Suasana di malam hari sangat sepi dan tenang, semua pintu rumah tertutup rapat, tersisah sinaran redup dari lampu teras. Tetapi tidak untuk rumah di seberang sana, gadis kecil dan ibunya masih saja berada di depan rumah, hanya untuk menanti sang ayah. Terkadang, mereka harus menginap di teras karena yang ditunggu tak kunjung menampakkan dirinya. 

Malam keberuntungan jika ayahnya pulang tak larut malam, tapi berganti dengan pertengkaran yang membuatnya menjadi tak nyaman. Pertengkaran seolah hiburan bagi Farisa, gadis kecil dengan banyak harapan akan ada cinta bukan nafsu semata.

Bukan hanya itu, pernah amarah ibunya meluap ketika ayahnya datang dengan perempuan baru. Kemudian sebuah pisau di tangan sang ibu, birahi ingin membunuh wanita itu sudah tak tertahan. Wanita bayaran ayahnya pun memilih lari dari pada mati di tangan istri mangsanya, ternyata sang ayah menarik paksa ibunya ke dalam rumah dengan dendam kesumat.

Kini ibunya tersungkur di ruang tamu, tangisan bercampur teriakan itu terdengar semakin keras saat suaminya memberikan tamparan, menggoreskan pisau kepada tubuh ibunya sudah seperti singa memangsa makananya. Untungnya hal itu segera dicegah oleh beberapa tetangga, terlihat sang ibu sudah tak berdaya dengan beberapa darah di tubuhnya. Farisa tercengang melihat semuanya, tubuhnya seakan mematung di depan pintu rumahnya.

...

Setelah semua peristiwa terjadi di masa kecilnya, membuatnya sedikit ragu masih adakah cinta di mata laki-laki. Kemudian keraguan itu mulai tersapu bersih dalam hati, ketika ia mulai mengenal sosok laki-laki bernama Benny. Mereka menjalin hubungan sejak masih duduk di bangku SMP, Sedangkan ibunya yang selalu pulang malam, juga menjadi kesempatan untuk Farisa bisa membawa kekasihnya keluar masuk kontrakan.

Dalam kamar berukuran kecil itu, sepasang kekasih itu melakukan hal yang tak sewajarnya. Sampai akhirnya menjadi kebiasaan, mungkin jika diingat masa remaja yang memalukan, tetapi disitulah ia merasa bahagia. Meski nantinya ia akan terluka.

...

Malam ini Farisa memejamkan mata, ia sedikit merintih mengucapkan beberapa protes kepada Tuhan. “Setelah semua luka kau tancapkan, kau ambil juga ibuku dan ternyata kau belum puas Tuhan” Teriak Farisa.  Dengan posisi tergeletak tak berdaya  di bawah paparan sinar rembulan menahan luka batin  karena ulah preman jalanan. Bahkan ia menganggap jika Tuhan dan malaikat menciptakan perempuan bukan untuk dicintai melainkan hanya untuk urusan nafsu para lelaki.

Ternyata penderitaan malam kemarin bukan untuk terakhir. Pagi hari, saat baru saja ia akan berangkat mencari kerja, sang pemilik kontrakan menagih bayaran yang sudah nunggak beberapa bulan, ia pun mencoba merayu sang pemilik agar memberikan waktu seminggu ke depan untuk membayar semua hutangnya. Begitu memasuki sebuah restoran yang mewah, para mata lelaki menatap tubuh indah Farisa. Awalnya ia hanya ingin melamar kerja, tetapi entah sebelum bertemu dengan sang pemilik restoran, ia berubah pikiran. Di ujung restoran itu lah ia kini duduk, terbesit  wanita simpanan.

...

Kata orang memang sulit membedakan mana itu cinta atau nafsu, tapi bagi Farisa tak pernah ada cinta, semua itu hanya lah nafsu yang bersembunyi di bawah nama cinta. Kehidupannya kini  sudah berubah, tapi semuanya hanya menambah barisan dosa di buku malaikat. 

Setiap bulannya sudah banyak laki-laki yang berkencan dengannya dengan imbalan yang besar juga pastinya, Ia tak pernah menawarkan tubuhnya, hanya saja mereka lah yang selalu menghampiri dan mengemis.

Laki-laki memang bodoh, rela memberikan semua kekayaan hanya untuk memenuhi nafsunya, karena sangat jelas di mata mereka tak ada kata lain selain nafsu, nafsu dan nafsu.

“Apa kau sedang menunggu seseorang?” mangsa baru pikirnya. Mereka berkencan setiap harinya, tetapi ada yang berbeda dari laki-laki itu. Tak seperti yang lainnya yang berkencan untuk kepuasannya saja, laki-laki itu terus saja menjelaskan jika ia memang mencintai bukan ingin menikmati. 

Malam ini ia memutuskan untuk tak menghubunginya lagi. Saat hendak memejamkan mata, terdengar seseorang mengetuk pintu kontrakan. “ Farisa buka! Sungguh aku mencintaimu," teriakan laki-laki diluar kontrakannya. Terpaksa ia membukakan pintu dan membawa laki-laki itu ke dalam kamarnya.

Farisa sudah kehilangan akal ia mencoba membuka satu persatu pakaiannya agar laki-laki itu tertarik padanya, tapi ia masih saja menolak, keadaan semakin membuat Farisa gila karena laki-laki itu terus mengucap kata cinta. Kemudian ia menancapkan gunting pada perut laki-laki itu, disusul dengan teriakannya. Rupanya hal itu tak membuatnya berhenti mengucapkan cinta.

Farisa membuka pintu, kemudian menyeret laki-laki itu ke depan rumah, hanya tinggal menunggu aparat polisi menjemputnya. Para tetangga yang melihat tubuh korban, merasa ketakutan dan segera melaporkan polisi. Tak selang beberapa lama polisi datang, juga tidak ada perlawanan sedikitpun saat polisi memborgolnya. 

Sebelum farisa masuk ke dalam mobil polisi, ia berhenti sejenak. “Fadil aku mencintaimu!”gumannya.