Perilaku kekerasan kembali terjadi di dunia pendidikan belakangan ini. Seorang guru SMP di NTT menganiaya siswanya.

Polisi mengungkap si guru mengetuk kepala korban dengan tangan terkepal, menendang punggung belakangnya dan memukul tangan dan betis siswa itu dengan batang bambu. Si guru marah karena korban tidak membawa fotokopi modul pelajaran, tidak memperkenalkan diri dengan bahasa Inggris dan absen tanpa kabar.

Di Solo, seorang mahasiswa peserta Pendidikan Dasar Resimen Mahasiswa (Diksar Menwa) tewas akibat kekerasan dua pelatihnya. Dalam rekonstruksi kejadian, kedua tersangka melakukan pemukulan keras terhadap korban hingga meninggal dunia gara-gara korban melakukan pelanggaran dan salah memperagakan senam senjata.

Itu memang cuma dua kasus, tapi menggambarkan wajah pendidikan kita yang tampaknya belum bisa move on dari metode mendidik yang konservatif. Kita tidak tahu seberapa banyak lagi kasus kekerasan terjadi di sekolah, namun ia jelas ada.

Ada sebuah video di Youtube memperlihatkan perbandingan perilaku guru. Awalnya video menampilkan seorang guru yang menyambut siswanya saat memasuki ruang kelas dengan ceria. Ia memeluk siswa yang satu lalu bertos-tosan tangan dengan siswa yang lain. Kemudian video tersebut menayangkan pemandangan berbeda. Seorang guru laki-laki dengan baju gamis dan sorbannya memukuli setiap anak yang masuk kelas dengan tongkat.

Sebagai seorang muslim, saya terganggu dengan apa yang video itu tampilkan. Jelas itu adalah framing media untuk memburukkan citra muslim. Tapi tampilan itu membuat saya tidak dapat menampik bahwa perilaku guru semacam itu ada dan kekerasan-kekerasan serupa juga terjadi di sekitar kita. Yang saya maksud bukan hanya kekerasan fisik oleh guru kepada siswanya.

Beberapa waktu terakhir ini pula kita dihebohkan dengan kasus kekerasan dan pelecehan seksual yang terjadi di beberapa kampus perguruan tinggi. Banyaknya laporan mahasiswi tentang tindak kekerasan dan pelecehan seksual yang dilakukan oleh dosen dan sesama mahasiswa terhadap mereka, memaksa Kemendikbud mengeluarkan Peraturan.

Kita belum membicarakan kekerasan verbal dalam mendidik anak. Tidak sedikit, saya kira, guru dan sistem pembelajaran yang seakan memberikan hak guru untuk memarahi siswanya secara kasar, atau meneriakkan hitungan ketika tiba waktunya siswa masuk kelas. Belum juga kita mengungkit kekerasan gestur. Tubuh yang tegap, tangan terlipat di dada atau di pinggang dan wajah pendidik yang seram juga masih menghiasi suasana belajar di sekolah.

Banyak analisa ilmiah yang bisa diajukan terkait mengapa kekerasan terjadi di dunia pendidikan: mulai dari sistem perekrutan guru, pengaruh tekanan-tekanan sosial dan administrasi yang para guru hadapi, hingga metode dan sistem pembelajaran yang masih perlu perbaikan. Banyak pula solusi yang ditawarkan untuk memecahkan permasalahan itu: mulai dari perlunya pendidikan dan pelatihan guru yang lebih intensif, hingga pemberlakuan Peraturan.

Apapun analisa dan solusi yang kita sajikan, penting kiranya untuk mengorientasikannya pada suatu makna filosofis, yakni bahwa baik pendidik, peserta didik dan seluruh komponen yang melaksanakan kegiatan pendidikan adalah manusia.

Para filsuf muslim awal dan filsuf aristotelian lainnya telah mendedah bahwa manusia adalah hayawan nathiq. Secara harfiah, ungkapan itu berarti hewan yang berbicara. Apa keistimewaan bicara? Bukankah hewan pada umumnya juga berbicara? Bukankah hewan juga punya sistem bahasa dan dengan itu mereka dapat melakukan pembagian wilayah dan perkawinan yang sah dalam hukum binatang?

Keistimewaan bicara dan bahasa manusia mula-mula dilihat dari struktur biologis otak dan mulutnya. Ukuran otak spesies hewan bernama manusia jauh lebih besar dari hewan-hewan lain. Otak yang besar dapat menampung berbagai macam skill. Bukan hanya meresepsi, otaknya juga dapat menampung kekuatan memori, daya penimbang dan daya imajinasi.

Kumpulan daya yang ditampung di dalam otak itu disebut akal (‘aql), rasio atau intelek (Yunani: intellectus) . Karena itulah, ungkapan hayawan nathiq juga berarti “hewan yang rasional”.

Luasnya kemampuan otak mendapat dukungan dari sistem wicara, yakni mulut – termasuk lidah, hidung dan tenggorokan (kata Perancis langue yang dalam bahasa Inggris language berarti “lidah”). Dengan daya rasionalnya, manusia merangkai bunyi-bunyi tersebut sehingga menjadikannya bermakna. Bunyi “a” mungkin tidak ada maknanya. Tapi ketika dirangkai dengan bunyi “k” dan vokal “u” sehingga membentuk kata “aku”, bunyi-bunyian itu jadi bermakna.

Tapi makna tersebut belum luas. Tatkala “aku” dirangkai dengan kumpulan bunyi-bunyian lain seperti “sayang” dan “kamu”, maknanya makin meluas: aku sayang kamu. Bayangkan ketika manusia membuat banyak kalimat dan mengeluarkan triliunan bunyi hingga tercatat menjadi sebuah buku. Tak heran jika manusia adalah spesies hewan yang Tuhan amanahi sebagai khalifah di muka bumi.

Intinya adalah manusia memiliki kemampuan rasional, yaitu memformulasikan makna. Kemampuan tersebut menjadikan manusia sebagai makhluk yang kreatif dengan kemungkinan tak terbatas. Sifat kreatif itu kemudian menempatkan manusia sebagai makhluk yang bebas. Kata “aku” tentu tidak hanya ia gunakan dalam menyusun kalimat “aku sayang kamu”. Suatu kata sebagai rangkaian bunyi dapat muncul dalam berbagai formula atau sistem kalimat yang lain.

Syed Muhammad Naquib al-Attas, seorang pemikir pendidikan muslim kontemporer, telah jauh-jauh hari – dalam The Concept of Education in Islam (1980) – memperingatkan agar pendidikan dan prosesnya memperhatikan aspek manusiawi dari manusia ini, tidak hanya semata-mata aspek hewaninya. Kekerasan, apapun bentuknya, merupakan pengkhianatan terhadap takdir Sang Pencipta (al-Khaliq) lagi Maha Kreatif (al-Badi’) bagi makhluk-Nya yang bernama manusia.

Kekerasan menunjukkan bahwa pelakunya merasa memiliki kekuasaan atas korbannya. Kekuasaan yang membatasi kemanusiaan, atau bahkan menyingkirkan eksistensi sebagai manusia dalam konteks kekerasan seksual.

Dalam konteks pendidikan secara umum, kekerasaan akan membatasi kemampuan rasional peserta didik yang meliputi kreatifitas dan kebebasannya. Ketika dibatasi atau dikekang, kreatifitas dan kebebasan itu hadir dalam bentuk lain: corat-coret di meja belajar, di dinding kelas, baju seragam saat kelulusan atau berbagai macam pelanggaran disiplin. Sungguh ironis ketika pendidikan disiplin yang dilakukan dengan menggunakan kekerasaan malah menimbulkan pelanggaran disiplin lagi.

Dulu saat saya masih bersekolah di sebuah sekolah berasrama, murid-murid yang satu angkatan di atas saya membuat baju kaos seragam dengan tulisan “remaja dari penjara suci”. Mengetahui hal itu, seorang guru senior marah dan membakar baju-baju tersebut. Baiklah jika pembuatan kaos itu salah dalam sudut pandang moral, tapi mengabaikan fenomena apa yang memicu munculnya ungkapan “penjara suci” jelas merupakan cara pandang yang sempit.

Kekerasan, bagaimanapun, tak pernah sejalan dengan hati nurani. Kekerasan di sekolah akan berdampak pada suasana belajar yang penuh kecemasan, ketakutan dan dendam. Dalam suasana semacam itu, tak hanya murid tapi guru juga tidak dapat menikmati proses pembelajaran. Kalau sudah begitu, bagaimana ilmu bisa terserap dan menjadi cahaya yang menerangi kegelapan?