3 bulan lalu · 247 view · 5 menit baca · Politik 17230_97837.jpg
Pexels

Kekuasaan Robot dan Kehancuran Masa Depan Politik

Kita memasuki era di mana kita bisa meminta pendapat kepada robot. Kita mulai terbiasa meminta robot mencarikan informasi terkait permasalahan sehari-hari. Bahkan ada pemuda yang akhirnya menikah dengan robot

Pertanyaannya, apakah suatu saat jika kita putus asa akan pemerintahan manusia, kita akan mengangkat abdi negara yang juga (Sesosok? Sebuah? Seonggok?) robot?

Stephen Hawking mengatakan kekhawatirannya sebelum dia meninggal. Dia secara nyata mengatakan bahwa dia takut jika suatu saat nanti semua pekerjaan manusia dikerjakan oleh robot karena memang mereka tidak bisa dihentikan, layaknya virus yang selalu mengembangkan diri dan mereplikasi dengan batas yang belum kita ketahui. 

Mengikuti lema “Semua Pekerjaan Manusia”, saya yakin juga Stephen Hawking takut jika suatu saat robot akan mengerjakan hal-hal politik dan kebijaksanaan. Contoh ekstremnya, robot bisa menjadi wali kota, atau bahkan presiden, jika waktu dan kondisinya sudah memungkinkan.

Pengetahuan akan mekanisme kerja robot yang dimonopoli hanya sebagian kecil orang menjadikan pekerjaan robot seolah adalah bukan robot. Misalnya, bagaimana robot bekerja dalam menghasilkan kemenangan polling di media sosial seperti Twitter yang sangat dipengaruhi oleh akun robot.

Jika sementara ini robot masih digunakan oleh manusia tertentu untuk memengaruhi opini masyarakat, dan ditiup oleh para pewarta media, apa jadinya jika esok robot sudah tidak memerlukan perintah manusia untuk menjadi pengarah opini masyarakat?

Jika melihat tingkat ketidakpercayaan warga negara kepada pemerintahan saat ini, bisa jadi itu terjadi. Ditambah, solusi-solusi yang disampaikan kandidat presiden dan wakil presiden dalam debat akhir-akhir ini, suatu saat bisa dibantah dengan logis oleh segumpal robot. Dan masyarakat yang juga tidak seluruhnya cerdas akan terbius dan memenangkan robot dalam politik elektoral. 


Atau, dengan bahasa lain, kita justru akan dijebak oleh robot yang makin pintar dan berambisi untuk memanipulasi pikiran manusia. Lalu, kita akan diarahkan kepada hal yang menurut para robot adalah hal baik. Kita lebih percaya pada kerobotan daripada kemanusiaan.

Kondisi pemerintahan dan penegakan hukum saat ini tengah diuji tingkat kepercayaannya oleh publik. Semenjak tidak adanya kekuatan mutlak penguasa dan demokrasi makin berkembang, segala sesuatu menjadi hal yang seolah “layak diperdebatkan”.

Status hukum yang awalnya dipegang oleh seorang penguasa, kini harus diberikan kepada hakim, atau kepada juri. Proses hukum berbelit dengan munculnya korupsi di semua lembaga milik negara. Ketidakpercayaan muncul dan orang mulai mencari alternatif soal definisi hukum dan keadilan.

Seorang yang biasa saja, kini berani melawan saat ditilang oleh polisi. Ketahuan juga banyak kasus penegakan hukum yang cacat. Masyarakat bermodal hand phone kemudian mempelajari materi-materi praksis hukum lewat mesin pencarian cerdas dengan kata kunci yang makin mudah dipikirkan.

Hal senada juga terjadi di dunia pendidikan. Sekarang, proses autodidak begitu cepat dan seolah tanpa batas. Seorang guru yang tidak update cara belajar yang baik akan tertinggal oleh anak-anak didiknya yang bisa memecahkan kasus dengan kalkulator modern, juga catatan perpustakaan yang bisa diakses dalam genggaman.

Suatu saat, tidak akan lama lagi, sekolah-sekolah yang tidak bergerak cepat akan kehilangan murid. Sekolah daring sudah menunjukkan keberadaannya. Dan jika mengenal daring, internet lebih penting ketimbang cium tangan guru.

Dunia anak makin mengejutkan. Dengan kata kunci tertentu, mereka bisa membuat anak menikmati hiburan digital melalui platform video. Jika dulu anak-anak menangis karena mainan boneka atau mobil-mobilannya rusak, kini anak-anak sudah mulai menangis karena kehabisan kuota.

Tanpa menegasikan dampak baik adanya robot dan kecerdasan buatan, saya mengajukan suatu pandangan bahwa skeptisisme ala jurnalis investigasi perlu kita jalankan kepada teknologi.

Menurunnya musyawarah untuk mengambil kebijakan sesama orang yang berbeda memunculkan masalah dalam preferensi parsial yang bisa menjadi bahan dasar fanatisme buta. Ketika fanatisme makin buta dan tidak mencapai kesepakatan, maka akan terjadi perpecahan dan ketidakpercayaan.

Dan tahukah kita jika robot mulai bisa membaca percakapan manusia kemudian robot mulai bersikap? Karena robot tidak memiliki perasaan, maka tentu akan objektif ketika memulai sesuatu. 


Akhirnya, sosok robot bisa jadi akan dijadikan sebagai semacam pemegang kunci keadilan. Dan definisi-definisi itu akan makin berkembang sehingga manusia tak lagi punya akses untuk meniadakan robot dalam kehidupan. Mereka cerdas dan tak terbatas.

Kecerdasan buatan merupakan suatu hal yang selaras dengan penemuan komputer dan robot. Dengan internet yang menjadi tonggak Revolusi Industri 4.0, komputer dan robot selalu memiliki dua sisi mata uang. 

Manfaatnya bisa mulai dirasakan, ekses negatifnya bisa diduga. Apa yang dikisahkan dalam film Transcendence bisa jadi menjadi salah satu alternatif dugaan masa depan revolusi industri berbasis kecerdasan buatan.

Premis yang ditawarkan adalah bahwa kecerdasan buatan bisa digunakan oleh seseorang yang memonopoli teknologi itu. Jika semua yang terkoneksi ke dalam internet, maka bisa jadi akan terjadi sistem otoriter mutlak akan kehidupan manusia. 

Kemudian, karena manusia pada dasarnya ingin merdeka dari kekuasaan mutlak, mulai melawan hegemoni tunggal akan penguasa teknologi. Mereka kemudian mencari cara agar internet dan segala kecerdasan buatan yang melaju terlalu jauh itu musnah.

Akhirnya, terjadi perang teknologi yang menghancurkan semua teknologi bernama internet dan semua hal yang tersambung ke dalamnya. Diawalilah kehidupan aneh yang dilakukan dengan tanpa internet dan hal sejenis itu. 

Gawai bekas dijadikan ganjal pintu, dan segala infrastruktur digital menjadi sampah yang tak bisa didaur ulang. Itulah masa depan pahit versi film yang seharusnya kita pelajari. Karena kecerdasan buatan sudah menguasai teknologi dan kehidupan secara nyata, maka teknologi kudu dihancurkan.

Jika begitu keadaan dalam gambaran film, bagaimana gambaran realitas saat ini?

Perdebatan manusia yang makin terlihat fanatis dan tidak masuk akal membuat potensi robot untuk diterima sebagai pihak yang diberi amanat bisa jadi terjadi. Bukankah kini bank kita sudah menganggap bahwa sistem kecerdasan buatan mereka lebih baik daripada pencatatan manual bank itu sendiri?

Pekerjaan mencatat ini bisa jadi digantikan oleh kemampuan yang lebih unggul, misalnya memutuskan seseorang layak untuk diberi kredit atau tidak. Keputusan politis bisa jadi diambil oleh robot di mana manusia sudah tak lagi bisa dipercaya.


Kembali pada ketidakpercayaan masyarakat dengan sosok pemimpin manusia yang makin absurd, robot bisa jadi akan masuk dalam sistem politik. Dan jika terus berkembang nanti, bisa jadi orang akan mencetak kertas suara yang isinya adalah nomor seri robot.

Mereka, para robot seri unggul, akan mengampanyekan diri dan saling berdebat di segala media. Manusia? Manusia akan memilih mereka. Karena manusia sudah tak lagi memercayai sesama manusia.

Robot akan makin berkuasa dan masa depan politik kita bisa jadi tak sesuai dengan narasi kemanusiaan yang selama ini diperjuangkan.

Artikel Terkait