Sempatkah mengenang bagaimana gaya berteman kita dahulu kala dalam lingkungan pendidikan menengah-pertama atau menengah-atas? Sudahkah kita bertindak adil terhadap anggota kelompok bermain yang selalu menyertai suka ataupun duka kala itu? Novel ini berusaha mengingatkan pembacanya akan hal itu.

Meskipun pesan moralnya sangatlah bagus dan bermanfaat, tentu saja, isi cerita dalam novel ini amatlah sadis (dalam artian harfiah maupun simbolik). Hal itu perlulah dimaklumi, karena ceritanya bergenre misteri-thriller-psychological. Oleh sebab itu, cerita ini bukan untuk dikonsumsi sembarang orang (meskipun keterangan di bukunya menunjukkan 15+).

Girls in the Dark menceritakan misteri penyebab kematian Shiraishi Itsumi, remaja yang menghidupkan kembali klub sastra di SMAnya. Ya, klub yang kegiatannya membaca novel sepuasnya (kalau mood, kalau sedang malas? Terserah, yang penting hadir). Kendatipun demikian, seminggu sekali anggotanya diberi tugas meresensi dan mepresentasikannya.

Klub sastra yang kembali hidup itu beranggotakan enam gadis ditambah Shiraishi Itsumi sendiri sebagai ketua. Konon, enam gadis anggota klub sastra tersebut bukanlah sembarang gadis, mereka adalah bintang dari ratusan siswi unggul di SMAnya (yang bergengsi di Jepang).

Selain itu, kebijakan klub yang tidak membuka pendaftaran anggota baru karena dalam hal penunjukan anggota adalah hak perogatif Shiraishi Itsumi, membuat klub bersifat eksklusif. Mungkin jika di SMP atau SMA Indonesia, klub seperti itu akan semakin redup dan tidak akan pernah terdengar gaungnya, apalagi klub sastra.

Namun, tidak untuk klub sastra di cerita ini. Selain karena para anggota adalah gadis spesial yang di-idolakan teman lingkungan sekolahnya , ternyata fasilitas mewah klub – yang diusahakan oleh ayah Shiraishi Itsumi sang pemilik SMA – mampu menjadi pusat perhatian para siswi.

Ah, satu hal yang hampir terlewat padahal penting untuk diutarakan tulisan ini. Hal penting yang hampir terlewat itu adalah fakta bahwa SMA (naungan lembaga swasta) tempat Shiraishi Itsumi dan teman-temannya bersekolah dikhususkan untuk murid perempuan.

***

Lalu apa hubungan antara sekilas cerita di atas dengan kematian Shiraishi Itsumi? Hubungannya adalah ia mati terbunuh di ruangan klubnya, ditambah kesehariannya hanya bersama anggotanya, dengan begitu maka kecurigaan mengarah kepada mereka. (perlu ditekankan kembali bahwa keberadaan klub dan anggotanyalah yang diceritakan di awal tulisan).

Oleh sebab itu para anggota klub sastra mengadakan acara makan bersama dan menceritakan cerita pendek hasil karangan masing-masing (seperti tahun-tahun yang berlalu karena itulah adatnya).

Perbedaannya adalah suasana yang terasa sedikit mencekam karena pertemuan kala itu dikhususkan untuk memecahkan misteri kematian Shirashi Itsumi, yang disinyalir dibunuh oleh salah satu dari mereka yaitu para anggota klub sastra.

Setiap anggota dipersilahkan mengarang cerita mengenai penyebab kematian mantan ketua mereka itu menurut versi masing-masing berdasarkan fakta yang mereka dapatkan. Ternyata isi cerita masing-masing anggota saling bertentangan. Hanya ada satu kemiripan yaitu mereka saling tuduh dan sama-sama mengenang Shiraishi Itsumi sebagai teman terbaiknya.

Akhir cerita dan misteri dibalik kematian Shiraishi Itsumi tidak akan pernah bisa dipecahkan oleh pembacanya. Jadi, bagi para penggemar cerita misteri, buku ini sangatlah layak diperhitungkan sebagai bahan bacaan.

Kemudian bagi para penggemar genre thriller, dijamin puas dengan nuansa thriller dalam cerita ini (meskipun secara subyektif sangat memuakan). Sedangkan bagi pecinta genre Psychological, cerita ini akan menambah wawasan mengenai spekulasi tingkah laku manusia yang salah satunya menjadi inti pembahasan dalam tulisan ini.

Baiklah, mari masuk ke inti pembahasan. Tulisan selanjutnya mengandung sedikit spoiler, yaitu motivasi Shiraishi Itsumi dibalik usahanya menghidupkan kembali klub sastra. Hanya itu, tidak lebih.

Oleh sebab itu, tulisan ini menjamin kerahasiaan alur cerita Girls in the Dark yang penuh kejutan. Namun tidak ada paksaan untuk melanjutkan membaca. Jadi, jika sudah siap mari kita lanjutkan.

Shiraishi Itsumi menghidupkan kembali klub sastra bukan semata tulus menghidupkan sastra.  Ada motivasi lain dibaliknya, satu diantaranya adalah agar ia menjadi dan akan tetap menjadi tokoh utama.

Motivasi tersebut menjelaskan alasan mengapa para anggota klub sastra yang dipilihnya adalah para bintang di SMAnya. Tentu para bintang berpotensi menjadi tokoh utama bukan? Untuk mencegah hal itu maka Shiraishi Itsumi menjadikan mereka sebagai anak buahnya, dengan kedok mencari anggota klub sastra yang baru dihidupkannya.

Ternyata penghianatan antar teman tidak selalu berwujud kasatmata. Bahkan, mungkin tidak akan pernah disadari, karena penghianatan antar teman dapat dilakukan meski tanpa wujud konkret sekalipun.

Contoh nyata dapat dilihat dari pergaulan para remaja perempuan. Ingatlah kembali suasana riuh rendah lingkungan sekolah saat jam istirahat, pernahkah melihat sekelompok remaja perempuan yang rata-rata anggotanya berpenampilan biasa tetapi ada satu anggota yang terlihat begitu menonjol karena kecantikannya? Maaf karena telah berprasangka.

Contoh nyata yang lain dapat kita saksikan dari pergaulan para remaja laki-laki. Pernahkan melihat salah seorang teman sekolah dahulu kala yang begitu puas karena telah memenangi suatu permainan? Maaf karena telah berprasangka lagi.

Itulah kenapa penghianatan antar teman tidak selalu berwujud kasatmata. Kita –bagaimanapun telah berusaha keras mendiagnosisnya– tidak akan pernah mampu mengurai penghianatan teman yang dilakukannya dalam hati. Ditambah contoh yang telah diuraikan dianggap wajar oleh masyarakat.

Apa buruknya sih berkompetisi? Wajarlah anak-anak yang bermain dalam sebuah permainan, menginginkan kemenangan. Toh begitulah permainan, agar ada yang menang tentu harus ada yang kalah. Selain itu, permainan terbukti membantu tumbuh kembang anak.

Kemudian dalam sebuah pergaulan yang terlihat jelas jurang kualitasnya antar para anggotanya, juga dianggap sebagai kebaikan. Memang benar hal itu baik, semoga jurang yang terlihat segera menyempit. Bisa saja karena pertemanan, anak yang bodoh menjadi pandai, anak yang tidak bisa berdandan menjadi mampu berdandan.

Barangkali Akiyoshi Rikako mengingatkan kita bukan untuk menjadikan kita tega menghakimi orang lain, melainkan untuk kembali bersedia menginstropeksi diri. Bukan tidak mungkin jika dalam pikiran bawah sadar kita mendambakan menjadi tokoh utama. Kemudian tanpa sadar telah berlaku tidak adil terhadap teman, meskipun hanya dalam pikiran.

Pesan Terakhir

Untuk mengetahui apakah kita sungguh seorang teman yang setia, maka jujurlah kepada diri dan tanyakan apakah diri ini adalah temannya meskipun kelihatannya tidak selevel dengan kita. Terbekatilah bagi yang menjawab iya.

Selain itu, dalam pertemanan wajar jika terkadang muncul perasaan iri. Oleh sebab itu, tanyakan kembali kepada diri: inginkah kenikmatan yang dianugerahkan kepada mereka lenyap? Terbekatilah bagi yang menjawab tidak.

  • Judul Buku: Girls in the Dark
  • Pengarang: Akiyoshi Rikako
  • Penerbit: Penerbit Haru
  • Tahun Terbit: Mei 2014
  • Cetakan: Keempat belas, Oktober 2019
  • Tebal Buku: 283 hal
  • Harga Buku:  Rp 89.000,- (harga P. Jawa)