Saya baru saja putus dari pacar saya. Pacar – oke, mantan – saya ini, menurut saya, adalah yang paling cocok sepanjang sejarah saya berpacaran. Paling bisa menerima cara berpikir saya yang aneh-aneh, paling bisa diajak diskusi, paling pintar, paling open-minded, paling cocok dengan orangtua saya, dan berbagai paling-paling yang lainnya.

Tentu saja rasanya sakit. Bohong kalau ada orang yang baru diputusin lalu langsung bisa bilang dengan rela, oh, nggak apa-apa, mungkin kita memang nggak ditakdirkan sama-sama. Huh, bohong besar itu. Kecuali mungkin kalau dia sendiri memang diam-diam kepingin putus, hanya tidak berani jadi orang yang berinisiatif mengatakannya.

Dan seperti semua luka yang masih ­fresh dan pedih, dorongan yang kedua kali timbul dalam batin – selain pertanyaan “KENAPA?” pakai ukuran font 72pt – adalah perasaan ingin membalas. Membalas rasa sakit yang sudah ditimbulkan ini. Bentuknya bisa macam-macam.

Paling enak, sih, kalau dalam situasi LDR begini, dengan pembalasan verbal. Ingin memaki sang mantan dengan tuduhan ini dan itu. Ingin menyebarkan ke seluruh penjuru media sosial bahwa dia adalah lelaki paling brengsek sedunia. Ingin berkata bahwa, tidak, bukan saya yang salah, saya korban dan setiap korban harus dicarikan pembalasan yang setimpal. Pokoknya bagaimana caranya supaya doi ikut merasakan sakit, kalau bisa lebih parah biar kapok.

Atau bisa juga dengan memainkan peran korban yang menderita sebaik-baiknya. Menyakiti diri sendiri, misalnya. Menangis terus-terusan di telepon, di SMS, di chatting. Pasang status-status media sosial mendetail soal perasaan disertai soundtrack lagu band Melayu maupun Barat. Tujuannya tak lain supaya doi merasa bersalah sedalam-dalamnya, lalu akhirnya mengajak balikan.

Betapa nikmatnya melakukan hal-hal seperti itu dalam keadaan kesakitan. Dalam keadaan mendendam. Betapa nikmatnya melakukan kekerasan, baik ke dalam maupun ke luar, untuk menyalurkan rasa sakit yang membandel tidak mau hilang.

Percayalah, sodara-sodara, saya paham rasanya, karena sudah beberapa kali mengalami.

Akhir-akhir ini, media sosial sedang ramai dengan pemberitaan seorang bapak guru yang dipenjarakan akibat mencubit seorang siswa lelakinya yang nakal hingga berbekas. Saya pertama kali melihat tautan beritanya dari share seorang teman yang mantan guru.

Rata-rata komentar yang berseliweran di media sosial saya adalah pernyataan yang membela sang guru tersebut, dan mencela sang siswa yang dianggap terlalu manja sekaligus orangtuanya yang amat reaksioner. Biasanya mereka membandingkannya dengan pengalaman mereka zaman masih di bangku sekolah.

Ada banyak yang mencontohkan bahwa dulu kalau dia dicubit atau ditempeleng gurunya karena bikin salah, dia tidak akan berani mengadu pada orangtuanya, karena akan disukuri, tambah dimarahi, atau bahkan diberi bonus tempeleng lagi di rumah oleh, misalnya, bapaknya yang tentara.

Banyak juga yang menyalahkan undang-undang perlindungan anak yang dianggap menghalangi penegakan disiplin di sekolah dan membuka ruang kriminalisasi guru-guru oleh para orangtua lebay masa kini yang hobi memanjakan anak. Sampai yang ekstrem: selain memuja-muja rotanisasi oleh guru-guru galak di zamannya, juga menyalahkan Pak Presiden Jokowi dan Revolusi Mentalnya – sungguh saya tidak tahu hubungannya apa.

Saya, seperti mungkin nyaris semua orang segenerasi saya, juga punya pengalaman soal mendidik dengan “keras dan disiplin” ini. Saya masih ingat, dulu saya pernah digebuk sapu lidi di kamar mandi oleh mama saya, karena rewel malas mandi.

Saya juga pernah dioles sambal tepat di mulut oleh simbak pengasuh karena alasan yang sama. Kalau dengan guru, saya pernah dijenggut oleh seorang guru IPA yang terkenal killer karena tidak mengerjakan ringkasan materi, juga pernah ditoyor olehnya saat latihan paduan suara karena salah teknik mengeluarkan suara.

The thing is….

Mari kita bayangkan jika posisi kita menjadi guru. Atau bisa juga menjadi orangtua. Lalu siswa atau anak kita, yang dalam masyarakat kita yang feodal ini dipandang lebih “rendah” kedudukannya daripada kita, melakukan kesalahan atau membangkang.

Atau sebaliknya, anak kita dibilang melakukan kesalahan oleh seorang guru atau orang lain siapa pun itu, dan diberi hukuman yang menurut kita sewenang-wenang. Dalam benak kita, entah “Siapa lu berani-berani, gue aja orangtuanya nggak segitunya?” atau malah menyempil sedikit “Mustinya gue orangtuanya yang berhak!”

Ada banyak peristiwa dalam hidup ini yang bisa menunjukkan bahwa selain menjadi pemicu rasa benci atau takut, rasa sakit juga bisa memicu rasa ingin balas dendam, seperti contoh saya dan mantan saya di atas. Di tengah-tengah usaha mengendalikan patah hati, saya sempat merenungkan, sebenarnya siapa, sih, yang salah di antara bapak guru dan orangtua murid yang bersengketa di pengadilan itu?

Sebetulnya apa bedanya “hukuman” dan “konsekuensi perbuatan”? Apa, sih, mendidik itu sebenarnya? Dan pertanyaan paling besar: kalau saya sendiri punya anak nanti dan menghadapi situasi serupa, apa yang akan saya lakukan?

Saya membayangkan kalau saya, sebagai generasi yang sudah beberapa lama lulus bangku sekolah formal, punya bapak tentara yang suka menempeleng anaknya jika salah. Terus terang, ngeri. Dioles sambal dan digebuk sapu lidi saja saya masih ingat mendetail sampai sekarang dan masih ngilu saat membayangkan, apalagi ditempeleng.

Katakanlah, misalnya, di sekolah saya menyontek, maka saya ditempeleng guru saya. Saya pulang ke rumah, karena jengkel dan sakit hati menceritakan pada bapak saya – karena menurut saya, bagi anak ke orangtuanya, bercerita pengalaman kesehariannya itu tidak harus sama dengan mengadu per se – lalu bapak saya bilang, “Bikin malu orangtua, kamu!” dan PLAK! Saya ditempeleng lagi.

Aduh, mak.

Itu cuma contoh. Saya bukan orang yang suka menyontek, sih, sebetulnya. Seringnya malah saya yang dimintai bahan sontekan, yang suka saya tolak – call me a nerd, tidak setia kawan, whatever, I just don’t like it. Ya, saya tidak suka disontek karena menurut saya itu perbuatan tidak bertanggung jawab dari orang yang tidak tahu menghargai jerih payah orang lain.

Dan kalau saya menyontek, itu artinya saya pengecut yang mau menang sendiri dan tidak menghargai kerja orang lain. Rasa-rasanya menyontek itu perbuatan orang yang tidak punya harga diri. Tapi saya tidak tahu asal mulanya, bagaimana saya bisa berpikir seperti itu sejak kecil.

Seandainya versi saya yang lain itu, yang ditempeleng karena menyontek itu, di suatu hari saat ia dewasa berada dalam posisi yang sama, yaitu pada posisi yang strategis untuk menyontek hasil kerja orang lain. Kira-kira apa yang akan terjadi? Gurunya sudah almarhum. Bapaknya sudah sakit-sakitan. Tidak ada orang yang akan menempeleng dia kali ini, kalau tidak ketahuan.

Lalu saya juga jadi kepikiran. Sebagai siswa dan anak, versi saya yang suka menyontek itu pasti tidak punya cara untuk melawan atau menjelaskan. Ahelah, cerita saja sudah ditempeleng lagi, apalagi bela diri. Jadinya salah dua kali. Dalam posisi under pressure didikan feodal orangtua plus guru, rasa sakit fisik dan sakit hati itu entah mau disalurkan ke mana.

Maka saya pun tumbuh besar dengan membawa luka. Katakanlah, saat dewasa, saya sendiri menjadi guru atau orangtua. Ada dua kemungkinan. Pertama, kemungkinan yang ideal, saya mengingat pengalaman menyakitkan itu, merefleksikannya dengan benar, dan bertekad untuk tidak mengulanginya lagi karena saya tahu rasanya.

Kemungkinan kedua, yang sepertinya jauh lebih mudah dan mungkin terjadi secara begitu saja, adalah saya menjadi pribadi feodal yang sama seperti bapak dan guru saya. Saya mulai mengeluarkan pembelaan: lha, dulu saja saya ditempeleng karena menyontek diam saja, sekarang anak-anak ini dicubit saja sudah banyak mulut.

Karena, ya, kekerasan itu memang nikmat. Kalau tidak bisa balas dendam pada yang dulu menyakiti karena tertekan, sekarang setelah sudah lebih besar dan punya kuasa, yang di bawah jadi sasaran empuk sikap yang sama. Alasannya juga sama: mau mendidik. Tidak ada alternatif cara mendidik lain yang diketahui, karena seumur hidup selalu demikian yang terjadi. Sehingga hanya cara itu yang dianggap benar dan efektif.

Kekerasan dan kuasa itu nikmat, sementara mengampuni dan mengasihi itu selalu lebih susah. Bahkan kepada orang-orang terdekat.

Ketika bicara soal mengampuni, saya juga jadi membayangkan, bagaimana jika ada jalur kemungkinan ketiga: versi saya yang suka menyontek itu jadi dewasa dan punya anak, sembari masih terngiang-ngiang gurunya (dan bapaknya) yang tukang tempeleng dulu itu. Suatu hari, anak saya dicubit gurunya.

Saya pun marah. Saya benci pada guru-guru (dan secara umum orang-orang) sok kuasa yang suka menghukum seenaknya, seperti guru (dan bapak) saya dulu itu. Maka mumpung sudah ada undang-undangnya, saya cari celah hukum, dan saya jebloskan sang guru ke penjara.

Dan sementara semua orang dewasa sibuk mencari jalur pembalasan rasa sakit di masa kecil mereka, anak-anak tetap tidak tahu kenapa menyontek itu salah. Mereka cuma tahu, menyontek akan mendatangkan hukuman yang kejam – sekali lagi, kalau ketahuan.

Kembali ke persoalan saya yang sedang patah hati ini. Saya sempat tergoda untuk mencari penyaluran sakit hati yang sama. Jalur paling mudah dan terasa paling memuaskan: menyerang mantan saya, meminta belas kasihan, berganti-ganti. Tapi lama-lama saya jadi lelah sendiri. Energi saya pelan-pelan habis, saya makin menderita, dan mantan pacar saya bukannya balik malah mungkin mulai menganggap saya cewek gila tak stabil yang mengkhawatirkan kalau dipertahankan.

Saya jadi benci mantan saya. Mantan saya jadi benci pada saya. Kami berdua tetap tidak paham apa sebetulnya yang salah sehingga hubungan kami berantakan, karena memang tidak pernah dibicarakan dengan kepala dingin. Dan besok-besok, di hubungan yang baru, siklus yang sama terulang lagi.

Ya Gusti, kenapa dunia percintaan saya jadi dunia sadomasokis begini? Padahal tujuannya cuma satu: mencari kebahagiaan bersama dengan cinta.

Pertanyaan yang sama itu juga bisa diajukan tentang persoalan cubitan guru, tuntutan orangtua, dan penjara: Ya Gusti, kenapa dunia pendidikan kita jadi dunia sadomasokis begini? Padahal tujuannya juga cuma satu: menciptakan manusia-manusia yang sungguh baik luar dan dalamnya, pun dengan cinta.

Ah, saya jadi semakin bingung…

#LombaEsaiKemanusiaan