Dalam kuliah-kuliah pengantar ilmu Hukum seringkali disampaikan bahwa Hukum berfungsi untuk menjaga kondisi kehidupan yang damai dan tertib di masyarakat. Efektivitas dalam upaya untuk menjalan fungsi hukum menurut pandangan para teoris Hukum, terutama kaum psoitivisme Hukum berpendapat bahwa hal tersebut disebabkan oleh karena bersifat perintah dan bersumber dari otoritas yang berwenang.

Berbeda dengan Habermas salah seorang filsuf mazhab Frankfurt ini berpendapat bahwa kalau hukum harus dipatuhi, hukum itu harus juga diterima secara intersubektif oleh para targetnya, sebab warga Negara merupakan target sekaligus penulis hukum itu sendiri, di mana ada sarana diskursif yang dapat mempertemukan warga Negara dan para wakil rakyat untuk berkomuikasi membentukan sebuah atauran hukum, (Hardiman, 2009:123).

Pertanyaanya selain daripada pernyataan di atas, masihkah ada hal yang menyebabkan orang patuh terhadap hukum, jawabannya tentunya masih ada, yakni pemberlakukan sanksi/Hukuman. Bagi Jhon Austin hukum sebagai perintah  dari yang memiliki otoritas harus dibarengi dengan hukuman atau penderitaan apabila melanggar, (Ian Ward, 2016:182).

Pemberlakuan sanksi / hukuman inilah yang menurut penulis, menarik untuk ditelusuri sebab mengapa sampai sanksi memiliki peran penting dalam memperkuat status ontologis dari Hukum. Dalam pemahaman umum bahwa sanksi / hukuman selalu disusul oleh derita, hal ini yang kemudian menimbulkan ketakutan, tulisan ini hendak untuk menguraikan kekuatan ketakutan serta apakah para pemikir hukum pun memanfaatkan kekuatan ketakutan dalam hukum.

Kekuatan Ketakutan 

Ketakutan dalam kehidupan manusia sangat memiliki peran yang sangat penting. Fahrudin Faiz dalam salah satu kajiannya Menjelaskan bahwa ketakutan itu Rasa tidak Nyaman yang timbul akibat bayangan kamu tentang sesuatu buruk di depan, berbeda dengan harapan, kalau harapan itu kamu membayangkan ada sesuatu yang baik di depan, dalam hal ini peran Ketakutan sebaga Rem atau kendali atas diri dalam beritndak, sebab ada yang mengerikan di depan, menurut nya ketakutan merupakan hal yang wajar serta manusiawi.

Selain itu terdapat pula seorang psikoanalisis berkebangsaan Austria yakni Sigmund Freud, Dia berpendapat bahwa secara naluriah manusia selalu menghindari perasaan yang negatif seperti sedih, marah, kecewa, malu, dan takut. Jadi Cara untuk menghindar dari perasaan negative ini yang kemudian menimbulkan mekanisme pertahanan diri, artinya bahwa dengan adanya ketakutan, manusia menjadi survive dalam segala situasi.

Ketakutan juga merupakan salah satu penggerak diri, dua nya lagi ialah cinta dan amarah,.Hal ini bersumber dari survei psikologi di dunia, yang paling dominan dari ketiga pendorong tersebut ialah Rasa Takut, persentase nya sebagai berikut : 10% manusia digerakan oleh cinta, 30% oleh amarah dan 60% oleh Rasa Takut, Riset ini yang kemudian sering dipakai dalam metedoe marketing, itulh mengapa banyak iklan yang membangkitkan rasa takut, contohnya Iklan Pasta Gigi, kita ditakut-takuti dengan kuman yang menggerorgoti gigi, lalu ibu sang pahlawan keluarga memberikan pasta gigi sbagai solusi untuk mengatasi ketakutan akan kuman tersebut, (Mardigu WP, 2017:12).

Hasil ini menunjukan bahwa ketakutan memiliki kekuatan yang sangat besar dalam mempangaruhi tindakan manusia.

Pemanfaatan Ketakutan Dalam Konsep Hukum,

Dalam konsep Hukum, ketakutan juga sangat dimanfaatkan, Hobbes yang merupakan pencetus Positivisme Hukum sependapat dengan Machiavielli bahwa rasa takut dapat dieksploitasi untuk menjaga stabilitas sosial,

Salah satu gagasan Hobbes yang terkenal ialah Leviathan  hal ini bersumber dari kisah di dalam alkitab tentang pekerjaan menyucikan, menyaksikan kekuatan tuhan perjanjian lama untuk mendatangkan semua monster perkasa salah satunya ialah leviathan yang bertugas untuk menenamkan rasa takut ke dalam diri manusia.

Inti sari dalam Leviathan terletak pada teori kontrak Hobbes, Rantai Artifisial yang dapat mengikat sebuah masyarakat bersama, pada gilirannya, teori ini sendiri berasal dari teori ini berasal dari teori empiris Hobbes tentang pembentukan manusia, karena manusia Hidup dalam ketakutan, maka sangat Rasional jika dia harus mengorbankan kebebasan  tertentu yang dimilikinya untuk menjaga keselamatan nya sendiri. (Ian Ward, 2016:150).

Artinya bahwa salah satu teori terbentuknya Negara yakni “Teori Kontrak Sosial” bersumber dari ketakutan warga Negara akan tindakan bar-bar warga Negara lainnya.

Dalam hal ini, ketakutan sangat dimanfaatkan untuk membuat masyarakat patuh, ketakutan diproduksi dalam hukum melalui sanksi-sanksi yang terdapat dalam berbagai Peraturan Perundang-Undangan seperti sanksi dalam Hukum Pidana Dalam Pasal 10 KUHP disebutkan pidana itu terdiri atas pidana pokok dan pidana tambahan. Pidana pokok terdiri atas pidana mati, kurungan, denda dan tutupan. Sedangkan pidana tambahan terdiri atas pencabutan hak tertentu, perampasan barang tertentu, dan pengumuman putusan hakim.

Pendapat yang turut memperkuat pernyataan di atas bahwa ketakutan di produksi melalui sanksi-sanksi ialah dari Anslem Von Feurbach dengan teorinya “Psycologische Zwang” (Paksaan Psikologi), menurut teori ini, jika seseorang dijatuhi hukuman dengan sepengetahuan orang lain maka orang lain tersebut akan merasa takut untuk melakukan suatu tindak pidana, (Djisman Samosir, 2016:22).

Kesimpulan nya bahwa Sanksi menjadi pelengkap efektivitas Hukum serta menjadi syarat eksistensi Hukum sebab Hal yang terdapat di dalam sanksi sangat memiliki kekuatan untuk membentuk pribadi manusia atau mengatru tindakan manusia. Selain itu Ketakutan juga dalam hukum sangat dimanfaatkan, wujud konkretnya ialah Terdapat nya sanksi serta Teori Kontrak, dan mungkin banyak hal lain juga yang terdapat dalam Hukum yang berkaitan dengan Ketakutan.

REFERENSI :

Ian Ward, (2016). Pengantar Teori Ilmu Hukum Kritis, Bandung : Penerbit Nusa Media

Budi Hardiman, (2009). Demokrasi Deliberatif (Menimbang ‘Negara Hukum’ Dan ‘Ruang Publik’ Dalam Teori Diskursus Jurgen Habermas. Yogyakarta : Penerbit Kanisius

C.Djisman Samosir, (2016). Penologi Dan Pemasyarakatan. Bandug : Penerbit Nuansa Aulia

Mardigu WP, (2017). Tajir Melintir (Siapapun Anda, Anda Behak Kaya). Jakarta : Transmedia

Fahrudin Faiz. (MJS Chanel). (2019, 18 Januari). (File video). Dipulihkan dari https://www.youtube.com/watch?v=SjhmclC-k0Q&t=415s