh kepalsuan dan kemunafikan belaka.

Saya memiliki banyak sekali teman yang memiliki kecenderungan seperti itu. Dalam kehidupan sehari-hari, ia tampil sebagai seorang pamong praja yang ramah, murah senyum, dan tampak toleran kepada semua orang. Tapi di ruang-maya ia seakan-akan berubah 180 derajat menjadi pribadi yang sungguh asing.

Ia begitu gencar menyebarkan situsweb-situsweb sampah yang mempromosikan sentimen kebencian terhadap agama tertentu dan menghujat (bukan lagi mengkritik) pemerintah. Barangkali, situsweb-situsweb itu telah menyampaikan lubuk hatinya yang paling dalam.

Teman lain menulis status yang acap kali mencemooh negara dan pemerintah dan gemar sekali menebar benih separatisme pada status-statusnya di Facebook. Menurut dia konsep Negara Kesatuan itu konyol, Nusantara itu tak pernah ada, dan Indonesia hanya dikuasai oleh satu suku saja. Padahal, dia sendiri mencari makan dan berak di dalam negara yang terus menerus ia cemooh.

Selebihnya adalah teman-teman yang berperan layaknya aktivis sunyi: mengangguk malu-malu dan diam-diam menyebarkan status atau kicauan tokoh publik yang amat bernafsu untuk mengganti ideologi negara, mengafirkan kelompok lain yang berbeda dengannya, menyerukan cinta agama lebih penting ketimbang cinta Tanah Air, mengecam kesetaraan perempuan dan aktivitas mereka di ruang publik, dan amat sangat yakin perekonomian nasional akan dapat menguat hanya dengan berdoa.

Saya lantas mafhum mengapa Seno Gumira Ajidarma, sastrawan yang lebih suka menyebut dirinya wartawan, tak pernah memiliki akun media sosial, satu saja. Saya rasa jawabannya jelas: media sosial telah jadi pelarian dari kelas menengah ngehek yang penuh kepalsuan dan kemunafikan untuk bermasturbasi kepandiran satu sama lain, sesuatu yang dalam kehidupan sehari-hari tak pernah berani mereka lakukan lantaran kepengecutan jiwa mereka.

Dan kemerdekaan kita pun jadi ikut-ikutan ngehek.

Artikel Terkait