Ada dua film yang jika dipaksakan cukup berkaitan dengan penis, yakni film "Jagten (The Hunt)" dan "Gone Girl". Dua film ini merupakan film-film luar biasa yang berhasil dalam banyak hal, termasuk dalam menggambarkan situasi psikologis sang tokoh yang mendapatkan hukuman sosial dari masyarakat karena diduga keras melakukan tindakan kejahatan fatal.

"The Hunt" (2012), melalui ide cerita yang sederhana dan dikembangkan dengan sederhana namun apik, menceritakan Lucas (Mads Mikkelsen) seorang duda cerai yang berprofesi sebagai guru Taman Kanak-kanak. Ia diduga melakukan pelecehan seksual terhadap muridnya, Klara (Annika Wedderkopp), yang juga putri dari sahabatnya.

Berdasarkan cerita polos Klara di hadapan Ibu Kepala TK, Lucas telah menunjukan penisnya padanya. "Penisnya keras, seperti tongkat," kata Klara pada Kepala TK, Grethe (Susse Wold).

Anak-anak selalu berbicara apa adanya, toh, kalau Klara berbohong, dari mana dia tahu penis itu berbentuk keras? Begitu mungkin cara Grethe menyimpulkan Lucas diduga keras melakukan pelecehan seksual pada Klara. Untuk memantapkannya, ia memanggil konselor anak.

Dari Klara, anak-anak lain 'digali' oleh konselor. Konselor menyimpulkan dugaan bahwa tidak hanya Klara yang diperlakukan tak senonoh. Kasuspun dibawa ke polisi dan menyebar ke para orang tua murid dan masyarakat.

Belum Lucas dibuktikan bersalah di muka pengadilan, Lucas sudah mendapat hukuman sosial. Ia yg tinggal di sebuah pemukiman di sebuah kota kecil di Denmark, tidak diterima lagi oleh masyarakat, kehilangan pekerjaan, dipandang sebagai pria menjijikkan, diperlakukan kasar, dan mendapat perlakuan diskriminatif.

Pun, setelah polisi menyatakan Lucas tidak terbukti melakukan tindakan pedofilia, sikap masyarakat tak berubah. Karena mereka berasumsi anak-anak selalu bicara apa adanya, jujur. Karena film berbahasa Denmark ini bergenre drama bukan genre triler, sedari awal konflik muncul, penonton sudah tahu bahwa Lucas tidak bersalah; untuk kebutuhan supaya penonton menaruh simpati pada Lucas.

Lucas mendapat hukuman sosial dari masyarakat atas tindakan yang tidak pernah ia lakukan. Lingkungannya tempat ia tinggal adalah kota kecil. Hampir setiap orang mengenal Lucas dan anaknya, Marcus (Lesse Vogelstrom), dengan baik. Maka, sangat terasa sekali perasaan hancur dan emosionalnya dalam situasi seperti yang ia hadapi.

Ia tak mampu meluapkan emosinya pada siapapun, termasuk pada Klara. Klara hanyalah anak-anak yang perkataannya tanpa pertimbangan, yang meskipun di satu sisi ia seorang anak yang dianggap selalu bicara apa adanya, jujur, tapi di sisi lain anak-anak suka berimajinasi.

Ya, film ini berhasil membuat saya turut emosional dan tertekan atas kehancuran yang dialami Lucas.

Saya ikut masuk secara emosional, bukan hanya karena faktor keberhasilan Mikkelsen menampilkan peran Lucas yang alamiah: pria paruh baya yang baik, ramah, bersahabat dan penyayang anak-anak; Juga, bagaimana Mikkelsen dengan sempurna melakoni Lucas saat berada di situasi-situasi sangat dramatis.

Ah, saya mewek saat adegan Lucas mengubur anjingnya, adegan di swalayan dan tentu saja drama di Gereja yang saking emosionalnya, saya merinding dibuatnya.

Tak hanya faktor Mikkelsen yang membuat saya turut emosional, juga karena bagaimana Thomas Vinterberg (sutradara dan penulis skrip) membangun cerita. Film ini selama 70% dari seluruh panjang durasi film, berhasil membuat saya sabagai penonton turut masuk merasakan perasaan emosional, sakit hati, tertekan, marah dan tak berdaya berada dalam situasi yang dialami Lucas.

Saya tidak diberi celah untuk menyalahkan siapapun atas situasi Lucas. Saya dibuat memaklumi kenapa Klara anak yang kurang perhatian ini 'berbohong', yang dari kejadian ini dia kemudian sepenuhnya mendapat perhatian dan kasih sayang dari kedua orang tuanya dan saudaranya.

Saya juga dibuat memaklumi sikap sahabatnya sekaligus ayah Klara, Theo (Thomas Bo Larsen) pada Lucas, sikap Grethe, dan dibuat memaklumi kenapa masyarakat 'menghukum' Lucas.

Kondisi sulit untuk menyalahkan siapa-siapa ini, yang membuat saya turut meraskan yang dirasakan Lucas dari adegan satu ke adegan-adegan berikutnya, menuju pada keputusasaan yang tak bertepi dan kepada kehancuran batin yang begitu dalam. Sangat dalam.

Berbeda dengan "The Hunt", film "Gone Girl" (2014), soal penis tak ada kaitannya dengan isi film. Namun, karena penis, film ini tidak mendapatkan izin tayang di bioskop-bioskop Indonesia, saat itu.

Kenapa? Di satu adegan, yang bertujuan bukan untuk pornografi, penisnya Ben Affleck terlihat. Sutradara tak menginginkan adegan ini dipotong oleh Lembaga Sensor Indonesia, karena berisi adegan penting.

Ben di film yang diadaptasi dari novel (2012) karya Gillian Flynn dengan judul sama ini memerankan Nick Dunne seorang suami yang mendapatkan hukuman sosial karena diduga melakukan pembunuhan dan penghilangan terhadap istrinya, Amy Dunne (Rosamund Pike).

Separuh dari film drama triler kelam karya salah satu sutradara favorit saya, David Fincher (sutradara film thriller keren "The Girl with the Dragoon Tatto" 2011, "The Curious Cas of Benjamin Button" 2008, "Fight Club" 1999, dan "Se7en" 1995) penuh tanda tanya, apa yang sebenarnya terjadi pada Amy, seorang penulis terkenal, yang menghilang dari rumahnya?

Saya tak mau berbicara soal bagaimana secara teknik film ini dibuat. Saya kagum habis dengan ide cerita film ini dan bagaimana Flynn membangun cerita Thriller ini.

Penemuan bukti-bukti di rumah keluarga Dunne oleh 2 polisi detektif lokal (diperankan oleh Kim Dickens dan Patrick Fugit), beberapa clue yang dibuat Amy, dan karakter Nick, membuat saya sebagai penonton menyimpulkan 90% bahwa Nick yang bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada istrinya.

Tak hanya itu, kesimpulan Saya terpengaruh oleh voice over Amy yang suaranya terdengar datar namun sarat tekanan, menceritakan kehidupan rumah tangganya melalui buku dairy-nya.

Hilangnya Amy menyedot perhatian masyarakat. Chanel-chanel tv tak henti meliput perkembangan kasus keluarga Dunne dan membentuk opini masyarakat bahwa Nick kemungkinan besar adalah pembunuh Amy. Hukuman masyarakat pun menimpa Nick, saya pun sebagai penonton turut menghakiminya.

Laki-laki macam apa yang pengangguran, suka selingkuh dan, berdasarkan buku dairy Amy, kerap memperlakukan Amy kasar bahkan dengan kekerasan serta kemungkinan besar menghilangkan nyawa istrinya yang manis dan sedang hamil itu? Hal tersebut yang terbentuk dan berkembang dalam opini masyarakat, dan opini saya sebagai penonton dalam menghakimi Nick.

Kejutan film ini muncul di tengah-tengah film. Amy ternyata masih hidup. Amy sendirilah lah yang merancang dengan profesional bukti-bukti pembunuhan atas dirinya agar mengarah ke suaminya (Nick) sebagai pelaku pembunuhan.

Ya, ternyata Amy adalah seorang sosiopat, atau mungkin psikopat, yg secara profesional melakukan pembunuhan karakter suami yang ia benci, dengan cara menyiapkan dengan matang rangkaian ‘seolah’ pembunuhan terjadi di rumahnya, sebelum ia sengaja menghilangkan diri.

Ternyata, Amy yang diperankan dengan apik oleh Ros, jauh sebelumnya pernah melakukan pembunuhan karakter pada mantan-mantannya, dengan matang mengatur seolah mereka melakukan perkosaan dan kekerasan pada Amy.

Simpati saya sebagai penonton berbalik, tidak lagi pada 'Amazing Amy', tapi pada Nick, yang mendapat hukuman sosial dan berupaya melakukan counter opini di media yang menyudutkannya dan berupaya menemukan Amy dengan menyewa lawyer handal.

Film ini dengan baik menggambarkan hukuman sosial bekerja sangat "mematikan" dalam pembunuhan karakter sebagaimana film "The Hunt".

Namun, berbeda dengan Lucas dalam "The Hunt", yang tersangkut kasus dengan anak-anak, yang tetap menimbulkan spekulasi dari masyarakat meski polisi membuktikan dia tidak bersalah, maka Nick hanya perlu menemukan Amy hidup-hidup untuk memulihkan nama baiknya sebagai tersangka pembunuhan dan dari hukuman sosial.

Karena situasi, terpaksa Amy harus kembali ke rumah. Supaya nama baiknya tidak tercemar di masyarakat atas laku sosiopatnya, maka dia menyetting skenario bahwa ia diculik oleh seseorang pria kaya, Desi Collings (Neil Patrick Harris) yang sedari muda terobsesi padanya, kemudian pria itu Amy bunuh seolah Amy membela diri dari perkosaan.

Pulangnya Amy membuat Nick lega. Hilang sudah perasaan tertekan dari penghakiman masyarakat. Kemudian, yang muncul di relung pikiran Nick kemudian rasa ngeri, ia tinggal satu rumah dengan seorang perempuan sosiopat dan psikopat, yang suatu waktu bisa membunuhnya atau membuat skenario lain untuk membunuh karakternya.

Nick dengan memaksa meminta penjelasan pada Amy apa yang sebenarnya terjadi. Amy meminta Nick telanjang, memastikan tidak ada alat penyadap. Pada posisi sama-sama telanjang, dan penis Nick sama sekali tak ereksi; Amy dengan dinginnya menceritakan bagaimana ia perlu membunuh Collings untuk kembali pada Nick demi menyelamatkannya dari hukam mati atas tuduhan pembunuhan terhadap istrinya.

Tentu saja Nick tak mempercayainya.

"When I think of my wife, I always think of her head. I picture cracking her lovely skull, unspooling her brains, trying to get answers. The primal questions of any marriage: What are you thinking? How are you feeling? What have we done to each other?" begitu yang terlintas dalam pikiran Nick, yang voice over kalimat ini menjadi pembuka dan penutup film