Perempuan terus-menerus dikekang dan dibuat tunduk oleh berbagai aturan. Kekerasan ini, baik yang sifatnya kultural maupun struktural, kemudian menjadi sumbu kekerasan fisik dan represi. Dan salah satu faktor utamanya adalah tiadanya kesadaran (ketaksadaran) gender di kalangan masyarakat.

Menilik fakta dewasa ini, perempuan dan kekerasan acap kali menyatu-padu ke dalam satu entitas, yakni kekerasan terhadap perempuan. Penyakit kronis ini seolah telah mengakar kuat dalam sumbu kebudayaan masyarakat, terutama masyarakat yang menganut kebudayaan “machoisme”: menempatkan perempuan (oleh laki-laki) sebagai the second sex, bukan rekan setara.

Sebagai penggambaran atasnya, patut kiranya untuk menengok sajak kanak-kanak yang mungkin sudah tak asing bagi kita, terutama di kalangan umat Kristiani:

Dibuat dari apakah gadis-gadis kecil itu,
dibuat dari apakah gadis-gadis kecil itu?
Gula dan rempah dan semuanya manis.
Dari itulah gadis-gadis kecil dibuat.
Dibuat dari apakah anak laki-laki,
dibuat dari apakah anak laki-laki?
Katak dan siput dan ekor anak anjing.
Dari itulah anak laki-laki dibuat.

(Linda Smith dan William Raeper dalam A Beginner’s Guide to Ideas, 1991)

***

Riset pernah membuktikan bahwa prevalensi angka kekerasan terhadap perempuan bertengger di posisi yang cukup tinggi. Sebagai contoh, penelitian yang dilakukan oleh Partner for Prevention (P4P) berhasil menunjukkan bagaimana ranah kekerasan emosi mencapai 46,8% - 64,5%. Sementara itu, ranah kekerasan seksual mencapai angka 22,3% - 49,2%.

Di akhir tahun 2015, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga pernah turut memperkirakan bahwa sekitar 35% perempuan di seluruh dunia telah mengalami kekerasan fisik atau seksual. Hal ini sebagaimana juga ditunjukkan oleh Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) bahwa kekerasan terhadap perempuan di Indonesia trend meningkat atau mencapai 293.220 kasus dari tahun sebelumnya (Majalah Kartini, 2015).

Bahkan, data ini bisa jadi hanya puncak gunung es. Bahwa akan masih banyak lagi kekerasan serupa yang itu akan membludak jika tanpa ada upaya atau penanganan dini secara serius dan tepat sasaran.

Publik tentu saja belum lupa bagaimana tragedi maut yang menimpa seorang bocah perempuan berumur 14 tahun bernama Yuyun. Di samping tragedi ini sangat mengejutkan dan menyita banyak perhatian publik, hal ini bisa menjadi pembuktian kita bersama bahwa siapa pun dapat menjadi korban kekerasan seksual. Tragedi ini bisa terjadi di mana saja, bahkan di tempat-tempat yang selama ini kita anggap aman sekalipun.

Berdasarkan catatan Komnas Perempuan 2016, saat ini kasus kekerasan seksual naik menjadi peringkat kedua dari keseluruhan kasus kekerasan terhadap perempuan, bahkan tertinggi pada ranah personal.

Tyas Widuri, aktivis Jaringan Muda Melawan Kekerasan Seksual, juga menyebutkan, angka kekerasan seksual personal tersebut di antaranya sebanyak 2.399 kasus, pencabulan 601 kasus, dan pelecehan seksual 166 kasus (lihat: Hasil Konferensi Pers Usut Tuntas Kasus Yuyun di Lembaga Bantuan Hukum Jakarta, 3 Mei 2016).

Pertanyaannya, bagaimana semua hal tersebut harus kita respons?

Adalah hal yang tak patut diulur-ulur lagi bahwa penyakit “mematikan” ini perlu penangan serius lagi cepat. Bahwa tak ada upaya yang lebih efektif ketimbang memahami akar persoalan yang jadi sebab utamanya. Meski ada banyak hal yang mendasari lahirnya kekerasan terhadap perempuan ini, seperti kemiskinan, gangguan kejiwaan, minimnya tingkat pendidikan, dan serta kebudayaan yang melanggengkan budaya patriarki.

Namun melepaskan pemahaman gender dari kasus akut semacam ini hanya akan melahirkan bias penyelesaian masalah. Justru yang timbul adalah sumber masalah baru, seperti framing penyalahan korban dan pembenaran si pelaku atas diri korban—yang benar jadi salah, yang salah jadi benar. Demikianlah fakta yang kerap kita jumpai di media-media.

Memberantas Ketaksadaran Gender

Tujuan utama pendidikan adalah penyadaran. Sebagaimana Paulo Freire dalam Pendidikan Kaum Tertindas-nya menegaskan, pendidikan tak lain sebagai upaya pembebasan kesadaran atau dialogika.

Sampai saat ini, saya masih percaya bahwa kekerasan terhadap perempuan lebih disebabkan oleh tiadanya kesadaran (ketaksadaran) atas gender. Ketaksadaran ini terjadi, baik pada diri si perempuan sendiri ataupun laki-laki pada khususnya, terutama masyarakat awam secara umum.

Jadi, ini bukan semata soal buasnya seorang manusia atas diri manusia lainnya. Bukan soal adanya sikap kebinatangan dalam diri tiap-tiap manusia. Tetapi lebih jauh, lagi-lagi meminjam pandangan Freire, penjajahan masa kini adalah penjajahan kesadaran. Demikianlah maka upaya satu-satunya yang lebih efektif tak lain adalah menggagas pendidikan berbasis kesetaraan gender.

Di satu sisi, budaya patriarki memang masih sangat mendominasi pemikiran masyarakat kita. Sebagian besar masih menganggap bahwa relasi kesadaran gender adalah relasi yang sangat tabu. Membincangnya berarti membincang hal-hal yang tak patut atau tak layak dijangkau oleh manusia dengan akalnya. Sebuah tradisi masyarakat yang kolot, tradisi pemikiran yang masih dipenuhi kesadaran-kesadaran mistis.

Masih patutkah kita bicara soal batas ketika realitas memaksa kita untuk menerobos hal-hal itu? 

Perempuan dibentuk, dikonstruksi, dan citrakan berdasarkan selera laki-laki semata. Dan ketika kekerasan terjadi pada diri si perempuan, yang kerap dituai adalah pembenaran atasnya. Bahwa ini adalah bentuk pendidikan terhadap perempuan. Mestikah hal ini didiamkan?

Seperti Ahmad Wahib, akal memang ada batasnya. Tapi sampai di mana batas akal manusia itu? Siapakah yang lebih berhak memberi batasan terhadapnya selain Tuhan? Bahkan Tuhan sekalipun tak pernah memberi hal yang demikian, melainkan menghendaki perlakuan adil atas sesama.

Baca Juga: Analisis Gender

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran. (Q.S. An-Nahl).

Dalam tradisi Kristiani juga diajarkan hal seperti itu. Bahwa manusia hendaknya memerhatikan konsep keseimbangan, keserasian, keselarasan, keutuhan, baik sesama umat manusia maupun dengan lingkungan alamnya.

Tidak ada Yahudi atau Yunani, budak atau orang merdeka, laki-laki atau perempuan, karena kamu semua adalah satu dalam Kristus Yesus. (Surat Paulus kepada umat Galatia).

Kembali ke persoalan ketaksadaran gender, hal lain yang turut memberi faktor adalah keengganan masyarakat untuk mempelajari feminisme—sebuah pengantar utama dalam memahami masalah gender. Feminisme kerap dianggap sebagai paham buruk yang berusaha menjatuhkan derajat laki-laki.

Kecurigaan konyol atasnya, di satu sisi, lahir dari kata “feminisme” itu sendiri: produknya orang-orang Barat, paham yang membela perempuan dan ingin menjadikan laki-laki seperti perempuan. Benarkah?

Kesalahpahaman di atas juga makin diperparah oleh adanya tradisi atau dogma agama mainstream, seperti dalam ajaran Islam garis keras. Fenimisme kerap dianggap sebagai kajian tidak penting. Feminisme dipandang sebagai paham yang sangat bertentangan dengan nilai-nilai moral yang berlaku di dalamnya.

Perlu kita sadari bahwa feminisme dan kesetaraan gender adalah pemahaman mutlak untuk kita bangun secara bersama-sama. Hal ini semata-mata harus kita tilik sebagai satu pembelajaran mengingat perempuan terus-menerus dikekang dan dibuat tunduk oleh berbagai aturan di mana realitas ini menjadi sumbu lahirnya kekerasan fisik dan represi atas diri perempuan.

Gender dan Seks

Menilik realitas hari ini, tak bisa dimungkiri memang bahwa banyak sebagian orang yang tak paham tentang apa itu gender dan bagaimana konsep gender itu. Apalagi ketika menganggap gender sebagai serupa dengan seks (jenis kelamin). Penyalahartian semacam inilah yang marak mengundang beragam konflik, yang hampir setiap hari kita jumpai dalam realitas kehidupan kita, baik di lingkungan keluarga, sekolah, organisasi, bahkan negara.

Secara bahasa, kata "gender" diartikan sebagai the grouping of words into masculine, feminine, and neuter, according as they are regarded as male, female or without sex, yang artinya gender adalah kelompok kata yang mempunyai sifat maskulin atau feminin, atau tanpa keduanya (netral).

Secara istilah, gender adalah pandangan atau keyakinan yang dibentuk masyarakat tentang bagaimana seharusnya seorang perempuan atau laki-laki bertingkah laku maupun berpikir. Misalnya, pandangan bahwa seorang perempuan ideal harus pandai memasak, merawat diri, lemah-lembut, atau keyakinan bahwa perempuan adalah makhluk yang sensitif, emosional, selalu memakai perasaan.

Sebaliknya, seorang laki-laki sering dilukiskan berjiwa pemimpin, pelindung, kepala rumah-tangga, rasional, tegas, dan sebagainya. Penghapusan atas pandangan inilah yang hendak dituju oleh gerakan-gerakan gender.

Selain itu, konsep gender sendiri harus dibedakan antara kata gender dan kata seks (jenis kelamin). Perbedaan jenis kelamin antara laki-laki dan perempuan adalah kodrat Tuhan karena secara permanen tidak berubah dan merupakan ketentuan biologis yang mutlak adanya.

Sedangkan gender adalah perbedaan tingkah laku antara laki-laki dan perempuan yang secara sosial dikonstruk (dibentuk) melalui proses sosial dan budaya yang panjang. Misalnya, bagaimana kita mengetahui bahwa perempuan dikenal sebagai sosok yang lemah lembut, emosional, dan keibuan sehingga biasa disebut bersifat feminin? Sementara laki-laki dianggap kuat, rasional, jantan, dan perkasa lalu disebut bersifat maskulin?

Pada hakikatnya, ciri dan sifat itu sendiri merupakan hal yang dapat dipertukarkan. Artinya, ada laki-laki yang memiliki sifat emosional dan lemah lembut. Sebaliknya, ada pula perempuan yang kuat, rasional, dan perkasa. Karenanya, gender dapat berubah dari individu ke individu yang lain, dari waktu ke waktu, dari tempat ke tempat, bahkan dari kelas sosial yang satu ke kelas sosial yang lain.

Sementara jenis kelamin yang biologis akan tetap dan tidak berubah, seperti perempuan memiliki vagina, payudara, rahim, bisa melahirkan, dan menyusui; sementara laki-laki memiliki jakun, penis, dan sperma, yang sudah ada sejak keberadaannya sendiri.

Sebuah Analisis

Apa yang telah dipaparkan di atas, paling tidak, memberi sedikit kejelasan bahwa faktor terjadinya kekerasan terhadap perempuan, tak hanya lahir dari adanya orang-orang konstruktif yang memandang perbedaan perempuan dan laki-laki dalam porsi yang diskriminatif, tidak seimbang, melainkan juga pada pengimplementasian kesadaran gender secara tidak proporsional lagi kritis.

Di sisi lain, ini juga disebabkan oleh adanya pemahaman ajaran agama tentang kesetaraan manusia yang dipahami secara salah kaprah, yang dipengaruhi oleh faktor sejarah, lingkungan budaya, dan tradisi patriarki yang sangat menguat dalam kehidupan kebudayaan masyarakat.

Sebagai solusi, pendidikan gender mesti menjadi proyek besar bersama kita. Entah dengan jalan stuktural melalui pengimplementasian aturan-aturan atau kebijakan-kebijakan pemerintah terkait perempuan, kekerasan terhadap perempuan, atau keadilan gender, maupun dengan jalan kultural atau pemahaman tradisi keagamaan yang berbasis pada keadilan gender.

Dengan begitu, optimisme kita akan keadilan bagi semua tentu akan benar-benar terwujud. Hal ini jika pemahaman akan kesadaran gender benar-benar kita jadikan sebagai panduan atau pedoman cara berpikir kita dalam memahami bagaimana kekerasan terhadap perempuan semestinya kita tangani. Dan cara ini, paling tidak, mampu menjadi kunci bagi kita dalam mengakhiri lingkaran kekerasan terhadap perempuan.