Guru
2 tahun lalu · 184 view · 4 menit baca · Budaya revolusi-mental.jpg
Foto: google.com/search

Kejujuran, Kemampuan, dan Kemauan Kita

Ini adalah tentang kejujuran, sebuah pengakuan yang mudah-mudahan tidak dianggap sebagai “pembangkangan” terhadap pernyataan-pernyataan terdahulu yang senantiasa berkomitmen untuk berada di luar sistem, dan semoga pengakuan ini mendapat perhatian untuk diikutsertakan menjadi bagian dari sekian urusan mental bangsa ini yang belum terselesaikan.

Apa yang kita rasakan dan kita alami saat ini mungkin terasa berat bagi kita untuk mencoba memberanikan diri membuat sebuah pengakuan. Banyak pertimbangan yang menjadi penghalang bagi kita untuk berani jujur, terlebih jika menyangkut soal aib dan kelemahan kita. Ya “kita” dalam artian aku, kamu, dia dan mereka yang hidup dan mencari “penghidupan” di negeri yang kaya raya ini.

Sederhananya “kita” adalah bangsa Indonesia yang senasib sepenanggungan (meskipun kenyataannya tidak) dan selalu memperjuangkan apa yang menjadi hak, dan sedaya upaya selalu menghindari dan bahkan jika memungkinkan terbang di langit ketujuh ketika harus menunaikan kewajiban.

Membahas tentang hak dan kewajiban dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara adalah salah satu topik yang tidak pernah ada habisnya untuk dibicarakan. Bahkan jika terus diangkat di publik mungkin tidak kalah hangatnya dengan gonjang-ganjing menjelang Pemilu di Amerika Serikat serta hangatnya persoalan reklamasi pulau di Teluk Jakarta.

Bagaimana mungkin persoalan hak dan kewajiban ini dapat dianggap selesai jika masih banyak masyarakat di negeri ini yang belum menikmati nyamannya hidup dalam ketersediaan infrastruktur jalan, aliran listrik, rumah layak huni, air bersih sampai pada keluh kesah karena belum mendapatkan bantuan ini, bantuan itu dan lain sebagainya.

Belum lagi urusan yang lebih besar persoalan ekonomi, pendidikan, sosial, politik, semua akan sepakat untuk berteriak sekuat-kuatnya dengan terus berlindung pada tameng “demokrasi”, hanya untuk mengatakan bahwa mereka belum mendapatkan hak sebagaimana mestinya.

Ini adalah fakta yang terjadi, kesemerautan permasalahan yang jauh lebih pelik jika dibandingkan dengan kisah perjalanan cinta Zainudin dan Hayati yang dikisahkan dalam film Tenggelamnya Kapal Van der Wijck. Kita tidak tahu kapan permasalahan ini akan berakhir, dan bagaimana akhir dari permasalahan ini semua.

Sampai di sini mungkin banyak di antara pembaca termasuk saya yang setuju bahkan sangat berambisi untuk terus menerus melakukan protes guna menuntut hak-hak yang semestinya didapatkan. Sekalipun menuntut hak adalah suatu hal yang dibenarkan untuk terus diperjuangkan.

Tapi sebenarnya sadarkah kita bahwa urusan menuntut hak itu tidak akan pernah ada habisnya, karena nafsu manusia terhadap kebutuhan akan sesuatu sangatlah besar. Sehingga sampai pada akhirnya nafsu untuk mendapatkan hak mengakibatkan kita lupa akan kewajiban pada negara ini.

Terlepas dari perbuatan melawan hukum para oknum pejabat di negeri ini, di sisi lain kita  harus berani melakukan intropeksi diri sekaligus mengakui bahwa kita pada hari ini belum sepenuhnya melaksankan apa yang seharusnya kita tunaikan sebagai warga negara yang baik (good citizenship).

Mengutip doktrin nasionalisme Presiden Amerika Serikat ke-35 John F Kennedy yang mengatakan, “Ask not what your country can do for you, ask what you can do for your country,” (jangan tanyakan apa yang dapat negara lakukan untukmu, tetapi tanyakan apa yang dapat engkau lakukan untuk negaramu).

Pernyataan ini adalah sebuah tamparan hebat bagi bangsa kita yang selama ini selalu menghitung-hitung hak yang didapatkan dari negara sementara kita masih mencari celah untuk mengabaikan dalam menunaikan kewajiban bahkan enggan melakukan hal yang terbaik untuk negara ini.

Faktanya, mengapa kita terlalu berambisi untuk menuntut negara agar secepat mungkin menyelesaikan pemerataan pembangunan infrastruktur umum seperti akses jalan, pelabuhan, gedung pendidikan dan lain sebagainya, sementara kita masih “malu-malu” untuk menunaikan kewajiban membayar pajak.

Mengapa kita terlalu berambisi untuk meminta kepada negara agar segera mengatasi permasalahan kemacetan lalu lintas, sementara kita terlalu “bernafsu” untuk memiliki kendaraan pribadi yang jumlahnya lebih dari kebutuhan.

Mengapa kita teralu berambisi untuk menuntut negara harus menciptakan lingkungan yang nyaman, bersih dan bebas dari banjir, sementara kita masih berpura-pura “gila” dengan polosnya tanpa memiliki rasa bersalah rutin membuang sampah secara sembarangan.

Mengapa kita selalu berkeluh-kesah kepada negara karena dianggap tidak mampu mensejahterakan rakyatnya, sementara masih banyak di antara kita terlalu membanggakan budaya hidup konsumtif dan hedonisme. Terus terlena dengan fanatisme terhadap barang bermerk atau branded dari luar negeri sehingga kita enggan untuk melirik apalagi membeli produk-produk karya anak bangsa.

Lagi-lagi mengapa kita selalu berteriak bahwa negara tidak hadir saat perekonomian sedang sulit, tapi kenyataannya masih banyak diantara kita yang enggan untuk berbelanja kebutuhan di pasar tradsional dan warung-warung kecil yang seyogyanya dapat membantu perekonomian para pedagang kecil. Kita lebih bangga berbelanja di supermarket yang secara sadar kita tahu bahwa pemilik modalnya adalah mereka orang-orang yang ber-uang.

Ini adalah beberapa dari sekian permasalahan mental bangsa kita yang tanpa disadari telah berkontribusi menyebabkan Indonesia sampai detik di usia yang ke 71 tahun hanya mampu berada pada posisi negara berkembang. Kita sebenarnya mampu, namun kita belum mau melakukannya. Ironisnya kita masih saja disibukkan untuk terus menuntut hak, namun kita lupa bahwa kita harus menunaikan kewajiban.

Kita perlu sadar bahwa harus ada keseimbangan antara hak dan kewajiban. Kita dituntut untuk berani mengubah habitual action (kebiasaan) ini, sebelum ia semakin mendarah daging menjadi karakter yang tidak diharapkan terjadi pada generasi bangsa ini. Sesuai dengan apa yang disampaikan oleh Aa Gym, mulai lakukan dari hal yang kecil, mulai lakukan pada diri kita sendiri dan mulai lakukan saat sekarang.

Negara ini tak ubahnya sebuah komunitas, butuh kerjasama dan saling bergotong royong untuk mewujudkan apa yang telah dicita-citakan, saling berbagi ide dan gagasan untuk sebuah perubahan, saling mengingatkan dalam menegakkan kebenaran, terus bergandengan tangan dan bangkit dalam keterpurukan, dan yang terpenting adalah semua harus merasakan kebahagian ketika berada di puncak kemenangan.

Dirgahayu Republik Indonesia ke-71!