Ini zaman edan, tapi bukan seperti yang digambarkan orang tertentu yang menurutnya ‘’Akhir Zaman’’. Di Abad Pertengahan, Abad Majapahit, masa Kolonial Belanda, selalu saja ada yang menyusup di tengah kebobrokan masyarakat, lalu berkata, ‘’Ini akhir zaman. Siapa terlambat bertobat akan menyesal selamanya! Dibakar api neraka yang nyala-nyala!’’

Setelah lewat seratus, lima ratus, dan seribu tahun, mengapa dunia tetap baik-baik saja dan tak berakhir?

Di dalam hidup yang rumit, sering muncul orang-orang bodoh yang menyederhanakan masalah. ‘’Ini sudah berakhir! Kita semua harus insyaf!’’ Hanya dengan kalimat itu, Juru Selamat baru mencoba cari pengikut. 

Mengapa orang tertarik jadi pengikut? Sebab memiliki hamba itu sesuatu yang menyenangkan, juga untung. Anda bisa tengok ke pondok pesantren tertentu. Di sana, seorang Kiai memiliki abdi dalem cukup banyak, yang bekerja untuknya tapi tak dibayar.

Di Senayan, mata pejabat memicek dan mencoba pura-pura tak tahu protes yang meluap-meluap. Juga diperparah dengan sulitnya orang mendapat rasa adil. Lalu para ‘’Orang yang Kering Jiwa’’ di perkotaan berhasil dibujuk-masuk ke sarang fundamentalisme. ‘’Kalau bisa jual agama, dan menguntungkan, kenapa tidak?’’ kata Kelompok Kanan. 

Ya, kita ini generasi malas IPTEK. Kita iri AS, Rusia, Tiongkok telah membangun koloni di luar angkasa, tapi kita tak mencoba menirunya.

Kita seperti kasus di suatu desa di Rengel, Tuban beberapa tahun lalu. Saking lakunya Warung Bakso samping, pedagang lain berkomplot dengan gengnya menyebar isu ke masyarakat tentang Pengusaha Makanan yang memiliki ‘’Tumbal’’. Itu dibuktikan dengan karyawannya yang sakit berbulan-bulan tanpa tahu sakit apa setelah bekerja di situ 3 bulan. Padahal tak pernah dibawa ke dokter, bagaimana mau tahu apa sakitnya.

Gegara hoaks kampungan yang masih laku begitu, separuh pemuda desa ramai-ramai menggeruduk. Beberapa telah siap membakar warung yang properti si tertuduh itu. Untungnya dicegah tokoh RT, sehingga batal dibakar. 

Tapi sejak isu biadab itu, seluruh warga percaya siapa yang makan di situ akan terkena semacam santet. Usahanya jadi sepi, 2 karyawan dirumahkan, dan usahanya bangkrut. Kok masyarakat percaya takhayul? Bukankah mereka muslim yang beriman?

Kita ini, kan, memang bangsa yang tak profesional. Ada mahasiswa, selalu disakiti pacarnya dan jadi korban selingkuhan. Dia tidak konsultasi ke ibunya soal hubungan asmara. Tapi pilih lari ke dukun, eh, malah dicabuli. Padahal ibunya orang yang pernah menikah, setidaknya tahu dan berpengalaman bangun hubungan dengan lelaki. Mengapa lari ke penipu yang kerjaannya bakar-bakar remukan kayu dan sok tahu tentang segala hal?

Ada orang rajin benar ke masjid. Waktunya salat, ia lebih dulu hadir di emperan rumah ibadah. Tiap minggu di khotbah jumat, ia sering menyimak bahwa mempercayai hantu adalah bagian dari syirik. Itu dikutuk Tuhan. 

Giliran tetangganya hilang dan terakhir kali diduga berada di dekat Bengawan Solo, ia mengatakan ke orang-orang, ‘’mungkin dia ditarik oleh makhluk halus ke dasar sungai!’’ Makhluk halus apa? Kenapa kesimpulannya lari ke hantu dan tak rasional.

Mereka bakat jadi ‘’Tukang Campur-campur’’. Religius monoteis, iya. Tapi juga dinamisme. Kalau ponsel Cina mengeluarkan seri terbaru, mereka orang pertama yang beli. Seperti para pengagung kemajuan teknologi zaman. Giliran lewat samping kuburan malam-malam, ia berdoa sepuluh kali berharap tidak ketemu pocong. Walau rumah sakit telah dibangun, klinik membiak di seantero kecamatan, giliran sakit kepala malah minta doa ke kiai, bukan berobat ke dokter.

Sebagai sebuah bangsa, kita tak tegas. Kita tak pernah secara berani memilih identitas. Kita ini sebenarnya masih di tahap perkembangan masyarakat agamis, atau dinamisme?

Di fakultas hukum, tiap mahasiswa diajar bahwa tiap pembunuhan pidana berat. Tapi atas nama NKRI, orang-orang Papua dihabisi tanpa satu pun prajurit diseret ke pengadilan. HAM NKRI mengatakan tiap nyawa berharga, kecuali Papua.

Ustaz kita secara sok suci mengkritik segala hal di masyarakat. Sampai perkara pemuda komplek yang main kartu sampai dini hari, juga dicaci, sebab katanya tak berfaedah. 

Giliran dana sumbangan untuk Palestina atau Rohingya yang mencapai ratusan juta, ustaz itu tak pernah terbuka. Bahkan mengumumkan sisa uang atau terpakai berapa, juga tak dilakukan. Bukankah tiap donatur harus tahu uangnya untuk apa dan apakah benar digunakan sebagaimana harusnya?

Di Tangerang, hanya karena mencoret tembok kota, 4 pemuda dipenjara. ‘’Hanya mencoret.’’ Itu pun pakai pilox yang mereka beli sendiri. Coretan itu, kan, dengan dioles pakai cat putih sekali doang, pasti hilang. Namun nyata pelakunya tetap dipenjara.

Pada 2018, Kantor Polsek Ciracas dibakar ratusan tentara, apa ada satu saja pelaku dipenjara dan dipecat? Di NKRI ini enak. Selama anda Penjaga Keutuhan Negara, bakar apa pun mendapat impunitas.

UEA baru saja mengirim misi ke Mars, ‘’Al-Amal’’. Negara mungil itu? Ya, walau ukuran kecil, otak mereka besar. Ini berkebalikan dengan negara yang bangga dirinya hidup di antara Dua Benua dan Dua Samudra. Jangankan bicara misi luar angkasa, bikin ventilator saja kita baru mulai 4 bulan lalu. Itu pun masih prototype. Itu pun terdesak bukan oleh sebuah ide besar, tapi pemerintah tak lagi punya uang untuk beli dari asing. Iya, ventilator. Alat yang teknologi rendah itu.

Tapi bukannya Prabowo baru saja beli 500 Kendaraan Militer ‘’Maung’’ dari BUMN kita, PT PINDAD. Ya, tapi aslinya itu bukan bikinan Pindad. Itu mobil Toyota yang bajunya diganti.

Lha selama ini apa becusnya Pindad, kok bikin mesin saja tak bisa? Tak tahu. Tanya saja pada pimpinannya. Mungkin pikirannya bukan tentang inovasi, tapi memeras Menkeu untuk terus-menerus menyetujui Penyertaan Modal Negara.

Pada 1970an, Park Chung-hee melakukan ‘’Teknologisasi Korea’’. Dalam 20 tahun setelahnya, bangsa mereka telah berhasil memulai misi ‘’Koreanisasi Teknologi’’. Maksudnya Korea Selatan telah membikin segala produk yang dirancang oleh negeri mereka sendiri.

Mulai tahun 2000an, jangankan Indonesia atau Afrika, AS dan Eropa pun dibanjiri produk serba Korea. LG, Sambung, mobil Hyundai, Kia, film. Bahkan kita saja sudah beli 3 kapal selam dari mereka. Apa becusnya PT PAL?

Indonesia pun harusnya mampu melakukan ‘’Indonesianisasi Teknologi’’. Jadi, selain mayoritas penduduk naik mobil bikinan anak bangsa sendiri, juga kita mampu ekspor ke negara lain.

Tapi itu semua, kan, hanya mimpi. Nyatanya kita tak becus apa-apa. Karena tak becus, orang Tuban bilangnya ‘’ora pecus blas!’’, akhirnya kita gunakan senjata agama. ‘’Ya sudah. Karena kita tak becus bidang manufaktur, kita ganti jadi misi Islamisasi Dunia saja,’’ kata agen Wahabi.

Gara-gara datang Pemabuk Agama, segala hal dibungkus agama. Kosmetik berhasil disyariatisasi. Sampo, pakaian, hotel, naik gunung, juga sudah. Lalu apa lagi? ‘’Ya tentu semua harus disyariahkan,’’ kata orang berpakaian Thawb. Akhirnya lambang rumah sakit haram, ponsel buatan Cina haram karena pemerintahnya menindas Uighur, klepon dikatakan tidak islami. Klepon? Iya, klepon haram. Karena yang halal hanya kurma. Soalnya kami importir kurma dari Arab.

Ya, kita sih berharap pikiran ngawur begitu tak menjangkiti Gibran. Bayangkan betapa ngerinya. Nanti kalau dia jadi Walikota Solo, pasti 2027 dia nyalon Gubernur. Dan di tahun 2029, dia juga nyapres. Bayangkan kalau dia jadi Presiden, semua bakso, mi ayam, nasi goreng haram. Karena yang halal hanya Martabak. Itu pun yang boleh beredar hanya yang merek ‘’Markobar’’. Betapa ngeri, kan. Dan nanti yang jadi Juru Bicara Presiden bukan lagi orang partai, tapi Denny Siregar.