Setelah kemenangan Donald Trump mengalahkan Hillary Clinton pada pemilihan presiden Amerika Serikat 2016, publik Amerika Serikat juga dunia menjadi sangat reaktif. Untuk pertama kali dalam sejarah modern demokrasi Amerika Serikat, terjadi protes massa di berbagai tempat di Amerika Serikat. Mereka menolak atas terpilihnya Trump menjadi Presiden setidaknya untuk empat tahun mendatang.

Orang yang selama masa kampanye kerap berbicara secara blak-blakan dan dianggap cenderung menyinggung kaum imigran hispanik dan muslim, melecehkan perempuan, dan juga kaum LGBTQ ini, tanpa disangka malah dipilih oleh banyak orang Amerika Serikat untuk menjadi presiden mereka selanjutnya.

Kemarahan, kekecewaan, ketakutan, ketidakpastian, setelah diumumkannya Trump sebagai Presiden terpilih, menyelimuti tidak hanya bagi pendukung Hillary namun banyak negara di seluruh dunia.

Selain aksi protes, media masa di berbagai belahan dunia juga menuliskan headline yang menunjukkan ketidakpercayaan mereka atas menangnya Trump. Salah satunya yang dituliskan oleh The New Yorker magazine bahwa kemenangan Trump digambarkan sebagai tragedi bagi Amerika Serikat dan konstitusi, kemenangan terhadap otoritarian, misoginis, dan rasisme.

Bahkan Jonathan Friedland, kolumnis di The Guardian, mengatakan bahwa Amerika Serikat telah memilih Pemimpin yang paling berbahaya.

Tidak ketinggalan pula para kartunis memperlihatkan kekhawatiran Amerika Serikat juga dunia atas terpilihnya Trump, seperti gambar ini:

Mengapa publik Amerika Serikat bahkan media popular di dunia seakan-akan menjadi ketakutan atas terpilihnya Trump Sebagai Commander-in-chief AS?

Tahun 2016 ini banyak gejolak politik international. Di antaranya yang terbesar adalah keputusan Britania (Inggris Raya) untuk keluar dari Uni Eropa atau popular disebut Brexit. Britania ingin mengatur negara mereka sendiri tanpa harus lagi berada di bawah kesepakatan Uni Eropa. Disinyalir bahwa hal yang paling berpengaruh atas keputusan Brexit tersebut adalah masalah pengungsi dari Timur Tengah.

Seperti diketahui bahwa Kanselir Jerman Angela Merkel membuat kebijakan untuk membuka pintu perbatasan bagi pengungsi Timur Tengah dan menampung mereka di seluruh daratan Eropa. Ini menjadi masalah besar bagi mayoritas masyarakat Eropa.

Melihat nasib warga negara Jerman yang semakin tidak aman dengan banjir pengungsi dan tingkat kriminal pun menjadi tinggi seperti yang terjadi di daerah Koln (Cologne), bagai memberikan momok terhadap Inggris Raya.

Merkel menginginkan agar Inggris Raya turut andil dalam menampung pengungsi demi mengatasi krisis pengungsi yang terjadi di Jerman dan atas nama kemanusiaan. Namun yang terjadi, Inggris Raya menyatakan Referendum.

Pada tanggal 23 Juni 2016, setelah dilakukan pemungutan suara yang mayoritas dimenangkan oleh kelompok yang menginginkan Britania untuk keluar (leave), tindakan rasis mulai terjadi di Inggris. Kelompok anti imigran menempelkan sticker berisikan "Leave the EU - no more Polish vermin" (penolakan terhadap imigran Polandia).

Bukan hanya itu saja, bahkan tak segan-segan kelompok tersebut meneriakkan “Go Home!” kepada mereka yang bukan ras kulit putih atau dianggap bukan penduduk asli Inggris Raya.

Kejadian post-Brexit tersebut menyebabkan kelompok-kelompok sayap kanan di Eropa seperti bangkit dari tidurnya. Contohnya, Pemimpin partai nasionalis Belanda, Geert Wilders, menyatakan dukungannya terhadap Brexit dan selanjutnya adalah Nexit-Netherland Exit yang telah diagendakan partai yang dipimpinnya untuk menghadapi pemilu Belanda yang akan datang.

November 2016 ini dengan kemenangan Trump seperti semakin membukakan pintu untuk praktik rasisme. Beberapa waktu setelah Trump menjadi Presiden terpilih, Aljazeera menurunkan headline: Trump victory: What now for the far-right movement? Menyikapi gerakan nasionalis kulit putih di daerah-daerah konservatif di Amerika Serikat, yang keras menentang hak untuk kaum kulit hitam Amerika Serikat.

Pada saat penghitungan suara dan Hillary dianggap sudah tidak ada harapan untuk menang, seorang analis CNN, Van Jones, menggambarkan pemilu kali ini sebagai whitelash (reaksi rasisme kulit putih terhadap hak kulit hitam) berdasarkan keadaan masyarakat Amerika Serikat yang karena pemilu ini menjadi terbelah dua, kelompok kanan (cenderung anti imigran, LGBTQ, xenophobia) dan kelompok liberal/moderat (yang lebih terbuka terhadap imigran dan LGBTQ).

Ketakutan rakyat Amerika Serikat yang menolak Trump sebagai presiden, mewakili ketakutan sebagian besar dunia. Setelah Brexit, sekarang Trump terpilih yang mayoritas didukung kaum kulit putih dan juga kelompok nasionalis. Apakah dua kejadian politik tersebut akan semakin membuka jalan kepada kelompok sayap kanan dan memunculkan kembali isu white-supremacy?

Ucapan selamat dari seorang politisi sayap kanan Australia, Pauline Hanson, pada saat terpilihnya Trump seakan semakin meyakinkan bahwa kelompok sayap kanan sudah mulai menunjukkan gerakannya. Ia mengharapkan dapat bekerja sama dengan AS di bawah kepemimpinan Trump.

Kemudian humor satire yang muncul: Next is Le Pen? (Marine Le Pen seorang politisi sayap kanan Perancis, yang juga anti terhadap imigran).

Meski masih terlalu dini untuk menilai bagaimana politik yang akan dimainkan Trump sebagai Presiden negara super power, namun spekulasi yang muncul  mengkhawatirkan akan masalah rasial dan xenophobia yang mungkin nanti semakin meluas di seluruh dunia karena mendapat dukungan dari Trump. Dan hal ini sangat wajar.

Yang kurang wajar itu justru anggota legislatif Indonesia meng-endorsed Trump, sementara yang bersangkutan mendukung gerakan 411 demi melawan penistaan terhadap simbol agama Islam. Bertolak belakang, karena Trump dianggap sebagai seorang yang Islamophobia.

Juga yang membuat saya takjub, ternyata lumayan banyak masyarakat Indonesia yang mendukung Trump padahal mereka sangat menentang radikalisme dan anti rasisme di tanah air. Mungkin benar Trump akan memerangi kelompok radikal muslim seperti IS, namun dia bersikap rasis terhadap kelompok imigran dan kulit berwarna juga LGBTQ.

Selain itu saya juga menemui orang-orang Indonesia yang sangat mendukung ide Trump untuk menutup AS dari imigran muslim karena alasan agama. Namun sangat disayangkan, mereka juga salah mengartikan: jika Trump membuka jalan kepada kelompok kanan, maka ini demi kebaikan umat Kristiani. Tidak sepenuhnya benar. Karena bagi kelompok kanan, mereka akan benar-benar melakukan pemurnian ras kulit putih. Ini bukan soal agama saja, tapi soal ras.

Inilah yang menjadi concern dunia terhadap terpilihnya Trump sebagai Presiden Amerika Serikat. Semoga kekhawatiran-kekhawatiran tersebut hanya merupakan trend  pascapemilu AS semata. Mari Berdoa yang terbaik untuk kelangsungan hidup seluruh umat manusia di dunia.