Hari itu Minke (Iqbaal Ramadhan) duduk di kereta kuda mewah bersama Robert Suurhof (Jerome Kurnia). Dua pelajar HBS (Hogere Burgerschool), setingkat SMA, itu menuju rumah keluarga Mallema. Di sana, Minke jatuh cinta dengan Annelis (Mawar De Jongh) dan bertemu Nyai Ontosoroh (Sha Ine Febriyanti). Sebuah pertemuan yang akan mengubah hidup Minke selamanya.

Diangkat dari novel legendaris karya Pramoedya Ananta Toer, Bumi Manusia berkisah tentang cinta Minke dan Annelis yang berkelindan dengan feodalisme, modernisme, patriarki, dan kolonialisme Hindia Belanda awal abad ke-20.

Minke, anak seorang bupati, jatuh cinta pada Annelis, perempuan Indo anak seorang gundik dan tuan Belanda Herman Mellema (Peter Sterk). Minke tentu saja harus berhadapan dengan feodalisme dan diskriminasi akibat kolonialisme.

Bupati B (Donny Damara) tentu tak setuju anaknya, Minke, tinggal di rumah gundik dan mengawini anaknya. Minke yang terpesona dengan modernisme menentang feodalisme yang bersemayam dalam kepala ayahnya.

Gundik yang kali ini dikenal Minke bukan gundik biasa. Nyai Ontosoroh adalah seorang korban yang bertransformasi menjadi penyintas kekerasan terhadap perempuan. Dari gadis yang dijual ayahnya, kini Nyai Ontosoroh piawai mengurus perusahaan Herman Mallema. Sementara, Herman dan Robert (Giorgino Abraham), kakak Annelis, hidup berfoya-foya.

Terbukti, feodalisme bukan tembok satu-satunya bagi cinta Minke dan Annelis. Minke juga harus berhadapan dengan hukum kolonial yang berusaha memisahkan cintanya dengan Annelis dan kasih sayang Nyai Ontosoroh-Annelis.

Minke dan Nyai Ontosoroh memutuskan untuk melawan. Akan berhasilkah perlawanan mereka di bawah cengkeraman kolonialisme? Bagi yang belum membaca novelnya, film ini sukses meninggalkan kesan kemanusiaan yang tidak hitam putih.

Secara umum, film ini menampilkan pesan-pesan padat dengan memikat. Kisahnya pun cukup mengalir diikuti. Hanya di bagian akhir terasa agak terburu-buru. 

Setidaknya ada tiga lapis cerita dalam Bumi Manusia yang hendak diceritakan. Pertama, isu perlawanan Nyai Ontosoroh atas peminggirannya sebagai perempuan. Kedua, pertarungan antara feodalisme dan modernisme yang dihadapi Minke. Ketiga, diksriminasi rasial akibat kolonialisme yang diderita hampir semua tokoh. 

Dengan menanggung tiga lapis cerita tersebut, Bumi Manusia cukup kuat menyampaikannya. Durasi waktu tiga jam terasa cukup wajar.

Rentang emosi yang ditampilkan Iqbaal Ramadhan sebagai Minke kurang luas. Pada beberapa bagian, air muka Iqbaal tidak terlalu kuat menampilkan emosi memberontak. Latar belakang Iqbaal yang pemusik dan bukan aktor teater bisa menjelaskan keterbatasan ekspresi emosinya.

Akting Mawar De Jongh juga tidak terlalu meyakinkan. Annelis yang manja kurang tergali lebih dalam oleh Mawar. Kerapuhannya juga tidak cukup kuat dicerminkan melalui air muka. Dengan jam terbang yang bertambah, mungkin saja kualitas akting Mawar akan sempurna pada peran ikonis berikutnya.   

Nyai Ontosoroh adalah contoh sempurna dari pengalaman sosial perempuan pada sistem patriarki. Ia dijual oleh ayahnya pada Herman Mellema sejak kecil. Dia mengalami stigmatisasi karena statusnya sebagai gundik.

Sanikem alias Nyai Ontosoroh muda juga mengalami subordinasi dan kekerasan karena dipaksa berhubungan seksual. Pengalaman Sanikem dijual oleh ayahnya saat kecil bisa menjadi contoh marjinalisasi. Ketika Herman Mellema berfoya-foya, Nyai Ontosoroh juga menanggung beban ganda sebagai ibu rumah tangga dan pemberi nafkah keluarga.

Sha Ine Febriyanti memerankan Nyai Ontosoroh dengan (nyaris) sempurna. Kedalaman emosi, ketegaran, dan kekuatan perempuan penyintas kekerasan terhadap perempuan ditampilkan meyakinkan oleh Ine. Latar belakang pemain teater menjadi faktor utama kekuatan aktingnya.

Eksistensi karakter Ibu Minke dalam film ini juga sangat menarik. Pada dasarnya, konstruksi gender kelas priyayi amat patriarkis. Dalam kelas priyayi, suami sebagai pencari nafkah satu-satunya. Sehingga istri, sebagai ibu rumah tangga, bergantung sepenuhnya pada suami.

Ibu Minke dalam film ini digambarkan sebagai istri bupati, kelas priyayi Jawa. Walaupun begitu, Ibu Minke berani menentang secara halus tindakan-tindakan ayah Minke. Ibu Minke mendukung obsesi Minke menyambut modernisme.

Ibu Minke juga merestui perkawinan Minke. Kesediaan priyayi berbesan dengan gundik adalah sebuah keberanian luar biasa. Pemberian baju yang sama pada Nyai Ontosoroh oleh Ibu Minke juga merupakan hal yang tak terbayangkan di masa itu. Tindakan tersebut adalah simbol penyetaraan derajat.

Anomali tindakan Ibu Minke sebagai priyayi di atas dapat dijelaskan oleh kenyataan bahwa patriarki, secara umum, hanya bersifat mistik dan imajinatif. Pada kenyataannya, istri-istri priyayi dapat bersikap cerdik, ambisius, bahkan licik dalam mengelabui patriarki.

Terlebih lagi jika sang istri berasal dari garis keturunan yang lebih tinggi dari suaminya. Ia bisa lebih berkuasa dalam kehidupan sehari-hari dibanding suaminya.

Dalam Bumi Manusia, tidak dijelaskan dialog antara Ibu Minke dengan suaminya. Bagaimana Ibu Minke bisa keluar dari tembok kadipaten pun tidak dideskripsikan. Namun, kemungkinan kecerdikan Ibu Minke atau derajat garis keturunan yang lebih tinggi dari suaminya bisa memberi kunci teka-teki atas semua tindakan beraninya yang menentang adat.

Ayu Laksmi memerankan Ibu Minke secara sama (nyaris) sempurnanya dengan Ine Febriyanti sebagai Nyai Ontosoroh. Raut wajah ketegasan, kearifan, dan kecerdikan seorang perempuan priyayi ditampilkannya hampir tak bercacat.

Kualitas Ayu Laksmi sebagai pemenang pemeran perempuan pendukung terbaik pada Indonesian Box Movie Award (2018) dan Festival Film Tempo (2017) dalam film Pengabdi Setan terlihat di sini. Bintang terbaik pada Bumi Manusia adalah Sha Ine Febriyanti dan Ayu Laksmi.

Kredit juga perlu diberikan untuk kehadiran karakter Darsam (Whani Darmawan). Karakter khas suku Betawi, Batak, dan Jawa sudah langganan ditampilkan dalam film. Namun karakter khas suku Madura sangat jarang ditampilkan.

Pelawak Kadir yang paling sering menampilkan karakter khas Madura dalam bentuk komedi. Kualitas peran Whani Darmawan terlihat meyakinkan sekali di sini. Pengalamannya sebagai aktor dan sutradara teater cukup menjelaskan kematangan akting Whani Darmawan.

Bryan Domani, Peter Sterk, Giorgino Abraham, Jerome Kurnia, hingga Christian Sugiono bermain cukup aman sebagai aktor pendukung. Untuk cerita sekompleks Bumi Manusia, durasi tiga jam memang tidak mungkin mengeksplorasi kekuatan peran seluruh aktor dan aktris.

Sinematografi film ini pun cukup memikat. Latar belakang kota Surabaya awal abad ke-20 dan kemegahan perkebunan Mellema berhasil ditampilkan. Trem yang membelah kota dan suasana alam perkebunan Mellema cukup meyakinkan.

Secara keseluruhan, Bumi Manusia adalah film yang layak ditonton. Film ini sangat kuat menampilkan isu-isu kekerasan terhadap perempuan, kritik pada feodalisme serta kolonialisme, sampai nasionalisme humanistis.

Kecaman berlebihan atas film ini sangat mungkin berasal dari golongan tua. Mereka yang membaca novel Pramoedya Ananta Toer dengan sembunyi-sembunyi di bawah tekanan rezim Orde Baru sangat mungkin bias. Bias karena imajinasi mereka terhadap novel Bumi Manusia berbeda dengan visualisasi versi sutradara Hanung Bramantyo.

Bumi Manusia versi populer yang disajikan Hanung tidak kehilangan substansi pesan penting pada novel. Masih wajar pula kalaupun ada generasi muda, bukan pembaca karya Pram, yang hanya mengambil pesan ketegaran Minke tetap berprestasi walaupun sedang dalam masalah.

Dengan mengemas Bumi Manusia menjadi lebih populer lalu menyajikannya untuk generasi bukan pembaca karya Pram yang lebih muda, semoga makin banyak generasi remaja yang tergerak membaca novel Bumi Manusia.