Menyimak informasi yang berkembang seputar kekerasan antara umat Hindu dan kelompok muslim yang sedang terjadi di Delhi, India, bukanlah cerminan masyarakat India secara umum. Sentimen keagamaan semacam ini adalah gerakan yang dimobilisasi untuk kepentingan politik tertentu.

Salah satu mahasiswa Indonesia yang pernah kuliah di New Delhi menceritakan bahwa orang orang India sangat ramah. Bahkan mereka terlihat canggung dan rendah diri saat berinteraksi dengan warga negara asing. Masyarakat India senang jika ditanya atau sekadar disapa.

Mereka sering diberi jajanan oleh saudara-saudara umat Hindu setempat ketika mereka merayakan hari-hari agama, meski jelas-jelas dari agama yang berbeda. Keramahan itu tidak hanya berlaku kepada warga negara asing, tetapi antar-sesama orang India yang berlainan agama.

Di tempat-tempat umum, warga muslim dan penganut lain terlihat sama saja, kecuali dalam hal cara berpakaian. Mereka membaur berdesakan di dalam bus dan kereta lokal. Mereka bermuamalah di pasar dan pertokoan. Mereka ngecai bersama sambil berdiri di tepi-tepi jalan. Mereka merayakan ritual keagamaan secara bersama-sama. Dan sebagainya.

Insiden kekerasan antara umat Hindu dan kelompok muslim bukanlah cerminan masyarakat India secara umum. Sentimen keagamaan semacam ini sering kali ada yang memobilisasi untuk kepentingan tertentu, dan seringkali adalah politis. Ada otak intelektual di balik tragedi kemanusiaan yang tidak biasa tersebut.

Berdasarkan informasi yang dihimpun media asing dan lembaga HAM bahwa para pelaku kerusuhan adalah orang-orang yang termakan hasut dengan simbol-simbol agama yang gencar dikampanyekan Partai Bharatiya Janata (BJP)

Kekerasan dimulai atas undang-undang kewarganegaraan yang diperkenalkan oleh pemerintah Perdana Menteri Narendra Modi pada Desember lalu. Undang-undang kewarganegaraan ini memberikan warga negara bagi enam kelompok agama dari negara tetangga, tetapi tidak untuk umat Muslim.

Taslem Rahmani, anggota 30 organisasi masyarakat sipil yang memimpin protes menentang undang-undang kewarganegaraan yang baru, percaya nasionalis Hindu membalas dendam terhadap Muslim India, yang merupakan batu sandungan utama dalam perjalanan mereka untuk mengeklaim kekuasaan selama 70 tahun terakhir.

Sejak lama kaum nasionalis Hindu telah berkampanye mendesak agar populasi muslim ini dicabut haknya. Kepemimpinan Modi menyusun rencana untuk mendeklarasikan sebagian besar populasi Muslim tidak memiliki kewarganegaraan untuk mencegah penyelarasan dengan umat Hindu sekuler untuk menggeser mereka dari kekuasaan.

Bahkan menerapkan papan jajak pendapat yang kontroversial, seperti pencabutan otonomi Jammu dan Kashmir, membagi negara mayoritas Muslim menjadi dua unit yang dikelola secara terpusat, dan membuka jalan untuk pembangunan candi Ram besar di lokasi Masjid Babri yang hancur jelas telah gagal untuk mengesankan pemilih.

Tindakan yang bertentangan dengan konstitusi ini juga melanggar pasal-pasal Undang-undang Dasar India yang menjamin kesetaraan hak dan kesetaraan individu di depan hukum, serta perlakuan non-diskriminatif oleh negara. 

Kritik terhadap pemerintahan Modi memantik aksi kekerasan yang pada akhirnya, kekerasan berubah menjadi pertempuran jalanan antara kelompok Hindu dan Muslim. Insiden pun makin meluas disebabkan pemerintah diam dan tidak menindak tegas kelompok perusuh.

Stigma yang gencar disosialisasikan oleh beberapa partai berhaluan ultra-nasionalis Hindu telah menyebabkan angka kekerasan di India. 

Dalam catatan Wikipedia, sepanjang lebih satu dekade terakhir, rata-rata ada sekitar tujuh ratus insiden kekerasan. Korban yang jatuh meninggal saja mencapai angka 130 orang setiap tahun. 

Memang hal itu sangat menyayat hati dan nurani kita sebagai manusia. Bagaimana kita bisa hidup dalam ancaman kekerasan dan ketakutan setiap hari, seperti yang dialami oleh masyarakat India.

Narasi kesucian dan identitas adalah dua poin yang dibangun dalam stigma tersebut. Narasi kesucian mungkin bisa dibilang selalu ada dalam setiap agama, apalagi agama Abrahamik. Ajaran tentang kesucian adalah salah satu dari bagian paling sakral dalam agama.

Diksi kesucian ini adalah kelanjutan dari stigma atau cap jelek kepada suatu kelompok atau seseorang. Kesucian, selain memainkan istilah batas untuk menyortir mereka atau sesuatu yang dianggap tidak layak. Imaji tentang batas inilah yang kemudian bisa bertuntut pada kekerasan komunal di India.

Di India, kekerasan terhadap kelompok muslim harus mendapatkan perlakuan kasar, cacian, hingga kekerasan karena persoalan konsumsi sapi. Telah umum diketahui, sapi adalah binatang suci dalam kepercayaan mayoritas masyarakat India, yang memeluk Hindu. Umat Islam dianggap telah menodai agama mereka dengan mengonsumsi sapi.

Polemik tentang sapi, sebagai hewan suci atau komoditas dagang serta konsumsi, telah lama berakar dalam kehidupan masyarakat India. Akan tetapi, persoalan ini kembali mendapat momentum saat kemenangan Bharatiya Janata Party (BJP), partai ultra-nasionalis yang dipimpin oleh Narendra Modi, dalam pemilu beberapa tahun kemarin.

Beberapa elite partai pimpinan Modi tersebut sering memberikan pernyataan atau pidato yang sering menyulut kemarahan kalangan Hindu garis keras, seperti “Gau Rakshaks (Geng pelindung sapi)”. Lebih parahnya, beberapa aksi kekerasan yang mereka lakukan malah terkesan dibiarkan oleh polisi atau aparat keamanan yang mendapat tekanan dari politisi BJP.

Bagaimana dengan Indonesia? Mungkin kita seharusnya mulai belajar dari kekerasan seperti di India. Kekerasan memang sering terjadi karena bagian dari titik didih berbagai hal, seperti stigma atau cap yang serampangan, pengalaman perbedaan hal-hal primordial, dan biasanya dipanas-panasi oleh dinamika politik sesaat.