Sains adalah pelita kehidupan.

Di awal masa kuliah, teman saya yang dari fakultas politik bilang ke saya begini, "Itu fisika kerjaannya kok ngukur-ngukur laju lesatan peluru, buat apa? Ndak penting."

Saya hanya diam, karena saya tidak punya argumen kuat untuk mendefens tuduhannya yang keliru itu. Tapi saya bisa menangkap persepsinya tentang fisika, ilmu fisika di matanya tidak penting.

Tapi tidak apa, persepsi orang lahir dari seperangkat pengetahuan dan pengalamannya. Jika dia menganggap sains tidak penting, ya itu cuma menurutnya dia saja. Persepsinya tidak akan memengaruhi substansi sains itu sendiri.

Kalau kita mundur ke belakang di abad 17, di Britania, Ratunya yang bernama Anna telah melahirkan sebanyak 17 kali dalam kurun waktu 18 tahun, namun hanya 5 bayi yang selamat. Dari 5 bayi itu, cuma satu yang sampai dewasa, lainnya tidak melewati masa kanak-kanak. Sebab di masa itu, penyakit yang menyerang bayi sulit disembuhkan.

Seiring berjalannya waktu, penyakit-penyakit yang merenggut banyak bayi pada abad pertengahan secara progresif mampu dihambat dan dilemahkan berkat manusia mendalami dunia mikroba, berkat pengetahuan tentang dunia mikroba antibiotik bisa ditemukan sebagai obat pencegah berkembangnya infeksi bakteri.

Buktinya sampai pada abad 20, 200 sampai 300 juta telah meninggal akibat cacar. Namun setelah ditemukannya vaksin cacar, maka korban meninggal bisa ditekan secara signifikan. Begitu pula penyakit malaria jadi bisa dilawan, harapan hidup penderita leukemia jadi meningkat.

Pun penderita kolera bisa diatasi dengan memberinya tetrasiklin, penderita skizofrenia bisa kita beri klozapin, dan masih banyak penyakit-penyakit ratusan tahun lalu yang begitu berbahaya dan mematikan. Kini hilang harga diri di mata sains. Berkat sains pula, kita bisa mengetahui pencegahan virus corona.

Dalam soal harapan hidup, manusia-manusia sekarang bisa hidup empat kali lipat lebih lama dibanding manusia generasi sebelum mengenal pertanian. Saat manusia masih memakai sistem berburu, manusia hanya mampu hidup kisaran 20 sampai 30 tahun, tapi semenjak tahun 1870 bisa memperpanjang umur sampai 40 tahun, lalu sampai sekarang manusia dapat hidup sampai 80 tahun.

Ini karena pengetahuan tentang bakteri dan virus penyebab penyakit dan perbaikan kesehatan masyarakat serta perkembangan ilmu kedokteran membuat kualitas hidup manusia bisa ditambah. Kualitas hidup manusia sekarang bisa dilihat dari usia manusia sekarang yang lebih lama dari usia manusia yang dulu.

Di sisi lain, mikroorganisme terus bermutasi sehingga melahirkan jenis penyakit baru, dan membuat kita harus terus melawan penyakit baru itu sepanjang peradaban manusia, sehingga kita harus selalu siap akan penyakit baru yang nantinya akan mengganggu aktivitas kita.

Kita bisa buktikan fenomena sekarang yang di mana warga dunia dihebohkan oleh virus Corona atau COVID-19. Namun dengan sains, kita jadi tahu pencegahan dan penanganannya sehingga korban jiwa bisa diminimalisasi. Tiongkok sebagai pusat penyebaran virus makin membaik, semua bisa dicegah dengan metode-metode sains.

Sains juga mampu menghapus sebagian hal-hal yang berbau takhayul. Sains menyingkirkan hal-hal yang takhayul itu dengan penjelasan yang lebih ilmiah dan rasional. Semisal proses terjadinya hujan. Dulu hujan dianggap dikendalikan oleh dewa yang bertugas mengatur hujan. Namun seteleh sains datang, sains bisa menjelaskan proses terjadinya hujan dengan ilmiah dan rasional.

Juga dalam hal teknologi, betapa kita terbantukan oleh temuan-temuan sains. Misal dalam teknologi informasi, kita dengan mudahnya peroleh informasi seolah waktu dan ruang bukan lagi penghalang; tinggal mainkan jari di tablet, maka muncullah beragam informasi yang kita mau.

Bahkan dalam ranah politik, boleh jadi kita sekarang masih di bawah kuasa Hindia Belanda. Bayangkan jika USA tidak membom Jepang waktu perang dunia II, boleh jadi kita belum merdeka, KTP kita bukan Indonesia, sistem pemerintahan kita masih ala-ala kolonial, skenarionya akan beda akibat produk sains bernama bom nuklir itu.

Namun sains sepanjang perkembangannya selalu memiliki penghambat. Penghambatnya ialah cara berpikir pseudosains. Sains selalu menentang argumentasi dan aktivitas yang berangkat dari pemikiran pseudosains. Pseudosains merupakan cara berpikir yang tidak berbasis bukti dan ilmiah.

Pemikiran saintifik dan pseudosains adalah ibarat air dan minyak. Sulit ketemu, sebab pemikiran sains berangkat dari kekeliruan dan keraguan yang kemudian digerus dan dipangkas secara bertahap sehingga menghasilkan kesimpulan yang paling tepat.

Sementara pemikiran pseudosains merupakan pemikiran yang tidak melalui kaidah-kaidah ilmiah atau hanya bermodalkan percaya saja. Pseudosains beranggapan bahwa hipotesis atau kesimpulannya tak perlu diragukan, sekalipun ada bukti nyata yang berseberangan dengan hipotesisnya.

Pseudosains tidak hanya dalam wilayah pemikiran setiap orang saja, tapi pseudosains mampu memegang kendali otoritas pemerintahan, juga media massa dan tokoh-tokoh yang dituakan, maka dari itu pseudosains selalu kuat.

Jika dibandingkan 10 atau 20 tahun lalu, akan sangat kita temukan banyak perubahan, bahkan sangat signifikan, sebagai penanda bahwa sains makin maju begitu pesat. Serta jika membandingkan pengetahuan manusia 1,5 abad lalu, kita telah mengetahui banyak hal.

Suka atau tidak, disadari atau tidak, kita tetap bersinggungan dengan sains. Tapi sains bisa buruk dan baik tergantung bagaimana kita menghandelnya.