Pandemi covid-19 belum juga hilang. Ada yang senang. Ada yang berharap agar corona tetap ada. Bahkan ada yang sudah terlanjur mencintai corona dengan segenap jiwa dan raga. Karenanya, terpujilah orang-orang yang sudah jatuh cinta dengan corona. Sebab mereka telah menuruti anjuran Presiden Jokowi bahwa kita harus akrap dengan corona.

Untuk itu, janganlah heran jika pengendalian penanganan corona saat ini sering dilimpahkan kepada pemerintah daerah. Ini seperti penghayatan otonomi daerah yang baru. Perlu diacungkan jempol. Kira-kira begitu ya, Bapak Presidenku?

Jangan heran pula jika banyak pejabat negara kini yang sudah tak tahu malu lagi untuk menjadi agen koruptor. Setidaknya ada 3 realitas yang bisa dijadikan contoh. Dan kebetulan lagi trending topic.

Pertama, KPK menangkap Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo bersama kru-krunya sebagai tersangka kasus dugaan penerimaan hadia atau janji terkait perizinan tambak, usaha, atau pengelolaan perikanan atau komoditas perairan sejenis lainnya tahun 2020.

Kedua, Sikap tak terpuji Staf Khusus Presiden, Andi Taufan Garuda Putra, yang begitu percaya diri menerbitkan surat berlambang Garuda untuk meminta dukungan para camat agar membantu perusahaan pribadinya. 

Ketiga, Menteri Sosial Juliari Batubara yang sudah menjadi tersangka kasus Bansos covid-19.

Dari tiga realitas kasus di atas, saya pada akhirnya sungguh telah jatuh cinta dengan bapak bangsa terhebat bernama Juliari. Berikut alasanya. Melalui ajang Gatra Awards, bapak ini pernah dinobatkan menjadi Menteri Sosial yang inspiratif dan inovatif dalam peningkatan kesejahteraan rakyat melalui Program Jaring Pengaman Sosial. Hebat, bukan!

Bapak bangsa yang layak digugu ini juga pernah menjadi DPR RI 2 periode. Pada saat menjabat menjadi DPR beliau bertugas bagian Komisi VI yang menangani Perindustrian, Investasi, Koperasi, UKM dan BUMN, Standardisasi Nasional serta Perdagangan.

 Jadi sangatlah layak dan pantas bapak suka dagang bansos. Juga menjadikan corona sebagai peluang untuk melakukan investasi untuk besarkan perutnya bersama kru-krunya.

Selain itu, Bapak Mensos yang sudah jatuh cinta dengan uang ini, katanya sangat kaya raya. Ketika saya baca pada berbagai media, di sana tertulis jelas bahwa harta kekayaanya mencapai Rp 47, 188 miliar.

Akhirnya, dipenghujung ulasan khusus tentang Mensos yang maha besar ini, saya menganjurkan secara khusus kepada Presiden Jokowi agar segera mungkin untuk memberikan penghargaan tanda jasa kepada bapak Juliari Batubara, sebagaimana yang pernah diberikan kepada dua bapak bangsa termasyhur bernama Fadli Zon dan Fahri Hamzah.

Apakah kisah-kisah destruktif di atas layak dikategorikan sebagai kekuasaan yang genit? Jika jawabanya adalah tak genit, maka pertanyaan lanjutanya adalah mengapa Andi Taufan Garuda Putra yang masuk kategori kaya raya, Edhy Prabowo mantan prajurit, pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Bidang Keuangan dan Pembangunan Nasional dan memiliki kekayaan 7 miliar tak menolak permintaan Jokowi untuk menjadi Staf Khusus dan Menteri?

Mengapa juga Bapak Juliari Batubara yang katanya super duper kaya raya tak berani menolak jabatan Mensos yang ditawarkan Jokowi? Jika jawabanya adalah untuk mengabdikan diri demi kesejahteraan rakyat, lalu mengapa pada saat yang sama justru melabeli diri sebagai tukang korup?

Terhadap semua pertanyaan yang sungguh amat banyak ini, saya dan Anda sekalian tak perlu bingung untuk belajar mencari jawaban. Tak perlu. Karena memang sangat tak perlu. Toh, jawabanya cuman satu yakni dalam kekuasaan selalu ada kegenitan. Kegenitan kekuasaan selalu pandai untuk merayu dan memakan banyak korban.

Jadi tak perlulah kita heran, jika virus covid-19 mampu dikalahkan oleh virus proyek besar buatan para pejabat. Sebab, di balik virus corona ada peluang bagi para pejabat untuk menjadikan virus itu sebagai momen untuk berfoya-foya makan uang negara. Sementara pada saat yang sama masyarakat kecil justru mati kelaparan.

Bahkan, otak masyarakat kecil dijejali oleh banyak peraturan yang katanya dalam rangka melawan penularan virus covid-19, tapi di lain pihak Pemilukada di tengah pandemi jalan terus. Kerumunan, pastinya tak terhindarkan.

Padahal orang buta huruf pun tahu bahwa Pemilukada bisa ditunda, sebab masih ada kesempatan, sedangkan nyawa manusia tak bisa di beli dan tak ada kesempatan untuk membangkit manusia yang sudah mati bung.

Memang Indonesia bisa jadi negeri yang lucu karena sering membuat kelucuan yang mematikan rakyat kecil tapi mengenyangkan perut dan rekening kaum elit. 

Akhirnya, saya pun mengambil kesimpulan bahwa pemaksaan terhadap pelaksanaan Pemilukada masa pandemi bisa jadi merupakan sebuah strategi kaum elit untuk melahap uang rakyat.

Saya pun senang karena kesimpulan saya ini justru sejalan dengan pernyataan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Firli Bahuri bahwa Pilkada serentak 2020 dinilai sebagai kedaruratan politik yang berpotensi menimbulkan korupsi.

Apalagi pelaksanaan Pemilukada di tengah pendemi sebenarnya semakin berpeluang untuk terjadinya korupsi. Tidak percaya, silakan cari di media, biar jadi tokoh literat. Semoga saja uang hasil korup dari Mensos itu, tidak dibagikan kepada para sehabatnya dalam satu partai yang saat ini lagi bertarung dalam Pemilukada. Semoga tidak.

Tapi kalau nantinya, KPK menemukan itu, maka bapak Juliari perlu berbangga bahwa dia memiliki pengikut untuk tinggal sekamar dalam tahanan. Jika nantinya, bapak Mensos beserta pejabat lainya sudah menjadi penghuni tahanan dan mendapatkan fasilitas yang serba mewah, maka pernyataan Presiden yang mengatakan tidak akan melindungi siapa pun yang terlibat tindak korupsi selama pandemi covid-19 hanyalah gertak sambal yang hampa.

Selain itu, jika hukuman mati yang selalu didengungkan oleh KPK tidak terjadi, maka hukuman mati bisa segera diganti dengan hukum yang telah mati. Dan akhirnya harapan agar adanya pertobatan ala pejabat secara total akan semakin jauh panggang dari api.

Alasanya, karena para pejabat sudah nyaman dengan pertobatan asal bapak senang, tapi bukan karena kesadaran bahwa memang saya harus bertobat. Apalagi dihadapan kekuasaan yang genit, pertobatan hanyalah butiran debu yang tak bisa bangkit lagi.

Itulah sebabnya, yang genit selalu membawa kenikmatan yang tak ada taranya. Benarkan, hai para pengejar kekuasaan? Harapanku. Semoga pemimpin yang dipilih pada masa pandemi covid-19 ini, tidaklah melahirkan pemimpin yang gila pada kegenitan kekuasaan yang pandai merayu sesama untuk masuk ke dalam lingkaran korup.