Banyak sekali kejahatan yang sering terjadi akhir-akhir ini, seperti contohnya pelecehan seksual. Sebagian besar kasus pelecehan seksual ini melibatkan laki-laki sebagai pelaku dan perempuan sebagai korban.

Sekitar 18% dari 62.224 perempuan yang menjadi korban mengenakan celana panjang dan rok panjang. Tindakan ini menuai pro dan kontra dari masyarakat mengenai penyebab terjadinya pelecehan seksual.

Pelecehan seksual adalah perilaku pendekatan-pendekatan yang terkait dengan seks yang diinginkan, termasuk permintaan untuk melakukan seks, dan perilaku lainnya yang secara verbal maupun fisik yang merujuk pada seks.

Tindakan ini dapat berupa siulan, main mata, ucapan bernuansa seksual, colekan atau sentuhan pada bagian tubuh, gerakan atau isyarat yang bersifat seksual, dsb. Tindakan ini menyebabkan rasa tidak nyaman, tersinggung, merasa direndahkan martabatnya, dan bahkan mengakibatkan masalah kesehatan dan keselamatan jiwa.

Apakah pakaian perempuan penyebabnya?

Sebagian masyarakat berpandangan bahwa penyebab terjadinya pelecehan seksual karena adanya niat dari pelaku atau laki-laki itu sendiri. Namun, tidak sedikit pula yang menyalahkan pihak perempuan atau korban sebagai penyebab terjadinya pelecehan seksual.

Pelecehan seksual terjadi tentu saja bukan tanpa sebab. Ada beberapa hal yang menyebabkan tindakan tersebut terjadi. Beberapa masyarakat berpendapat bahwa pelecehan seksual terjadi karena ada niat dari sang pelaku, kurangnya edukasi dari pelaku yang menganggap bahwa seks bukanlah hal yang sensitif, dan adanya aksi dari perempuan yang mengenakan baju seksi sehingga muncul reaksi dari sang pelaku.

Hal yang menarik untuk diperbincangkan adalah mengenai tuduhan masyarakat yang sering kali menyalahkan perempuan sebagai penyebab terjadinya pelecehan seksual. Mulai dari tampilan atau busana yang dikenakan, tuduhan perempuan yang keluar pada malam hari sehingga timbulnya kejahatan, dan lain sebagainya.

Tuduhan masyarakat ini sebenarnya tidak memiliki dasar yang kuat. Dilansir dari Vice.com, survei yang dilakukan oleh koalisi masyarakat sipil yang terdiri dari beberapa komunitas maupun kelompok, sebanyak 62.224 orang merespon dan memaparkan beberapa data yang menarik.

Hasil survei tersebut menjelaskan bahwa sebanyak 18% korban pelecehan seksual mengenakan celana dan rok panjang, 17% mengenakan hijab, 16% mengenakan baju lengan panjang, dan sebanyak 14% masing-masing mengenakan seragam sekolah dan baju longgar.

Dari hasil survei tersebut saja dapat dilihat bahwa pakaian yang dikenakan wanita pada saat pelecehan seksual, seperti yang dituduhkan masyarakat, tidak dapat diterima. Bukan yang mengenakan pakaian seksi, melainkan perempuan yang mengenakan pakaian yang terbilang sopan yang justru menjadi korban pelecehan seksual.

Bukan hanya data survei di atas, pada Januari lalu seorang wanita berusia 38 tahun menjadi korban pelecehan seksual oleh seorang pemotor di bilangan Kaliabang, Bekasi Utara. Ketika kejadian, wanita tersebut mengenakan jilbab panjang berwarna hitam dan menenteng belanjaan sepulang dari pasar. Ini salah satu contoh nyata bahwa pakaian bukanlah menjadi penyebab kekerasan seksual yang dialami oleh perempuan.

Perempuan berhak mengenakan apa yang mereka inginkan. Cara berpakaian seseorang tidak dapat diatur. Penampilan luar seseorang tidak dapat dijadikan dasar atau alasan atas perbuatan yang menjijikan tersebut (pelecehan seksual).

Masyarakat harus paham bahwa ketika seorang laki-laki melihat maupun “mengagumi” seorang perempuan, itu adalah hal yang wajar. Namun, ketika laki-laki mengimplementasikan kekagumannya tersebut melalui perbuatan yang dapat meresahkan sang perempuan, maka tidak dapat dibenarkan tindakan laki-laki tersebut.

Solusi dan peran pihak terkait

Kita tidak bisa melihat penyebab kasus seperti ini dari apa yang dikenakan sang korban, melainkan kita perlu mengetahui maksud dan tujuan dari sang pelaku. Entah itu hanya nafsu semata, ataupun dendam pribadi yang dilampiaskan dengan cara seksual.

Pentingnya pendidikan mengenai seks sejak dini merupakan salah satu cara untuk memberikan edukasi kepada masyarakat serta mencegah pelecehan seksual ini terjadi. Namun, sangat disayangkan di negeri ini, masyarakat masih menganggap seks sebagai hal yang tabu atau aib.

Masyarakat harus sadar dan membuka mata, bahwa pendidikan seks itu penting sejak dini, karena anak-anak akan mengerti arti dari seks. Pendidikan seks ini nantinya akan berguna bagi kehidupan anak-anak kita nantinya, sehingga mereka dapat melindungi ataupun mengontrol diri mereka sendiri.

Apabila masyarakat sudah paham akan seks itu sendiri, niscaya meskipun masih terjadi pelecehan seksual setidaknya masyarakat tidak menyudutkan pihak perempuan ataupun laki-laki (korban) yang seharusnya yang dilindungi.

Jika pendidikan seks terus dianggap sebagai hal yang tabu, maka tingkat pelecehan seksual yang terjadi di negara ini tidak akan mengalami penurunan. Ini salah satu cara untuk mengubah pola pikir masyarakat mengenai seks itu sendiri, sehingga ke depannya kasus pelecehan seksual dapat ditekan jumlahnya.

Tidak hanya dari pemahaman yang dimiliki masyarakat, namun pemerintah juga memegang peran penting dalam menekan angka kasus pelecehan seksual. Salah satu yang telah disebutkan bahwa pendidikan seks penting bagi anak-anak terlebih sejak dini, menjadi pekerjaan rumah pemerintah untuk memasukkan pendidikan seks ke dalam kurikulum pendidikan di Indonesia.

Pendidikan seks sangat penting dimasukkan ke dalam kurikulum karena siswa ataupun anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu di sekolah daripada di rumah. Sehingga, apabila pendidikan seks ini dimasukkan ke dalam kurikulum, pemahaman tentang seks akan diterima secara utuh oleh anak-anak kita.

Pemerintah pun harus merancang undang-undang yang berguna untuk melindungi para korban. Kasus seperti ini bukan hanya berdampak pada kesehatan jasmani sang korban, namun dapat berdampak pada kesehatan mental seperti trauma, dan lainnya.

Perempuan sebagai mayoritas yang menjadi korban pelecehan seksual harus dilindungi, agar ke depannya perempuan-perempuan yang menjadi korban berani untuk melaporkan kasus seperti ini kepada pihak berwajib.

Tak hanya pemerintah, dalam hal ini juga, orang tua sebagai orang yang bertanggung jawab mendidik sang buah hati memiliki peran penting akan pendidikan seks ini.

Sudah bukan zamannya lagi menganggap seks sebagai hal yang jorok untuk dibahas bersama anak, melainkan perlu diberinya edukasi sejak dini mengenai hal ini. Orang tua dapat merangkul sang anak dan menjeleskan dengan cara yang baik tentang pendidikan seks.

Sudah saatnya orang tua berperan sebagai teman dari anak-anak mereka sendiri. Anak-anak tidak akan merasa takut untuk bercerita tentang apa pun yang mereka alami, dan mereka pun akan bertanya tentang hal yang tidak mereka ketahui seperti seks. Orang tua pun jangan menutup diri untuk menjelaskan tentang apa yang ditanyakan sang buah hati.

Sudah bukan waktunya lagi orang tua menghindar dari pertanyaan-pertanyaan anak-anak yang “vulgar” maupun yang dianggap “negatif” bagi masyarakat luas.