Pada buku-buku biografi atau di dalam realitas kehidupan sehari-sehari, banyak bertebaran sosok orang-orang hebat dan sukses yang kemudian mereka-mereka ini oleh orang lain dijadikan sebagai sosok idola. Idola sendiri sebagaimana yang telah kita ketahui dalam pengertian umumnya (normatif) adalah sosok yang digemari oleh orang lain.

Sosok yang dijadikan idola biasanya memiliki ciri-ciri antara lain sebagai berikut: dikagumi banyak masyarakat, dapat menjadi panutan atau teladan, ahli dalam sebuah bidang dan memiliki prestasi yang menonjol. Oleh masyarakat, khususnya remaja atau dewasa, kedua sosok terakhir inilah yang banyak dijadikan sebagai idola. 

Di Indonesia, sebagai contoh M. Quraish Shihab dan B. J. Habibie. Banyak orang mengidolakan Quraish Shihab karena keahliannya dalam bidang tafsir dan Alquran, kemudian Habibie karena prestasinya sebagai anak bangsa yang pertama kali membuat pesawat terbang.

Namun di dalam kekaguman terhadap kehebatan dan prestasi seseorang, kita tidak boleh berhenti hanya sampai pada menjadikannya idola. Lebih dari itu, kita juga harus menjadikannya sebagai inspirator yang pada gilirannya nanti akan melahirkan sugesti dalam diri untuk menjadi sepertinya atau mungkin pada perkembangan selanjutnya ingin lebih jauh dari itu, yakni melampaui dan melebihinya.

Sebelum lebih jauh dalam membahas hal ini, penulis ingin mengatakan bahwa yang dimaksud dengan idola di sini adalah sosok yang kita terobsesi untuk menjadi sepertinya, dengan catatan terbatas pada hal-hal yang baik dan positif. Karena mungkin dari pembaca ada yang nantinya komplain, bukankah sebagai orang islam idola kita semua adalah Nabi Muhammad Saw? 

Benar. Kita semua memang dituntut untuk menjadikan beliau sebagai idola. Tapi beliau adalah sosok yang paripurna, kita sebagai manusia biasa pasti sangat sulit untuk menjadi seperti beliau. Oleh karenanya kita perlu idola selanjutnya (second idol), yakni sosok yang menjadi inspirator kita dalam hal karier atau bayangan tentang menjadi apa kita di masa mendatang.

Dalam sebuah tulisan yang merupakan hasil penelitian dari psikolog alumni UI, dijelaskan bahwa faktanya para remaja di dalam mengidolakan seorang tokoh cenderung berdasarkan kelebihan fisik. Mereka tidak terlalu peduli dengan konten yang dibawakan idola. Selama idola terlihat cantik, ganteng, atau keren, para remaja akan mengidolakannya. 

Hal ini sangat sesuai dengan fenomena yang kita saksikan sekarang ini di mana para remaja kita sebagian besarnya sangat mengidolakan artis-artis pada film korea yang notabenenya cantik-cantik dan ganteng-ganteng. Hal ini tentulah sangat tidak tepat. Apalagi idola bagi remaja adalah contoh dan panutan, sehingga hal itu tentunya hanya akan membuat muda-mudi kita memiliki mimpi yang hanya berupa fantasi, yakni menginginkan bisa memiliki wajah yang ganteng dan cantik seperti mereka.

Karena sebagaimana yang kita ketahui, sosok idola itu sangat berpengaruh pada pribadi yang mengidolakannya. Maka dalam hal ini, kita dituntut untuk selektif dan terampil dalam memilih idola, dan tentunya dengan memperhatikan apa yang ada pada diri kita, baik itu minat, bakat dan juga passion. Karena obsesi dan prospek ke depannya ialah bahwa kita ingin menjadi sebagaimana sosok yang kita mengidolakannya.

Seseorang yang dijadikan idola haruslah orang yang berkemampuan lebih dan berprestasi dalam bidang yang ditekuninya. Sehingga kemampuan lebih dan prestasinya yang hebat dapat menjadi inspirasi bagi orang yang mengidolakannya. 

Adapun alasan mengapa sosok yang diidolakan harus sesuai dengan apa yang ada pada diri kita adalah agar kemampuan lebih dan prestasi yang diraih oleh yang diidolakan dapat benar-benar menginspirasi kita sebagai orang mengidolakannya.

Sebagai contoh, seseorang anak yang sedang belajar sepak bola di SSB dan dia mengidolakan Cristiano Ronaldo, maka hal itu tepat karena ada kecocokan atau matcing. Siswa SSB mengidolakan pemain sepak bola sekaliber Ronaldo yang hebat tentu sangat tepat dan akan memberikan inspirasi baginya. Berbeda halnya, jika yang mengidolakan Ronaldo adalah anak yang sedang belajar musik. Tentulah tidak pas dan dijamin tidak memberikan inspirasi apa pun.

Idola bukan hanya sekadar idola. Lebih dari itu dia harus kita jadikan inspirasi terutama dalam hal karier dan menjadi apa kita di masa mendatang. Untuk awalnya memang kita masih meniru-niru. Tetapi setelahnya berusahalah untuk mencari dan menemukan keotentikan diri kita sendiri. Karena harus diakui bahwa manusia tidaklah mungkin bisa tumbuh dengan sendirinya, melainkan ada hal-hal di sekelilingnya, keturunan dan lingkungan yang memengaruhinya.

Dalam sejarah Imam Mazhab yang empat kita bisa melihat, Imam Ahmad terpengaruh oleh Imam Syafii, dan Imam Syafii terpengaruh oleh Imam Malik. 

Meskipun terpengaruh, Imam Ahmad akhirnya tumbuh sendiri, sebagaimana Imam Syafii pun tumbuh sendiri pula. Sampai akhirnya mereka dikenal dengan ketokohan dan kebesarannya masing-masing. Artinya kita harus melepaskan diri dari bayang-bayang orang lain, meskipun hal ini harus dilakukan secara bertahap. Tapi yakinlah, diri kita pasti bisa.

Ada pun jika di antara kita ada yang merasa bahwa sosok yang menjadi idolanya adalah sosok yang terlalu hebat, hingga membuat dirinya merasa tidak mampu untuk menjadi sepertinya, tidak usah bersedih hati. Dengarkanlah syair arab berikut ini, semoga ia bisa menjadi pelipur lara bagimu:

فتشبهوا ان لم تكونوا مثلهم # ان التشبه بالرجال فلاح

“Maka tirulah pribadi orang lain, walau pun engkau tidak bisa menyerupainya. Ketahuilah bahwa meniru orang besar, sudah merupakan sebuah kemenangan.”