Psikolog Feminis
3 minggu lalu · 82 view · 5 min baca menit baca · Keluarga 21851_60390.jpg

Kekerasan terhadap Istri dan Anak

Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), khususnya yang dialami oleh istri dan anak, berbeda dari kekerasan lain. Itu berlaku setidaknya dalam empat hal. 

Pertama, pelaku merupakan orang yang dipercayai dan dikenal baik oleh korban. Bahkan dalam kasus kekerasan terhadap anak, pelakunya adalah pihak yang seharusnya melindungi, merawat, dan mengupayakan kepentingan terbaik anak. 

Kedua, korban biasanya juga terpapar pada kekerasan dalam durasi yang cenderung terjadi dalam waktu lama. Hal ini disebabkan sifat hubungan yang mengikat antara pelaku dengan korban sehingga tidak dapat dengan mudah dipisahkan seperti orang tua-anak atau suami-istri. 

Ketiga, KDRT terjadi dalam frekuensi yang relatif tinggi. Sifatnya berulang dan rutin.

Keempat, pelaku mempunyai kekuasaan terhadap korban sehingga korban tidak berdaya melawan dan sulit melepaskan diri.

Dampak kekerasan terhadap istri dan anak

Empat kekhasan di atas memunculkan tiga dampak yang secara umum dialami oleh korban. Pertama, korban akan merasa dikhianati oleh orang yang dicintai dan hormati. Akibatnya, ia akan sulit mengembangkan kepercayaan kepada orang lain. 

Sebagian menarik diri dari lingkungannya dan enggan menjalin relasi dengan orang lain. Sebagian lagi tetap berelasi dengan orang lain. Namun, ketika relasi itu menuntut ikatan, mereka tidak sanggup memenuhinya. 


Kedua, ketidakberdayaan. Terus-menerus terpapar pada kekerasan tanpa mereka mampu menghentikannya akan membuat korban merasa kehilangan kontrol atas hidup mereka sendiri. 

Korban bahkan hampir tidak dapat mengambil keputusan untuk hal-hal kecil karena dikuasai oleh rasa takut. Mereka takut tindakannya tidak tepat bahkan khawatir jika mengucapkan kata-kata yang salah yang dapat menimbulkan kemarahan pelaku. 

Ketiga, stigmatisasi, yang mengacu kepada proses menginternalisasikan konotasi-konotasi negatif seperti buruk, perasaan bersalah, dan rasa malu, ke dalam citra diri korban. Akibatnya, korban akan merasa bahwa dirinya pantas menerima perlakuan kasar. 

Mereka akan menganggap dirinya buruk sebagaimana yang disampaikan pelaku melalui tindak kekerasan mereka, baik secara fisik maupun verbal. Ia akan merasa dirinya rendah dan tidak berharga. 

Kekerasan terhadap istri dan anak juga memiliki kekhasannya masing-masing. Dalam tulisan ini, kekerasan terhadap anak akan saya khususkan pada kekerasan seksual.  

Kekerasan terhadap istri: antara cinta, harapan, norma, dan teror

Banyak orang sulit mengerti mengapa korban KDRT masih mau tinggal dengan pasangannya. Tidak sedikit di antara mereka yang melabeli korban "bodoh" dan bahkan "masokis". Padahal korban juga tidak menginginkan kekerasan itu. 

Korban umumnya tidak bersifat pasif seperti pemikiran orang-orang dengan hanya menerima kekerasan. Sebagian besar korban melakukan perlawanan ataupun usaha menyelamatkan diri dari kekerasan yang sedang terjadi.

Meski korban tidak melakukan upaya nyata sekalipun, ia melakukan apa yang dinamakan Margareta Hydén (1995) sebagai pelepasan diri secara kognitif: mencoba untuk pergi sesaat dengan berandai-andai dalam pikirannya jika ia tidak berada di sana dan tidak harus menerima perlakuan itu. 

Namun meninggalkan pelaku tidak semudah yang dibayangkan orang yang tidak pernah berada dalam situasi kekerasan. Ada banyak faktor yang mengikat korban. 

Hampir semua korban menikah atas dasar cinta dan harapan bahwa perkawinan mereka akan langgeng. Sebagian pelaku pandai mempertahankan cinta dan harapan ini dengan meminta maaf dan menunjukkan penyesalan setelah melakukan kekerasan. 

Selain itu, hubungan antara korban dan pelaku bukanlah hubungan yang dapat dengan mudah dipisahkan. Ada norma-norma yang mengikat perempuan. Ajaran agama, stereotip negatif mengenai janda, serta masa depan anak-anak adalah sebagian dari aspek-aspek struktural yang membuat korban memilih tetap bersama pelaku.


Rasa takut terhadap pelaku juga mendorong korban untuk bertahan. Kekerasan yang dilakukan pelaku umumnya menimbulkan atmosfer penuh teror dan intimidasi. Korban meyakini bahwa pelaku dapat melakukan apa pun yang dapat membahayakan keselamatannya. 

Apalagi pada korban yang pernah mencoba melepaskan diri, namun upayanya diketahui pelaku sehingga pelaku meningkatkan intensitas dan frekuensi kekerasannya. Rasa takut membuat korban memilih untuk bertahan dalam perkawinannya.

Seksualisasi traumatis

Kekerasan seksual terhadap anak merupakan cara terkejam yang dilakukan pelaku untuk menunjukkan kekuasaannya. Karena anak tidak berdaya untuk melakukan perlawanan, tidak hanya secara fisik namun juga psikis. 

Anak, dalam keterbatasannya, tidak dapat memahami sepenuhnya apa yang terjadi pada diri mereka ketika pelaku menyentuh tubuhnya. Sementara itu, perasaan mereka sendiri bercampur aduk. 

Di satu sisi, mereka merasa tidak nyaman dan merasa bahwa tidak sepatutnya pelaku bertindak demikian. Virginia Woolf mengatakan bahwa perasaan mengenai anggota tubuh tertentu yang tidak boleh disentuh adalah perasaan yang instingtif sifatnya. 

Mereka ingin pelaku menghentikan perbuatannya, namun tidak dapat berkata-kata dalam kebingungan mereka untuk mencerna apa yang tengah terjadi. 

Di sisi lain, dalam kekerasan seksual yang dilakukan secara eksploitatif-manipulatif tetapi tidak bernuansa brutal, korban (anak) merasakan kenikmatan pada wilayah tubuh tertentu yang disentuh. Freud telah mengingatkan kita bahwa manusia memiliki zona erotis yang sudah berkembang sejak bayi sekalipun. 

Dalam kasus kekerasan seksual, ambivalensi berbagai perasaan ini akan menambah kebingungan pada diri anak sebagai korban.

Kejadian yang sama akan terus berulang tanpa anak berani menceritakannya, bahkan kepada orang-orang terdekat. Anak akan dengan mudah dipaksa untuk diam, melalui perpaduan antara rasa bersalah, malu, dan ancaman pelaku dari cara yang halus sampai kasar. 

Demikian bertahun-tahun kekerasan seksual menjadi rahasia antara korban dan pelaku. Anak akan menjadi begitu tertekan karena menyimpan teror dan kebingungan-kebingungan ini sendirian. Lebih lanjut, kebingungan-kebingungan ini akan memengaruhi pemaknaan mereka akan tubuhnya sendiri dan bahkan mengenai seksualitas secara keseluruhan. 


Secara khusus, David Finkelhor dan Angela Browne menyebut dampak ini sebagai seksualisasi traumatis (traumatic sexualization). Mereka mendefinisikannya sebagai proses pembentukan seksualitas anak, termasuk sikap dan perasaan seksualnya, dalam cara-cara yang tidak tepat dan bahkan disfungsional sebagai akibat dari kekerasan seksual yang dialaminya.

Anak kemudian menghayati stres traumatik yang intens sehingga bereaksi dengan cara yang tidak tepat, entah dengan menghindari seks, atau sebaliknya mengembangkan sikap berlebihan terhadap seks dengan kehidupan seksual yang sangat kacau. 

Pada anak yang menghindari seks, umumnya mereka menutup diri dan sulit menjalin relasi intim. Seandainya mereka menikah, tidak mudah bagi mereka untuk menikmati hubungan seksual, bahkan sebagian besar mengalami disfungsi seksual. 

Sedangkan mereka yang mengembangkan sikap berlebihan terhadap seks, akan tampil menggoda secara seksual. Mereka juga terlibat dalam kehidupan seks bebas karena terus berupaya mencari pemenuhan kebutuhan akan seks. 

Khususnya pada korban anak perempuan, mereka cenderung meyakini bahwa semua laki-laki terobsesi pada seks, dan karena itu tidak akan menolak bila mereka menawarkan diri untuk berhubungan seks. Tidak sedikit korban kekerasan seksual pada masa kanak-kanak yang dengan sengaja memilih untuk menjadi pekerja seks komersial saat ia dewasa. 

Baik menghindari seks maupun sebaliknya, berlebihan akan seks, tidak ada yang lebih baik atau buruk di antara kedua dampak ini. Keduanya menggambarkan kegagalan untuk mengembangkan hubungan seksual yang normal sekaligus menunjukkan betapa merusaknya dampak kekerasan seksual pada masa kanak-kanak.

Artikel Terkait