18275_91469.jpg
www.theguardian.com
Saintek · 3 menit baca

Kekeliruan Einstein dan Cara Kita Menikmatinya

Barangkali sebagian dari kita sangat tak senang dengan kekeliruan dan menganggapnya sampah dalam ilmu pengetahuan. Sayangnya, beberapa hal keliru tak selalu berdampak buruk. Kadang itu berlaku sebaliknya.

Kita boleh membenci segala macam argumen yang tak bersandar pada logika yang benar. Namun, kekeliruan, sebagaimana kebenaran, memiliki fungsi dan sejarahnya sendiri-sendiri. Bagaimana manusia sampai pada kebenaran jika tak tahu mana yang keliru?

Dalam dunia Fisika Teoretis, kekeliruan tak selalu dipandang seperti bangkai busuk yang menebarkan bau tak sedap. Ada segelintir ilmuwan yang bisa dikatakan kekeliruannya sama menarik dengan kejeniusannya. Albert Einstein adalah salah satunya.

Hanya sedikit “kekeliruan disengaja” yang memiliki umur yang kelewat panjang untuk dilupakan siapa pun. Dan itu dimulai manakala Einstein memperkenalkan sebuah ‘elemen pembenar’ yang disebut konstanta kosmologi.

Konstanta kosmologi adalah faktor palsu dalam sejarah sains yang Einstein tambahkan pada teori relativitas umumnya di tahun 1917 demi mendukung teori semesta statik—yang dipercaya mayoritas ilmuwan di masa itu.

Didukung oleh intuisi dan sedikit keberuntungan, tak butuh lama bagi Einstein untuk menyadari kekeliruannya. Ia terkejut beberapa bulan berikutnya setelah mengumumkan teori barunya ketika Karl Schwarzschild, astrofisikawan Jerman yang bertugas di garis depan Perang Dunia I, mengirimkan suatu solusi yang menggambarkan medan gravitasi di sekitar bintang terpisah (solitary star).

“Saya tidak percaya bahwa penyelesaian sempurna atas persoalan massa pokok tersebut begitu sederhana,” ujar Einstein.

Mungkin karena terpacu oleh hasil Schwarzschild, di tahun berikutnya Einstein mengalihkan perhatiannya pada perumusan alam semesta berperbatasan yang mencegah sebuah bintang melarikan diri dari tetangganya dan tidak terlempar menuju ketersendirian tak terhingga non-Mach.

Dia menyusun gagasannya dalam sebuah korespondensi dengan astronom Belanda, Willem de Sitter, yang mana akan diterbitkan musim panas tahun ini oleh Princeton University Press dalam Volume 8 “The Collected Papers of Albert Einstein”.

Sebagaimana kebanyakan koleganya kala itu, Einstein menganggap alam semesta terdiri dari sebuah kumpulan bintang, yaitu Bima Sakti, yang dikelilingi oleh ruang luas tak berbatas. Salah satu hasil rumusannya memprediksikan eksistensi “massa jauh” yang melingkari pinggir Bima Sakti layaknya sebuah pagar. Massa-massa ini melengkungkan ruang dan menutupnya seperti ujung kertas yang disambung membentuk silinder.

Rekannya, de Sitter, mencemooh gagasan tersebut. De Sitter mengatakan bahwa massa “supranatural” ini bukan bagian dari alam semesta tampak (visible universe). Gagasan tersebut tidak lebih lezat dari gagasan lama Newton tentang ruang absolut, yang sama-sama tak tampak dan tak terlalu berguna.

Ketika Ilmuwan Punya Cara Lain Melihat Kekeliruan Itu

Seiring berkembangnya observasi dalam bidang Astrofisika, Einstein membuang konstanta kosmologis ketika alam semesta diketahui mengembang. Ia tentu malu karena melakukan sebuah manipulasi matematis yang cerdik.

Tapi, pada tahun-tahun berikutnya, konstanta kosmologis itu, layaknya kecoak yang dilempari sandal, bersikeras menolak untuk mati, menyeret dirinya tampil ke depan, membisikkan enigma-enigma mendalam dan gaya-gaya baru yang misterius di alam, setiap kali para kosmolog menemui kesukaran dalam merekonsiliasi observasi alam semesta dengan teori-teori mereka.

Beberapa tahun lalu, sewaktu saya mencari-cari bahan riset di jurnal bereputasi seperti Elsevier, Physical Review D, MDPI, IoP, konstanta kosmologis tersebut kembali muncul dalam paper-paper ilmiah sebagai penjelasan atas temuan yang banyak dilaporkan. Berdasarkan observasi bintang-bintang meledak yang jauh, para Astrofisikawan mulai menyadari bahwa suatu jenis “energi aneh” rupanya sedang mempercepat perluasan alam semesta.

Data yang membuat para Fisikawan kembali bersemangat memecahkan persoalan penyusun alam semesta tak dikenal ini berasal dari data satelit WMAP. Data itu membuat komunitas ilmiah terguncang dan selanjutnya membuka ruang-ruang kosong di mana Tuhan mungkin dapat masuk mengisinya.

Berdasarkan data itu diketahui fakta bahwa 73 persen alam semesta, angka tertinggi, terbuat dari bentuk energi yang sama sekali tak dikenal yang disebut energi gelap, atau energi tak tampak yang tersembunyi di kehampaan angkasa raya.

Energi gelap kini muncul kembali dan dipertimbangkan sebagai tenaga pendorong di seluruh alam semesta. Energi gelap sekarang dipercaya sebagai penghasil medan antigravitasi baru yang mendorong galaksi-galaksi saling menjauh. Takdir akhir alam semesta itu sendiri akan ditentukan oleh energi gelap

Agak miris mendengar kenyataan ini. Manusia tahu dunia dan alam semesta mungkin akan berakhir; dan penyebab utamanya adalah energi misterius yang membuat manusia sampai pada sebuah kesimpulan tentang ketidaklengkapan Fisika. 

Tapi, terlepas dari semua itu, Einstein menunjukkan pada kita bahwa hasrat ingin benar dapat menimbulkan tindakan keliru yang disengaja. Sayangnya, kekeliruannya punya dampak yang tak tertebak. Ia seolah menyediakan jalan bagi kita untuk memodifikasi sekali lagi kekeliruannya.

Dan akhirnya, kita diberi petunjuk oleh kekeliruan. Mari merayakan kekeliruan Einstein dengan menerima kekeliruan sendiri sebagai tahapan sebelum sampai pada kebenaran.