Hujan Di Akhir Tahun.

Sepanjang malam hujan datang dengan setia.

Membasahi bumi dengan adil.

Sampai menjelang subuh.

Sampai pandangan pertama menjadi rindu.

Kudekap erat selimutku merindu pelukanmu kala itu.

Teringat awal-awal bertemu.

Engkau sapa diriku dengan ramah.

Perjumpaan yang tidak pernah terlupakan.

Senyummu kala itu menggodaku.

Tawamu kala itu menghibur gulandaku.

Pertemuan singkat namun hangat.

Pertemuan selanjutnya engkau lebih banyak bicara dan aku diam mengamatimu dengan khusyu’.

Pertemuan ketiga engkau menjelma menjadi awan mendung teduh.

Aku memang pengecut sayangku.

Pada pandangan pertama mataku selalu tertuju pada senyummu.

Engkau datang membawa damai dalam jiwaku.

Pertemuan keempat aku berjanji membelikanmu secangkir kopi dan membuatkanmu sebuah puisi, hanya untukmu.

Namun dalam wajahmu mengandung ragu-ragu untuk menaruh rasa padaku.

Entah dan mengapa?

Lalu kukejar dirimu sampai ke ujung pelangi.

Pertemuan kelima adalah pertemuan paling ku kenang.

Tepat pada musim semi, hatiku bersemi hanya untukmu.

Ku ulangi “hanya untukmu”.

Lalu dengan malu-malu engkau menjawab “iya”.

Perkataan yang singkat namun aku bahagia mendengarnya.

Seterusnya kita menghabiskan waktu bersama-sama seperti rembulan dengan bintang.

Bercengkrama dan tertawa.

Engkau yang pertama kali datang mengulurkan tangan ketika aku berada dalam fase keputusasaan.

Engkau dengan ikhlas menjadi payung melindungiku dari derasnya hujan.

Engkau menjadi kopi yang hangat saat dingin malam menerjang badan.

Engkau yang menjadi kompas saat diriku hilang arah.

Namun pada akhirnya setiap kisah memiliki judul dan kesimpulan masing-masing.

Tatkala engkau menjauh menuju arah tujumu.

Diriku hanya pasrah dan tabah.

Menantikan dirimu kembali ataupun tidak sama sekali.

Daun-daun masih basah dalam pelukan embun di pagi hari.

Waktu dimana aku mengingatmu.

Dan bertanya-tanya pada burung yang terbang melewati penglihatanku.

“Sedang apa dirimu saat ini?”

Namun dengan keji angin menjawab “dia sedang dengannya, bukan dirimu lagi.”

Dan kulanjutkan rasa penasaranku dengan bertanya kepada matahari yang baru saja datang di angkasa.

“kapankah dia akan bercerita dan mengingatkanku waktu makan?”

Sama halnya dengan angin, jawaban matahari membuatku bersedih kala pagi hari.

Matahari menjawab bahwa perutku tak akan lapar karena sudah kenyang oleh kenangan.

Aku berjalan tertatih maju meski sendiri.

Dalam sunyi malam, dalam derasnya hujan.

Berlinang sejuta kesedihan membasuh seluruh badan sampai tak tersisa.

Mengingat candamu yang menghibur, senyummu yang menggoda.

Berjalan perlahan di bawah sorot lampu jalanan yang tajam.

Kepalaku mengada pada langit, menerka air hujan yang turun dengan setia.

Lantas aku terduduk di sebuah trotoar yang sunyi, benar-benar sunyi.

Tiada suara, hanya suara dari hatiku yang masih kerap memanggil namamu.

Bulan Desember menuju akhir, awal tahun sebentar lagi.

Namun, masih namamu yang ada di hatiku.

Dengarlah sebentar sayangku.

Mendekatlah dalam dadaku.

Peluklah tubuhku sekali lagi, lagi, dan lagi.

Sampai waktu benar-benar terhenti.

Hembusan angin malam yang dingin mengingatkanku bahwa engkau bukan lagi milikku.

Angin malam yang jahat.

Kehidupan memang selalu menyertakan sebuah pilihan.

Namun kali ini, kepergianmu tiada menyisakan pilihan apapun.

Hanya menyisakan resah, selebihnya tiada.

Sudah berapa kali aku berusaha menemuimu, melihatmu baik-baik saja tanpaku.

Namun juga sudah berapa kali engkau lari dari kenangan kita berdua.

Ketahuilah sayangku.

Engkau merupakan perampok yang sesungguhnya.

Perampok jiwaku tanpa menyisakan secuilpun harapan.

Setidaknya diriku perlu bangkit.

Namun kali ini, senyummu menjerat kebangkitanku.

Kutatap pohon yang sedari tadi menaungiku dari derasnya tetesan air hujan.

Betapa tegarnya ia berdiri sepanjang hari tanpa ada yang memedulikannya sedikitpun.

Sama halnya dengan lampu jalanan itu, sorotnya yang tajam menerangi pengguna jalan dengan tulus.

Kini aku beranjak lalu berjalan secara perlahan dengan kesendirian.

Entah arah mana yang ingin kutuju.

Namun dalam lubuk hatiku berkata bahwa hanya engkau lah yang ingin kutuju saat ini dan seterusnya.

Sudahkah engkau ingat cita-citaku dulu, bahwa aku hanya ingin bersamamu sampai hari tua menikmati secangkir kopi dan sepiring pisang goreng buatanmu menjelang sore berlalu.

Ketahuilah bahwa cita-citaku masih sama dan akan tetap selalu sama.

Meski kemungkinan besar hal tersebut mustahil terjadi dalam dunia nyata, namun setidaknya hal itu masih ada dalam dunia mimpi, alam sadarku.

Kekasihku, takdir memisahkan kita dengan adil.

Engkau sudah bahagia dengannya.

Dan kebahagiaanmu saat ini sudah cukup menjadi bahagiaku juga.

Aku jujur, kasihku.

Meski hatiku masih ingin di isi olehmu.

Memang aku sendiri dan menyendiri.

Hampa oleh ruang dan waktu.

Tak perlu engkau khawatir denganku.

Karena setiap hembusan nafasku selalu menyebutmu.

Setiap detak jantungku selalu memanggilmu.

Dan setiap doa-doaku selalu menyertaimu.

Tak perlu engkau resah.

Karena aku sudah basah.

Terlanjur basah oleh kenangan kita berdua.

Kini, aku ingin berdamai meski tanpa ada hadirmu menjadi tulang rusukku.

Doakan aku.